Bab Seratus Empat Puluh Lima: Di tengah sanubari semua orang, kepulangan yang begitu megah dan memukau!
Saat ini, karena orang-orang yang menyerang klan Hetian memusatkan perhatian mereka ke arah aula makhluk penjaga, hanya tiga orang yang melihat Hetian Dou berjalan keluar dari sela-sela kilatan api yang remang-remang.
Di mata mereka yang bertugas sebagai penjaga, Hetian Dou adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan ekspresi dingin di wajahnya. Ia menggenggam pisau kecil berwarna perak, dan seluruh pakaiannya bersimbah darah. Justru penampilan berlumuran darah inilah yang membuat ketiga orang tersebut salah mengira pakaiannya berwarna merah, dengan kataan lain, mereka salah mengenalinya sebagai anggota klan Lihuo.
Setelah pikiran mereka dengan mudah membuat kesimpulan tersebut, mereka melonggarkan kewaspadaan dan menoleh. Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa menjalar di tenggorokan mereka. Mereka merasa ketakutan, tercekik, dan dengan panik menutupinya dengan tangan mereka yang gemetar, namun darah segar tetap memancar deras dari sela-sela jemari tangan mereka.
Tenggorokan mereka tertusuk tembus, pita suara mereka secara alami rusak, membuat mereka tidak mampu bersuara.
Begitu saja, Hetian Dou menghabisi orang-orang tersebut dan secara diam-diam memberi isyarat kepada para makhluk buas peliharaannya untuk bersiap melancarkan kemampuan serangan area luas.
Saat ini, situasi pertempuran antara klan Hetian dan tiga kekuatan aliansi ibarat gunung berapi yang hendak meletus; atmosfer di udara dipenuhi dengan bau belerang yang pekat. Sementara itu, Hetian Dou bagaikan sebilah pisau tajam yang menghujam ke garis belakang ketiga kekuatan tersebut dengan kejam, menyilaukan mata, serta mematikan. Formasi Pedang Berputar Kaisar Naga Ukiran, serangan ultrasonik dari Prajurit Semak, Naga Api Naik ke Langit milik Binatang Api Merah, serta Pencabutan Nyawa dari Bunga Matahari. Semuanya telah siap siaga, hanya menunggu perintah dari Hetian Dou. "Serang!" Melihat mereka telah siap, mata Hetian Dou sedikit menyipit, lalu ia melambaikan tangannya dengan kuat.
Seketika itu juga, serangan dalam jumlah besar yang mengerikan bagaikan badai hujan turun dari langit.
Dua detik sebelum serangan itu menghantam, di antara kelompok tiga kekuatan yang mengepung aula makhluk penjaga, seseorang merasakan ada sesuatu yang janggal. Pada detik itu, tanpa alasan yang jelas, ia merasakan embusan angin dingin menerpa tengkuknya. Angin dingin tersebut bahkan bercampur dengan aura kehancuran kematian yang semakin lama semakin pekat... Ini adalah firasat bahaya yang tidak dapat dijelaskan. Firasat itu membuatnya menoleh dengan ekspresi penuh tanya, namun semua sudah terlambat. Yang terpatri di dalam retinanya adalah hamparan pedang perak dan kilatan api yang memenuhi langit. *Bang, bang, bang!*—ini adalah suara hantaman bulu-bulu dari Kaisar Naga Ukiran yang menancap satu per satu ke tengah kerumunan atau menghujam ke tanah. *Argh!*—ini adalah serangan ultrasonik dari Prajurit Semak. Pada saat yang bersamaan, terdengar pula berbagai macam jeritan kesakitan manusia menjelang ajal. Namun, jeritan mereka saat ini tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan ratapan pilu hewan yang sekarat.
Bagaikan gempa bumi, seluruh daratan bergetar hebat di bawah terjangan serangan yang menutupi langit tersebut.
Bagaikan amukan angin topana, puluhan orang yang berada di lokasi terlempar ke udara tinggi bagaikan boneka kain yang hancur berkeping-keping.
Banyak pula orang yang tubuhnya langsung dilalap oleh kobaran api, mengeluarkan jeritan kesakitan yang teramat sangat.
Lima detik, serangan-serangan itu berlangsung selama lima detik.
Setelah lima detik berlalu, jumlah orang dari ketiga kekuatan tersebut merosot drastis sebanyak tiga puluh hingga empat puluh orang, menyisakan tujuh puluh tujuh orang saja.
