Bab Enam Puluh Enam: Penjelmaan Dewa Laut
Meskipun sudah sering membayangkan dalam hati bagaimana menghadapi sosok seorang setengah dewa, namun ketika benar-benar berhadapan—tidak, bahkan hanya melihat dari kejauhan saja—tekanan yang begitu dahsyat seakan-akan menutupi langit telah meruntuhkan sebagian besar kepercayaan dirinya.
Satu-satunya alasan ia masih menyisakan sedikit keyakinan adalah karena racun pekat yang ia genggam benar-benar sangat ampuh, serta keberadaan Kota Yuyuan sebagai tameng pelindungnya.
Tanpa salah satu dari keduanya, ia takkan pernah melahirkan ide gila ini.
Orang bijak berkata, kekayaan harus diraih dengan mengambil risiko; di dunia ini, banyak yang rela mempertaruhkan nyawa demi keuntungan.
Kata para kapitalis, laba lima puluh persen sudah cukup membuat sebagian besar pebisnis berani berspekulasi; jika laba mencapai seratus persen, mereka berani menginjak-injak seluruh hukum dunia; dan bila laba tiga ratus persen, mereka pun tak gentar menghadapi tiang gantungan.
Apalagi, keuntungan yang ingin diraih Lin Xiao kali ini bukan sekadar tiga ratus persen, melainkan sepuluh, bahkan seratus kali lipat, cukup untuk membuatnya berani mengambil risiko kehilangan banyak pengikut demi melakukannya.
Terlebih lagi, tubuh ini hanyalah perwujudan Sang Suci yang turun ke dunia, bukan tubuh aslinya. Kalau mati, ya sudah, takkan memengaruhi dirinya yang sesungguhnya.
Hanya enam menit kemudian, Lin Xiao sudah mendekati tepi Kota Yuyuan, dari kejauhan dapat melihat fondasi kota besar yang menjulang di atas permukaan laut beserta ribuan teritip parasit yang menempel padanya.
Benar saja, setengah dewa manusia ular itu telah teralihkan oleh umpan yang sengaja dilepaskan, sehingga terlambat sedikit; jika tidak, dengan kekuatan setengah dewa, mustahil ia tak bisa mengejarnya.
Dengan cepat ia meluncur ke tepi kota, dan dengan alasan hendak menghadap penguasa kota, Lin Xiao membawa sebagian kecil pengikut bangsa Naga Laut ke sisinya, sementara para manusia ikan dan naga laut lainnya ditinggal di luar kota.
Tak ada pilihan, sebenarnya ia ingin membawa semuanya masuk, tapi aturan kota tak mengizinkan, jadi mereka harus menunggu di luar, namun ia memerintahkan mereka untuk mengitari kota menuju sisi lain kota laut.
Entah berguna atau tidak, setidaknya sebagai penghibur diri.
Baru saja masuk kota belum genap satu menit, masih di depan gerbang, Lin Xiao sudah merasakan tekanan mengerikan itu mendekat dengan cepat. Ia belum sempat bereaksi, namun dalam kota sudah terjadi kegemparan; dari kuil megah di pusat kota tiba-tiba melesat keluar seorang manusia ikan tua berpakaian mewah, berseru ke kejauhan,
“Yang Mulia Gelas, ini adalah wilayah milik Paduka Dewa Laut!”
Suaranya tak keras, namun mampu menembus setiap sudut kota dengan jelas.
Tanpa ekspresi, Lin Xiao mendongak sekilas lalu segera menundukkan kepala. Orang tua itu adalah seorang uskup agung dari Kuil Dewa Laut di Kota Yuyuan, penganut setia Sang Dewa Laut, sekaligus pendeta yang sangat kuat.
Ia belum pernah bertemu sebelumnya, namun dari berbagai desas-desus, kekuatan uskup agung ini diperkirakan level lima, dan di sekitar kuil bisa sementara naik satu tingkat menjadi level enam.
Pendeta gereja para dewa biasanya dipegang oleh penganut setia dan tulus, namun bukan fanatik, sebab penganut fanatik terlalu ekstrem hingga bisa memengaruhi keputusan sehari-hari.
Bayangkan, seorang bangsawan besar diam-diam menghina seorang dewa—jika pemimpin gereja seorang fanatik, pasti langsung menangkap tanpa peduli benar atau salah, bahkan raja pun tak luput. Sebaliknya, penganut tulus dan rasional akan menyelidiki terlebih dahulu, dan bila benar, cukup memberi peringatan diam-diam dalam acara tidak resmi, sehingga urusan gereja dapat diatasi lebih halus dan sesuai keinginan dewa.
Setelah melirik sebentar, Lin Xiao tak berani menatap lagi, takut menarik perhatian si manusia ikan tua.
Saat itu, dari cakrawala muncul tekanan samar, cahaya merah tipis tiba-tiba menyebar cepat dari lautan jauh, mewarnai seluruh permukaan laut di barat Kota Yuyuan bagai darah.
