Bab Empat Puluh Satu: Cara Penggunaan yang Sebenarnya
Setelah membaca, He Tiandou langsung melemparkannya ke samping dan mulai berlatih sendiri. Selama beberapa hari, ia menyadari bahwa bahkan tanpa berlatih pun, tingkat kekuatannya terus meningkat dengan sendirinya. Beberapa hari terakhir ini, meskipun ia sibuk di istana, ia sudah mencapai setengah langkah menuju tingkat keenam. Namun, jiwa Penguasa Binatang itu justru mengecil hampir separuh, membuat He Tiandou merasa aneh.
Setelah berlatih satu hari lagi, pada malam harinya, entah kenapa ia tiba-tiba tergerak untuk memanggil semua binatang tempurnya. Pertama, muncullah Cabe Api yang baru saja tumbuh secara alami. Dengan memiliki Cabe Api ini, rasanya seperti selalu membawa granat ke mana pun ia pergi. Melihatnya, He Tiandou merasa sangat puas.
Lalu, ia memanggil Bunga Matahari. Melihat kondisinya yang kembali seperti kayu kering, He Tiandou merasa sedikit pusing. Jujur saja, Bunga Matahari ini benar-benar misterius. Hampir separuh dari kejadian aneh yang dialaminya bersumber dari ulahnya, juga dari batang pohon misterius yang melekat padanya.
Teringat ucapan Kakek Hua dari Serikat Petarung yang mengatakan bahwa bunga itu sangat hebat, He Tiandou berniat akan mencobanya lagi jika ada kesempatan. Akan lebih baik lagi jika bertanding dengan seseorang yang tidak mengenal dirinya.
Selanjutnya, ia memanggil Binatang Api Merah. Dalam ingatannya, sebelum ini, Binatang Api Merah tampak sangat lusuh dan jelek. Namun, kali ini, setelah dipanggil keluar, ia tertegun.
Binatang Api Merah itu ternyata sudah berubah bentuk. Dulu, bulunya banyak yang rontok, bahkan mirip seperti monyet botak, tapi kini, bulunya telah tumbuh lebat berwarna merah menyala di seluruh tubuhnya.
Seluruh tubuhnya merah seperti nyala api yang membara. Pada saat yang sama, ia juga memiliki kekuatan baru. Menyadari adanya kekuatan itu, He Tiandou meraih dan mencabut daun merah di kepalanya, benar-benar mencabutnya.
Seketika, api merah menyala hebat dari seluruh tubuh Binatang Api Merah itu, menyala besar seperti kobaran api yang membesar. Api itu berwarna merah, dan dalam hitungan detik, warnanya berubah menjadi merah darah, lalu ke merah tua, semakin gelap.
Suhu di dalam kamar tiba-tiba melonjak puluhan derajat. Terlihat betapa panasnya api itu, hanya dalam waktu singkat He Tiandou sudah berkeringat deras, bahkan beberapa barang di dalam kamar mulai hangus dan meleleh. Ia buru-buru menaruh kembali daun merah itu ke kepala Binatang Api Merah.
Dalam sekejap, daun merah tersebut sudah kembali menempel di puncak kepalanya. Rasanya seperti daun merah itu adalah segel, dan setelah segel dicabut, wujud aslinya langsung terlihat.
“Nampaknya, guru Wang Xiaocao memang tidak berbohong. Binatang tempur ini jelas bukan binatang biasa!” He Tiandou takjub dalam hati, teringat pada kejadian ketika Wang Xiaocao hendak menjual binatang ini. Jika pemilik toko penjual binatang tempur tahu wujud aslinya, mungkin ia akan menyesal sampai memuntahkan darah!
Sungguh keberuntungan baginya. “Aku benar-benar beruntung. Datang ke dunia ini, pertama dapat Rahasia Jiwa, sekarang mendapat binatang tempur yang begitu kuat! Haha…” He Tiandou tertawa bahagia.
Dulu, ia tidak berani menampilkan Bunga Matahari karena tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kemampuannya yang luar biasa, takut menjadi incaran. Tapi sekarang, ia tidak perlu khawatir lagi. Setidaknya, ia sudah punya binatang tempur yang pantas dipamerkan.
“Aku benar-benar ingin berbagi kebahagiaan ini dengan Kakek. Jika beliau tahu, pasti sangat senang!” Entah kenapa, He Tiandou jadi teringat pada kakeknya yang berambut putih dan selalu mengkhawatirkan dirinya.
Setelah menunda beberapa saat, ia kembali berlatih. Tapi tak disangkanya, saat ia mulai berlatih, Bunga Matahari dan Binatang Api Merah malah ikut-ikutan menyerap jiwa Penguasa Binatang.
Hari itu pun berlalu begitu saja.
