Bab Tujuh Puluh Sembilan: Kegiatan Kelompok Pertama (2)
Akhirnya semua anggota Sekte Taiyan pun ikut pergi. Lagi pula, jika hanya meninggalkan Meng Ying sendirian di penginapan, itu akan tampak seolah-olah mereka mengucilkannya. Di dalam Sekte Taiyan, Meng Ying sama seperti Gu Baiying; sangat memperhatikan makanan, pakaian, dan latihan, biasanya tidak akan menyentuh makanan manusia biasa. Malam ini ia ikut keluar, sudah merupakan suatu penghormatan besar.
Tentu saja, semua ini demi menghormati Gu Baiying.
Siang hari di Negeri Li’er panas membara, matahari menyala terik, awan menggulung di langit dan laut, para kultivator enggan keluar, lebih suka berdiam di dalam rumah yang telah diberi es untuk menyejukkan diri. Bila malam tiba, angin laut terasa sejuk, cahaya bulan cerah, pantai pun menjadi ramai.
Setiap pohon bakau dihiasi lentera mungil sebesar telapak tangan, kertas lentera berwarna biru tua, dari kejauhan tampak bagai deretan cahaya biru pekat yang mengalir. Sinar bulan membasahi pasir putih yang seputih salju, dari kejauhan ombak menerjang, suara air laut bergelora, menautkan malam dan hamparan samudra.
Di tepi pantai banyak pedagang kecil; ada yang seperti penjual sirup es di depan kasino siang hari, ada yang menjajakan buah-buahan, ada pula yang memasang tungku di perahu kecil yang bersandar di tepi laut. Beberapa orang memancing di tempat, ikan hasil tangkapan dipanggang hingga harum menggoda. Konon para kultivator juga boleh naik perahu memancing dan memanggang sendiri, satu jam dikenai lima puluh koin spiritual, mirip dengan konsep berpiknik di alam bebas.
Bagi yang tidak ingin repot, di sepanjang pantai berjejer warung makanan laut. Negeri Li’er terkenal dengan tiram dan kepiting bunga, tak perlu diolah rumit, cukup dikukus sudah sangat lezat. Angin laut membawa aroma harum yang menggoda hidung, membangkitkan selera. Mimi, begitu tiba di warung tiram panggang, langsung tak mau beranjak, menggesekkan tubuhnya ke kaki penjual sambil manja.
Pemilik warung melihat ke bawah dengan bingung, lalu menoleh ke sekitar, “Babi siapa yang lepas ini?”
Zanxing pun terdiam sejenak.
Ia lantas menggendong Mimi dan berkata pada yang lain, “Bagaimana kalau kita makan di sini saja?”
“Tentu saja!” Tian Fangfang melirik ke kejauhan, “Tapi rasanya bagaimana ya?”
“Jangan khawatir, para tuan muda,” jawab penjual dengan ramah, “Bukan bermaksud memuji diri sendiri, tiram dan kepiting bunga di Negeri Li’er ini memang tiada duanya, kalau tidak mencoba pasti menyesal. Di depan ada meja dan kursi, silakan duduk sebentar.”
Karena Gu Baiying yang menjadi tuan rumah, tidak ada alasan untuk berhemat. Tian Fangfang pun memesan dengan semangat, memilih tiram, kepiting bunga, dan beberapa ikan serta udang. Tak jauh dari warung berdiri tenda-tenda peneduh yang akan dibongkar begitu uji coba di dunia rahasia selesai. Hari-hari ini adalah musim paling ramai dalam setahun. Mereka duduk di meja, bahkan dihidangkan sepiring kecil melon madu, benar-benar mirip seperti warung makanan laut di dunia fana.
Bisa dibilang ini semacam acara kumpul kelompok? Pertama kali kumpul justru di warung seafood, tanpa bir rasanya kurang lengkap.
Zanxing mengusulkan, “Di sekitar sini ada yang jual arak nggak? Bagaimana kalau kita beli sedikit untuk diminum?”
“Aku setuju!” Tian Fangfang langsung menyahut, “Tadi aku merasa ada yang kurang, ternyata benar, kau memang mengerti, adik!”
“Tidak boleh.” Gu Baiying melirik tajam ke arah Zanxing, “Peraturan sekte, saat bepergian dilarang minum arak.”
“Masa itu juga nggak boleh?” Zanxing protes, “Sekte kita terlalu banyak aturan.”
“Tentu saja, sekte kita sekte terhormat, peraturannya memang ketat,” Men Dong menambahi, “Keluar sekte tak hanya tak boleh minum, juga tak boleh berjudi, tidak boleh seperti anggota Sekte Liuli atau Gerbang Chihua yang hobi ke kasino.”
Zanxing tertarik, “Ada aturan apa lagi?”
“Ada lagi…” Men Dong berpikir, lalu tiba-tiba berkata, “Dua kultivator juga tidak boleh berlatih bersama!”