Apakah daya bunuh ini terlalu berlebihan? Tidak sama sekali! Jika terjadi dalam situasi lain, makhluk buas peliharaan Hetian Dou sama sekali tidak akan mampu membunuh tiga puluh hingga empat puluh orang dalam sekejap. Namun, siapa suruh posisi mereka berdiri begitu padat? Begitu serangan tiba, tidak ada cukup ruang untuk menghindar, dan tidak ada jalan untuk melarikan diri! Serangan ini datang terlalu cepat dan terlalu ganas... Setelah lolos dari serangan mendadak tersebut, para anggota dari tiga kekuatan yang selamat mau tidak mau merasakan kelegaan karena lolos dari maut serta rasa takut yang mendalam.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang klan Hetian? Mereka tertegun dalam ketidakpercayaan, sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di hadapan mereka.
Mungkinkah bala bantuan? Seseorang sempat berpikir demikian, namun ia segera tersenyum pahit sambil menggelengkan kepala dalam hati. Bagaimana mungkin klan Hetian memiliki bala bantuan? Sekalipun ada bala bantuan, mustahil mereka bisa tiba secepat ini!
Hingga akhirnya debu dan asap mengepul buyar, sosok sesosok makhluk buas dengan penampilan luar biasa keren muncul di pandangan semua orang—Kaisar Naga Ukiran.
Sementara itu, Hetian Dou, setelah berhasil memberikan serangan telak tanpa peringatan, telah menarik kembali makhluk-makhluk buas lainnya, lalu berputar arah menuju ke aula makhluk penjaga.
Mengapa ia tidak menarik kembali Kaisar Naga Ukiran? Karena itu bukan makhluk buas miliknya, ia juga tidak berdaya untuk melakukannya.
Mengapa tidak melanjutkan pertarungan? Hetian Dou tidaklah bodoh. Sekelompok orang ini adalah para petua elit dari tiga kekuatan tersebut. Jika mereka sudah meningkatkan kewaspadaan, maka jika Hetian Dou terus bertahan, ia hanya akan menjerumuskan dirinya ke dalam pertempuran putus asa. Tidakkah kalian lihat bahwa pada saat ini, ketiga kekuatan tersebut telah mengepung Kaisar Naga Ukiran dengan ekspresi wajah yang drastis berubah?
"Apakah makhluk buas di hadapan kita ini adalah bala bantuan mereka?" Sambil menatap makhluk buas yang tiba-tiba muncul dan mengakibatkan puluhan korban di pihak musuh, orang-orang klan Hetian sebagian besar berpikir dengan kebingungan, "Sayang sekali, jumlah bala bantuan ini, uh, bukankah terlalu sedikit?"
Namun detik berikutnya, semangat mereka bangkit dengan hebat, dan mata mereka memancarkan kegirangan yang liar, karena entah siapa dari pihak tiga keluarga besar di depan yang tiba-tiba berseru kaget: "Binatang Buas Tingkat Takdir!"
Binatang Buas Tingkat Takdir! Itu adalah makhluk buas kuat yang berada di level yang sama dengan makhluk penjaga agung klan mereka sendiri. Bisa dibilang, selama makhluk itu benar-benar bala bantuan pihak mereka sendiri, maka jangankan memenangkan pertempuran ini, setidaknya kepunahan klan mereka dapat dihindari.
"Oh—" Entah siapa yang mulai bersorak gembira. Menyusul kemudian, sekelompok besar orang turut bersemangat hingga ke puncaknya. Jika melihat para prajurit klan Hetian, keputusasaan di mata mereka telah lenyap, digantikan oleh kobaran semangat juang yang membara.
Melihat kembali rupa kecil Zibao yang begitu menggemaskan, emosi dingin dan kejam di lubuk hati Hetian Dou perlahan-lahan mencair, dan seulas senyum tanpa sadar terukir di sudut bibirnya.
Wajahnya tampak agak pucat, rupanya karena ketakutan. Pakaiannya sedikit kotor, menandakan bahwa sebelum tiba di tempat ini, ia pasti telah mengalami sedikit penderitaan. Terhadap gadis periang yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri ini, serta penyemangat hidup yang selalu mendukungnya di saat-saat paling sulit, Hetian Dou merasa sangat iba sekaligus marah begitu melihat kondisinya—sialan kalian semua!
Mungkin karena ada ikatan batin yang tak dapat dijelaskan, saat Hetian Dou memutar sudut bangunan dan muncul di aula makhluk penjaga, Zibao adalah orang pertama yang menyadari keberadaannya.
"Kakak Tian Dou..."
Ketakutan di dalam mata besar gadis yang indah itu seketika lenyap, digantikan oleh keterkejutan yang teramat sangat. Seolah-olah matanya yang tadinya bagai mati kini hidup kembali, bersinar terang dan memukau.