Keesokan harinya, setelah sarapan, ia menyadari koin emasnya benar-benar hampir habis, terpaksa ia pergi ke Serikat Petarung.
“Kira-kira berapa banyak hadiah emas yang akan kudapat ya~” Dalam perjalanan, He Tiandou tidak bisa menahan diri untuk berpikir.
Biasanya, pagi-pagi sekali Serikat Petarung tidak ramai. Para petarung, selain mendapat tugas, hidup mereka hanya untuk bersenang-senang, mana mungkin bangun pagi. Namun hari ini berbeda, pagi-pagi sekali Serikat Petarung sudah dipenuhi orang-orang.
“Eh, bro, kenapa kau datang pagi-pagi begini? Jarang-jarang lho!”
“Aduh, jangan tanya. Pagi-pagi aku sudah dibangunkan adikku. Sebenarnya, kalau lagi nggak dapat tugas, siapa pun yang berani membangunkanku, pasti kutampar sampai terbang. Tapi dengar hari ini ada kejadian besar di Serikat Petarung, aku langsung bangun dan lari ke sini.”
“Kejadian apa? Aku juga heran, kenapa hari ini ramai sekali. Kukira mereka semua sudah punya kebiasaan bangun pagi seperti aku~”
“Omong kosong, mana ada kebiasaan baik. Mereka semua datang untuk melihat seseorang.”
“Siapa?”
“Kau nggak tahu? Tugas maut Serikat Petarung kita sudah berhasil diselesaikan! Itu tugas yang sudah membuat sembilan orang tewas, tapi sekarang diselesaikan oleh seorang petarung pemula, dan dia masih hidup! Jadi, karena penasaran, kita semua datang ingin melihat, apakah orang itu berkepala tiga berlengan enam, kok bisa menyelesaikan tugas segila itu.”
“Masa? Hahaha, kau suka bercanda. Kudengar dari sembilan orang yang tewas di tugas itu, ada Petarung Kelas A. Petarung Kelas A saja mati, masa pemula bisa menyelesaikan?”
“Canda? Apa aku kelihatan suka bercanda? Lihat saja orang sebanyak ini. Kudengar, demi memberi penghargaan, Serikat Petarung kita bahkan akan memberinya medali Petarung Kelas A~ Lihat kejadian aneh kemarin, itu juga ulahnya!”
“Pemandangan seperti ratusan burung terbang itu, dia yang buat?”
“Haha… ya benar. Saat melihat pelangi itu, kita semua melongo seperti orang bodoh, tak percaya.”
“Tapi setahuku, Serikat Petarung belum pernah ada kasus begini. Petarung pemula langsung jadi Kelas A.”
“Tak percaya, mari bertaruh seribu koin emas!”
“Kita lihat saja nanti~”
Di dalam Serikat Petarung, orang-orang berkumpul dalam kelompok, berbincang ramai. Yang pernah melihat He Tiandou, menceritakan kejadian hari itu dengan bersemangat. Ada juga yang asyik membahas pemandangan aneh kemarin dengan ekspresi penuh gairah.
Sementara yang belum pernah melihat He Tiandou, mereka sangat penasaran dan menanti kedatangannya. Tentu saja, selain yang penasaran dan semangat, ada juga yang cemas dan gelisah. Salah satunya adalah wanita pirang montok di balik meja.
Hari itu, ia pernah mempermalukan dan meremehkan He Tiandou. Ia benar-benar takut He Tiandou akan melapor pada pimpinan Serikat Petarung, kalau itu terjadi, ia bisa kehilangan pekerjaan yang gajinya besar dan ringan ini.
“Itu dia!”
Tiba-tiba seseorang berteriak.
Semua orang menoleh ke pintu, terlihat seorang pemuda berambut hitam, berbaju putih dan celana hitam, melangkah masuk ke Serikat Petarung.
“Kenapa hari ini ramai sekali ya?” Melihat banyaknya orang di dalam, He Tiandou mengerutkan kening, tapi tetap melangkah masuk.
Saat ia melangkah masuk, seluruh aula Serikat Petarung mendadak sunyi. He Tiandou menatap sekeliling, merasa heran, tapi ia malas mencari tahu penyebabnya. Ia langsung menuju lantai empat lewat jalan yang sengaja dikosongkan orang.
“Kakek Hua… Kakek Hua!”
Begitu sampai di lantai empat, ia langsung berteriak memanggil.
Brak!
Sebuah pintu kamar terbuka, Kakek Hua keluar dan langsung memeluknya erat.
“Anak muda, kau kaya raya sekarang!” Suara Kakek Hua begitu bergetar karena saking gembiranya, sampai bicara pun tidak jelas, “Kaya raya, hahaha…”
“Kaya raya?” He Tiandou mendorongnya, dalam hati berpikir, apakah hadiah tugas itu benar-benar luar biasa sampai Kakek Hua bilang ia kaya raya?