Seketika suasana jadi hening.
Zanxing tertawa, “Adik, anak kecil yang suka bohong nanti hidungnya jadi panjang, tahu!”
“Aku tidak bohong!” Men Dong menatapnya serius, “Semua yang kukatakan benar.”
Zanxing tak begitu peduli. Kalau memang benar sekte melarang latihan bersama, dari mana datangnya delapan istri Mu Cengxiao? Melihat Zanxing masih tak percaya, Men Dong jadi cemas, menarik lengan baju Gu Baiying, “Kalau tak percaya tanya saja pada Paman Guru, benar begitu, Paman?”
Zanxing menoleh ke Gu Baiying, yang langsung berdeham pelan, “Benar, peraturan sekte memang melarang latihan bersama. Jadi, Yang Zanxing,” ia menatap Zanxing dengan makna tersirat, “Kau harus fokus sepenuhnya pada peningkatan kemampuan, jangan memikirkan hal-hal yang tidak semestinya!”
Zanxing melongo, “Aku? Apa yang kupikirkan? Kenapa urusan pribadi murid jadi diatur juga, Sekte Taiyan ini mau menegakkan aturan ‘tolak maksiat, judi, narkoba’ segala?”
Sementara itu, Meng Ying menatap Gu Baiying dengan tatapan penuh arti.
Tak lama kemudian, tiram panggang matang dihidangkan dalam nampan perak, daging tiram tampak sangat segar dan menggoda. Men Dong yang masih kecil dan rakus, tanpa pikir panjang langsung mengambil sumpit, baru teringat sesuatu, lalu diam-diam melirik Gu Baiying, berpura-pura serius berkata, “Tiram mentah baik untuk kesehatan, mengurangi rasa panas setelah minum arak, melembutkan kulit. Kulit tiram dapat melarutkan dahak, menenangkan panas, meredakan sakit di jantung dan limpa, bahkan mengobati penyakit perut. Sebentar lagi kita akan masuk dunia rahasia, mari makan tiram lebih banyak, sangat bermanfaat untuk kultivasi.”
Penjual yang menghidangkan makanan mendengar itu, tertawa, “Tuan muda benar-benar berwawasan luas, memang betul, tiram ini kalau dipadukan dengan sirup es rasanya luar biasa. Kalian bisa membeli sirup es di perahu depan, rasanya makin nikmat.”
Setelah penjual pergi, Tian Fangfang mengajak semuanya segera mengambil tiram selagi hangat, tak menyebut soal sirup es, toh harganya cukup mahal dan harus bayar sendiri, siapa juga yang mau.
Zanxing mencicipi sepotong, tiram ini diberi saus khusus, rasanya benar-benar segar, ada manis alami khas hasil laut. Setelah beberapa suapan, ia teringat sesuatu, lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku dan menyerahkannya pada Gu Baiying, “Oh iya, Paman Guru, ini punyamu.”
Itu adalah sebuah lonceng kecil berwarna hijau, tampak indah dan sangat halus. Gu Baiying tertegun, refleks meraba pinggangnya, seolah baru sadar ada barangnya yang hilang. Men Dong yang memperhatikan, sambil mulut penuh makanan, bertanya, “Kenapa Lonceng Pengikat Hati ada padamu?”
“Lonceng Pengikat Hati?” Zanxing bingung, “Tadi siang saat di kasino, Huang Fan dari Gerbang Chihua menyerangku diam-diam, waktu Paman Guru menyelamatkanku, lonceng ini jatuh. Aku ambil dan mau kukembalikan, tapi sempat lupa.”
Setelah Gu Baiying menerima lonceng hijau itu, Zanxing bertanya, “Ini memang lonceng? Kenapa tak mengeluarkan suara sama sekali?”
Saat diambil dan digoyang-goyangkan, lonceng itu tetap tak bersuara.
“Lonceng Pengikat Hati memang tidak akan berbunyi pada waktu biasa,” jawab Meng Ying, “Belum pernah ada yang mendengar lonceng itu bersuara.”
Tian Fangfang menengadah, “Kenapa?”
Saat itu juga, Gu Baiying tiba-tiba berdiri, semua terkejut, mendapati wajah pemuda itu tampak kurang senang. Mu Cengxiao bertanya, “Kenapa, Paman Guru?”
“Bukankah kalian ingin minum sirup es?” Ia berdiri, “Aku yang beli.” Selesai bicara, ia pun pergi menuju perahu di tepi pantai.
“Paman Guru tampaknya agak kesal, ya?” Tanya Tian Fangfang, “Ada apa dengannya?”
Meng Ying menghela napas, tak menjawab.