Ia dengan tegas melepaskan pegangan tangan bibinya, lalu melompat kegirangan bagaikan seekor kelinci yang riang gembira. Setelah itu, bagai kilatan angin, dengan perasaan sangat emosional dan tanpa ragu-ragu, ia menerjang ke dalam pelukan Hetian Dou.
Kali ini, Hetian Dou tidak sengaja menghindar, melainkan menyambut dan memeluk gadis kecil itu dengan perasaan lega.
Rasa iba yang teramat dalam muncul di matanya. Sambil merasakan tubuh Zibao yang masih gemetar dan isak tangis yang mulai terdengar, Hetian Dou memeluknya erat sembari mengelus kepalanya.
"Ada apa? Apakah kamu ditindas? Anak baik, jangan menangis, beritahu aku siapa pelakunya, aku akan membalaskan dendammu!" Bisik Hetian Dou dengan lembut di dekat telinganya, memperlakukannya persis seperti membujuk seorang anak kecil.
Menghirup aroma alami yang terpancar dari tubuh Hetian Dou, Zibao merasakan segala ketakutan dan kekhawatiran di dalam hatinya lenyap dalam sekejap mata.
Hal yang paling ia sukai adalah aroma tubuh Hetian Dou. Setiap kali mendekapnya, Zibao selalu merasa seolah-olah ia sedang berada di alam bebas, tanpa beban dan tanpa ikatan apa pun. Perasaan yang telah dirindukannya selama beberapa bulan terakhir ini akhirnya dapat ia rasakan kembali. Pada saat ini, ia merasa dirinya adalah orang paling bahagia di dunia.
"Tian Dou..."
"Apakah itu Tian Dou?"
"Apakah mataku salah lihat? Kenapa dia tiba-tiba muncul di sini?"
"Beraninya dia kembali?"
"Duh... datang di saat yang sama sekali tidak tepat, sungguh disayangkan..."
"Kenapa anak ini malah kembali pada saat seperti ini?"
Mendengar seruan manja Zibao, orang-orang yang berada di dalam aula makhluk penjaga semuanya turut menyadari kehadiran Hetian Dou. Seketika itu pula, terjadi sedikit keributan; mereka menunjukkan berbagai macam ekspresi dan ucapan. Sebagian berwajah murka. Sebagian lainnya merasa tidak masuk akal. Hanya segelintir orang yang merasa iba, berpikir bahwa Hetian Dou datang tidak lebih cepat atau lebih lambat, melainkan memilih kembali untuk mencari kematian tepat pada saat genting ini.
"Bao!" Bibi Zibao adalah orang pertama yang berlari keluar dengan wajah dipenuhi amarah. Dengan penuh kejengkelan dan kepanikan, ia hendak menarik Zibao lepas dari pelukan Hetian Dou.
Satu tangannya menarik Zibao, sementara tangan lainnya mendorong ke arah dada Hetian Dou. Namun, Hetian Dou tersenyum pahit lalu mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.
Tangan kanannya dicengkeram, membuat wanita itu semakin murka: "Keparat, lepaskan!"
Bukannya Hetian Dou tidak mau melepaskan Zibao, hanya saja ia merasa risih dengan sikap angkuh dan memerintah wanita itu. Oleh karena itu, selang beberapa detik kemudian, ia pun melepaskannya.
Berkat itu, sang bibi berhasil menarik kembali Zibao, lalu melotot tajam kepada Hetian Dou: "Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan kembali untuk mencari mati saat ini! Tapi kumohon, saat kamu ingin mati, jangan seret Bao bersama-sama!"
Sudut bibir Hetian Dou sedikit terangkat. Dengan santai dan tenang, ia mengangkat bahu tanpa berkata apa-apa, seolah-olah tidak peduli dengan apa yang diucapkan wanita itu. Tentu saja, semua ini ia lakukan semata-mata demi menghargai status wanita itu sebagai bibi Zibao. Jika bukan karena itu, entah sudah sejak lama Hetian Dou menampar wajah wanita berwajah dingin dan sombong luar biasa tersebut hingga terpental.
Hal itu membuat amarah sang bibi yang tadinya sempat mereda kembali membara. Namun, sebelum sempat ia berkata apa-apa, seseorang telah lebih dulu melangkah maju seraya meraung buas ke arah Hetian Dou: "Kau keparat, si pembunuh berdarah dingin, masih berani kau kembali? Kali ini, aku ingin nyawamu sebagai gantinya! Para tetua, kepala klan, dialah yang membunuh Yaoyang! Bukan cuma membunuh Yaoyang, dia bahkan melumpuhkanku..."