Memikirkan itu, He Tiandou tersenyum lebar.
“Benar, pasti akan ada hadiah benda berharga, kan? Asal jangan seperti buku rongsokan pemberian raja itu saja!”
“Apakah setelah menyelesaikan tugas, hadiah yang diberikan sangat besar?” tanya He Tiandou sambil menggosok-gosok tangannya.
“Ya, sangat besar! Sudah menimbulkan kehebohan, tentu hadiahnya besar!”
“Cepat keluarkan!”
“Bukankah sudah kau terima?”
“Apa yang kuterima?” He Tiandou mulai kesal. Ia datang khusus untuk mengambil hadiah, tapi Kakek Hua bilang hadiahnya sudah diambil, ini apa-apaan! Jangan-jangan ada yang mengambilnya atas namanya?
“Buku itu!” kata Kakek Hua.
He Tiandou langsung tertegun di tempat, mulutnya terbuka lebar.
Hadiah tambahan dari raja itu sama sekali tak dianggap penting oleh He Tiandou. Wajar saja kalau kini ia terlihat sedikit marah saat Kakek Hua menyebut buku itu sebagai benda berharga.
Mana mungkin itu benda berharga, paling banter cuma barang “kelihatannya hebat padahal tidak jelas”.
Sepertinya Kakek Hua bisa membaca pikirannya. Ia pun tertawa, “Kau pasti menganggap itu sampah, ya?”
He Tiandou mengangguk, agak kesal, “Ya! Bukankah itu memang sampah? Buku itu sudah berpindah tangan ke banyak orang sejak raja-raja sebelumnya di Kerajaan Yanwu, tapi tak ada satu pun yang berhasil membuat pil darinya.”
“Jangan emosi.” Kakek Hua tersenyum melanjutkan, “Dengarkan penjelasanku.”
“Katakan!” He Tiandou ingin tahu alasan Kakek Hua menganggap buku itu berharga.
“Tahu apa pekerjaanku di Serikat Petarung?”
“Penatua! Katanya kau menguasai semua data Serikat Petarung.” He Tiandou menjawab sambil menebak-nebak apa maksud Kakek Hua.
“Haha, benar! Bagi orang lain, mungkin buku itu cuma sampah. Tapi aku siapa? Aku menguasai data ribuan tahun Serikat Petarung, masa aku tidak tahu asal-usul buku itu?”
Ternyata buku itu punya asal usul?
He Tiandou tampak ragu, menatap Kakek Hua, menunggu ia melanjutkan.
“Dulu, pencipta buku itu adalah Dewa Pil generasi pertama, penguasa benua Tianqi. Sayangnya, setelah ia menghilang dari benua, buku itu pun hilang selama ratusan tahun, sampai akhirnya ditemukan oleh tiga raja terdahulu Kerajaan Yanwu. Sekarang, aku akan memberitahumu sebuah rahasia, jangan sebarkan!” Ucap Kakek Hua, berhenti sejenak, lalu menoleh ke kiri dan kanan dengan gaya misterius.
Setelah memastikan tak ada orang, ia melanjutkan, “Beberapa ratus tahun lalu, Ketua Serikat Petarung pernah memerintahkan bawahannya untuk mencari buku ini dengan alasan mencari kitab kuno! Setelah ia meninggal, perintah itu hanya tercatat saja, tak ada yang tahu. Kebetulan, aku mendapat buku catatan harian yang ia tinggalkan di Serikat Petarung. Dari situlah aku tahu rahasia buku ini, juga cara penggunaannya yang sebenarnya.”
“Cara penggunaan? Maksudnya apa?”
“Langsung saja, sebagian isi buku itu palsu! Bukan, bukan palsu, tapi ada yang benar dan ada yang salah! Pokoknya, menurut catatan ketua itu, kalau ingin membuat buku itu menjadi benda berharga, harus melalui satu proses: teteskan darah untuk mengakuinya sebagai tuan!”
“Tetes darah untuk mengakui tuan?” He Tiandou tertawa getir, dalam hati merasa, hal konyol seperti ini pun ada?
“Ya, kau bawa bukunya?” tanya Kakek Hua dengan serius.
“Ada!” jawab He Tiandou, lalu mengambil buku “Kitab Dewa Pencipta Pil” dari belakang punggungnya. Karena takut hotelnya dibobol pencuri lagi, ia sengaja membawa buku itu, bahkan tanpa menyimpannya di dalam kotak, hanya diikat seadanya di pinggang belakang.
“Wah, sayang sekali!” Kakek Hua begitu terkejut melihat sikap seenaknya He Tiandou pada buku itu, ia langsung merebutnya dan berseru, “Kau ini… ini… aku bahkan tak tahu mau berkata apa padamu.”