Zanxing menoleh padanya, “Kakak, tadi kau bilang belum pernah ada yang dengar lonceng itu berbunyi, maksudmu apa? Apa bedanya ‘waktu biasa’ dengan ‘tidak biasa’, memangnya kalau keadaan tak biasa, lonceng itu bisa berbunyi?”
“Tentu saja bisa,” Men Dong menyeka mulutnya yang berminyak, sambil Tian Fangfang membersihkan wajahnya dengan sapu tangan, “Tapi kita tidak akan pernah mendengarnya.”
Meng Ying menunduk, “Lonceng Pengikat Hati, aslinya milik Dewi Qinghua dari Sekte Taiyan.”
Dewi Qinghua dari Sekte Taiyan, sebagai murid langsung Orang Suci Gunung Yu, adik seperguruan dari Zhenren Shaoyang, pahlawan besar yang menumpas Raja Iblis dua puluh tahun silam, memang penuh legenda. Apalagi, ia juga seorang dewi rupawan dengan kecantikan tiada tara.
Sebelum Raja Iblis membawa bencana ke dunia, Dewi Qinghua sudah terkenal di dunia kultivasi berkat kecantikan dan kekuatannya. Semua orang berkata, kini di dunia kultivasi, Meng Ying adalah kecantikan langka yang hanya muncul seribu tahun sekali, namun jika dibandingkan dengan Dewi Qinghua, pesonanya tak sampai sepersepuluh saja.
Perempuan sehebat itu, yang ingin menjadi pasangan hidupnya tak terhitung jumlahnya. Para pemuda berbakat dari berbagai sekte hampir merubuhkan gerbang Sekte Taiyan demi melamarnya. Namun sang dewi tak peduli urusan cinta, hanya fokus pada jalan abadi, berharap segera naik ke alam keabadian.
Di antara sekian banyak pemuda, ada juga yang terlalu percaya diri, menyangka sang dewi bersikap dingin hanya pura-pura menolak. Salah satu dari mereka, setelah ditolak berulang kali, malah menghadiahkan lonceng hijau pada Dewi Qinghua, lonceng itulah Lonceng Pengikat Hati.
Lonceng Pengikat Hati adalah artefak spiritual kelas tertinggi, sekali mengikat perjanjian, pemiliknya hanya satu. Lonceng ini tak akan berbunyi di waktu biasa, hanya saat pemiliknya bertemu orang yang ia cintai dan hatinya bergetar, barulah lonceng itu mengeluarkan suara.
“Apa-apaan ini,” Zanxing melongo, “Alat deteksi jatuh cinta? Canggih juga.”
Meng Ying menggeleng, “Niat pemuda itu, ia yakin Dewi Qinghua pasti diam-diam menyukainya, jadi ingin memaksanya mengakui perasaan di depan umum. Hasilnya...”
Semua tahu akhirnya bagaimana. Gagal total.
Namun sejak saat itu, Lonceng Pengikat Hati justru jadi alat ujian ketulusan hati sang dewi. Tak terhitung pemuda berbakat menumpahkan kata cinta di hadapannya, mengucap sumpah, menunjuk langit dan bumi, namun Dewi Qinghua hanya menatap dingin, dan lonceng di pinggangnya tetap diam seribu bahasa.
Semuanya gagal total.
“Lonceng Pengikat Hati hanya berbunyi saat jatuh cinta,” Mu Cengxiao bertanya heran, “Kalau begitu, saat Dewi Qinghua bertemu ayah kandung Paman Guru Ketujuh, lonceng itu pasti pernah berbunyi?”
“Mungkin saja,” jawab Meng Ying pelan, “Tapi selain Dewi Qinghua sendiri, tak ada yang tahu siapa ayah kandung Paman Guru Ketujuh, jadi hingga kini belum pernah ada yang mendengar suara lonceng itu.”
“Lalu bagaimana bisa Lonceng Pengikat Hati ada pada Paman Guru?” tanya Zanxing.
“Sebelum Dewi Qinghua menghilang, ia meninggalkan Lonceng Pengikat Hati dan menghapus perjanjiannya, mungkin memang sengaja diwariskan untuk Paman Guru Ketujuh. Setelah itu, kepala sekte menyerahkan lonceng itu pada beliau, dan memintanya membuat perjanjian baru. Jika suatu saat nanti Paman Guru Ketujuh jatuh cinta, saat itulah kita mungkin akan mendengar suara Lonceng Pengikat Hati.” jelas Meng Ying.
Men Dong mengusap mulutnya, “Ah sudahlah, Paman Guru kita secakap itu, kalau sampai ia jatuh cinta pasti pada seorang dewi. Kurasa, sama seperti Dewi Qinghua, seumur hidup kita takkan pernah mendengar suara lonceng itu.”
------Catatan------
Men Dong: Mungkin seumur hidup kita takkan pernah tahu seperti apa suara lonceng itu.
Lonceng Pengikat Hati: Ziiiii wa ziii wa ziii wa——