Orang ini adalah He Yahui. Saat melihat Hetian Dou, api kemurkaan di dalam matanya seolah membakar dirinya sendiri menjadi abu. Kebencian yang teramat pekat terpancar dari seluruh tubuhnya. Bisa dibilang, Hetian Dou adalah pelaku utama yang membuat kehidupannya menderita selama beberapa bulan terakhir ini. Jika bukan karena pemuda itu, ia tidak akan harus berbaring di tempat tidur selama sebulan penuh, dan jika bukan karena pemuda itu pula, ia tidak akan dicap sebagai orang cacat. Bisa dikatakan, kebenciannya terhadap Hetian Dou jauh lebih tinggi daripada langit dan jauh lebih dalam daripada lautan.
Melihat kemunculan He Yahui, Hetian Dou sempat merasa sedikit terkejut; ia jelas tidak menyangka kecacatan pria ini ternyata masih bisa disembuhkan.
"Kenapa, kecacatanmu sudah disembuhkan? Jika kamu sangat ingin kembali menjadi orang cacat, maka aku dengan senang hati akan membantumu sekali lagi!" Setelah He Yahui selesai meraung, barulah Hetian Dou berkata dengan nada dingin, sementara kedua matanya memancarkan kilat dingin setajam pedang.
Seketika itu juga, He Yahui ciut ketakutan oleh tatapan itu. Wajahnya memucat seketika, dan ia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tian Dou..."
Melihat niat membunuh terus terpancar di mata Hetian Dou dan ia hendak melangkah maju, He Tianlong entah dari mana muncul dan langsung menghalangi di depan Hetian Dou.
"Terlepas dari apakah dulu kamulah yang membunuh He Yaoyang atau bukan, sekarang musuh ada di hadapan kita, bagaimana bisa kita..." ucap He Tianlong dengan nada serius. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Hetian Dou langsung menyela: "Benar, apa yang dia katakan memang benar, akulah yang membunuh He Yaoyang!"
*Berdengung*—
Begitu mendengar pengakuan tersebut, seluruh anggota klan Hetian langsung gempar.
Kendati demikian, Hetian Dou sama sekali tidak peduli dengan pemikiran mereka. Ia hanya berdiri dengan angkuh di sana, menyapukan pandangan dinginnya ke sekeliling orang-orang tersebut.
He Tianlong tertegun. Niat awalnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa musuh sedang berada di depan mata, jadi jangan membuat kekacauan internal. Namun, Hetian Dou justru tiba-tiba mengakui kebenarannya secara terus terang. Sontak ia merasa kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ia hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah He Tianzheng, sang kepala klan.
"Meskipun aku membunuhnya, saat itu aku hanya terpaksa membela diri. Dialah yang terlebih dahulu menyerangku," lanjut Hetian Dou. Untuk menghindari agar orang-orang tidak mengira dirinya takut, ia menambahkan kalimat di akhir: "Siapa pun yang berniat membunuhnya, maka ia harus mati!"
"Lancang!" bentak He Tianzheng dengan marah. "Bagaimanapun juga, dia adalah anggota klan yang memiliki darah yang sama denganmu. Siapa yang memberimu hak untuk membunuhnya secara sembarangan!"
Hetian Dou mencibir dingin dan bersiap untuk membalas perkataannya, namun pada saat itu, tiba-tiba seseorang dari pihak aliansi kekuatan tiga keluarga besar menoleh dengan ekspresi terkejut dan berseru: "Kau adalah Hetian Dou?" Setelah itu, ia tertawa terbahak-bahak, tampak begitu gembira dan penuh kemenangan: "Bagus sekali, ada jalan ke surga kau tidak mau lewat, neraka..."
Namun, sebelum kalimatnya selesai, suaranya terhenti mendadak secara kaku, seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya tanpa ampun.
Pasalnya pada saat itu, di bawah tatapan semua orang, Hetian Dou secara tak terduga meniupkan sebuah peluit.
Apa yang sedang ia lakukan? Orang-orang dari ketiga keluarga besar tersebut merasa sangat kebingungan, menganggap perilakunya sangat konyol. Namun, detik berikutnya, mereka terperangah hingga tercengang. Mereka melihat makhluk buas Tingkat Takdir yang sedari tadi mereka siagakan bagaikan menghadapi musuh besar, justru terbang mendekati sisi Hetian Dou, menundukkan kepalanya, dan dengan patuh menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki pemuda itu.
"Binatang buas Tingkat Takdir itu adalah miliknya!"
Seketika itu juga, pemikiran tersebut menghantam benak mereka bagaikan ribuan sambaran petir, memicu gelombang raksasa yang menggelegar di dalam kepala mereka...