Tak lama kemudian, dari samudra yang laksana lautan darah itu, menjulang pilar air merah raksasa. Sesosok bayangan emas raksasa mengambang dalam cahaya darah, perlahan naik ke angkasa, tatapannya dingin menyapu Kota Yuyuan. Saat menatap manusia ikan tua itu, terdengar suara berat yang dalam, dan manusia ikan tua itu mengerang pelan, rona merah muncul di wajahnya.
Ia tak menunjukkan kemarahan, hanya menunduk hormat pada sosok emas raksasa itu. Sinar biru tipis perlahan membungkus tubuhnya, menahan tekanan setengah dewa, lalu berkata dengan suara berat,
“Yang Mulia Gelas, ini adalah wilayah milik Paduka Dewa Laut. Anda telah melampaui batas!”
Tatapan Gelas yang menyiratkan kewaspadaan melirik ke arah kuil di pusat kota, samar-samar ia melihat pupil raksasa menatapnya dari kejauhan. Ia mendengus dingin, lalu menunjuk Lin Xiao,
“Serahkan dia padaku, aku akan segera pergi.”
Wajah Lin Xiao yang ditunjuk itu sedikit berubah. Tanpa ragu ia berbalik menghadap kuil dan berseru lantang,
“Aku adalah kepala suku bangsa manusia ikan dari barat daya. Paduka Dewa Laut yang agung, selamatkan aku! Seratus empat puluh ribu manusia ikan akan menjadi penganut setia-Mu!”
Selesai bicara, ia langsung berlutut menundukkan kepala, menunjukkan rasa hormatnya.
Suaranya sangat keras, hampir separuh Kota Yuyuan mendengarnya.
Ia memang sengaja melakukan ini, ingin didengar sebanyak mungkin orang.
Pada saat seperti ini, masih merasa diri tinggi dan meremehkan dewa setempat adalah kebodohan. Ide gilanya ini, kunci utamanya adalah apakah Dewa Laut bersedia melindungi.
Jika bersedia, barulah ada peluang untuk langkah berikutnya.
Jika tidak, lebih baik segera mundur tanpa banyak bicara.
Bicara lantang seperti ini, agar uskup agung tak berani menolak menolong pengikutnya di depan banyak orang dengan risiko kehilangan iman.
Entah ia pengikut sejati atau tidak, setidaknya ia yang pura-pura ini tentu tak bisa menipu para pendeta gereja, tapi bangsa laut di Kota Yuyuan tak tahu, dan ketika Lin Xiao mengaku sebagai penganut setia Dewa Laut, mereka semua percaya, meski nanti setelah krisis ini usai kebenaran terungkap.
Andai uskup agung itu seorang fanatik, kebohongan ini pasti langsung terbongkar dan ia diserahkan keluar. Sayangnya, uskup agung bukan tipe fanatik, melainkan rasional dan harus mempertimbangkan dampaknya.
Lagipula, kepemilikan atas seratus empat puluh ribu manusia ikan yang dipegang Lin Xiao sangat menggoda.
Uskup agung pun punya target—mengumpulkan lebih banyak pengikut akan lebih menyenangkan hati dewa yang disembah, sehingga mendapat kemurahan hati-Nya. Seratus empat puluh ribu pengikut baru jelas kekuatan iman yang besar.
Setelah berpikir panjang, uskup agung akhirnya mengambil keputusan. Tentu saja, ada juga bisikan di telinganya yang membuat ekspresinya tiba-tiba menjadi sangat serius dan penuh semangat. Ia mendongak, raut wajahnya berubah tegas, lalu dengan suara berat menatap sosok agung di langit,
“Setiap makhluk lautan di Samudra Raya adalah anak dari Paduka Dewa Laut Yang Maha Tinggi. Paduka tidak akan meninggalkan satu pun dari mereka.”
Setengah dewa manusia ular yang sedang menahan sabar menunggu jawaban itu, matanya yang seperti celah emas tiba-tiba bersinar terang, api emas memancar dari matanya, lalu ia mendengus dingin,
“Aku bukan datang untuk meminta izin, aku hanya memberitahu kalian. Orang ini harus menjadi milikku!”
Selesai bicara, tanpa basa-basi ia mengulurkan tangan kanan ke bawah, cahaya darah di langit berkumpul, membentuk tangan raksasa sepanjang ratusan meter yang menghantam Kota Yuyuan dengan dahsyat.
“Berani sekali!”
Di atas kuil terdengar suara dingin menggema, cahaya biru menyatu di atas kepala Lin Xiao, membentuk tangan biru raksasa yang menabrak telak tangan darah itu. Gelombang transparan pun meledak, mengguncang air laut hingga berputar deras.
Tentu saja, yang bertindak bukan uskup agung, mana mungkin ia sekuat itu untuk melawan setengah dewa. Yang bertindak adalah Dewa Laut... atau setidaknya salah satu perwujudan-Nya.