Bab 73 Kematian Serigala Iblis (Bagian Ketiga)
Sebagian besar binatang buas telah tewas atau terluka parah oleh hantaman beruntun sang panda, dan hasil terbaik pun hanya berujung pada cedera berat. Sementara itu, tubuh bulat sang panda sama sekali tak terluka; bahkan cipratan darah yang berhamburan selama pertarungan sengit pun dapat dihindarinya dengan lincah. Ia tampak sangat menjaga kebersihan.
Sisa binatang buas yang ada sudah benar-benar ketakutan, sorot mata mereka penuh teror seolah melihat makhluk gaib, lalu perlahan mundur ke arah tempat Serigala Bulan Putih berada. Namun, panda itu tampak seperti baru saja melakukan sesuatu yang sepele. Kedua cakarnya yang berlumuran darah dengan cermat ia usapkan ke bangkai salah satu binatang buas, dan setelah agak bersih, ia kembali menggerakkan tubuh bulatnya, merangkak mendekati Serigala Bulan Putih.
Tatapan Serigala Bulan Putih semakin dipenuhi rasa takut, namun wujudnya justru jadi makin mengerikan. Ketika jarak antara panda dan Serigala Bulan Putih tinggal sepuluh meter, panda itu berhenti dan mengeluarkan suara-suara tertentu.
Mendengar suara panda, selain ketakutan, muncul pula semburat kemarahan yang terhina di mata satu-satunya milik Serigala Bulan Putih. Buaya Penjaga Gunung segera menerjemahkan ucapan panda itu kepada Ling Hao:
“Ia menyuruh Raja Serigala beserta binatang buas lainnya pergi dari sini. Jika ada yang membangkang, akan ia hajar.”
Ling Hao mendengar itu dan segera tersenyum. Kali ini, Serigala Bulan Putih pasti akan merasa sangat terhina.
Sebelumnya, Serigala Bulan Putih baru saja berevolusi menjadi binatang buas tingkat tiga dan di hadapan banyak binatang mengumumkan dirinya sebagai raja sejati, menuntut pengabdian mereka. Jika sekarang ia benar-benar pergi sesuai permintaan panda, itu sama saja mengakui bahwa panda-lah raja yang sesungguhnya. Sedangkan dirinya, hanyalah pecundang yang baru saja naik tahta lalu langsung direnggut kekuasaannya!
Bagaimana mungkin Serigala Bulan Putih yang sombong sanggup menerima kenyataan itu?
Dengan marah, Serigala Bulan Putih kembali meraung, memerintahkan binatang-binatang di sekitarnya menyerang panda. Namun, tak satu pun berani bergerak. Bahkan, beberapa yang cukup dekat dengan panda sudah berlutut di tanah, menampakkan sikap mengalah, seolah hendak bersumpah setia pada panda.
Melihat itu, Serigala Bulan Putih makin murka. Ia menggeram rendah, cahaya putih berkumpul di tubuh kekarnya, dan seketika aura tajam yang amat kuat meledak keluar. Detik berikutnya, mulut Serigala Bulan Putih menganga, semburan cahaya putih menyembur keluar, membentuk bola cahaya sebesar kepala manusia, berkilauan dingin.
Di dalam bola cahaya putih itu, terdengar suara seperti tabrakan logam, seakan ratusan bahkan ribuan pedang dan pisau tajam berputar di dalamnya.
“Auuuu!”
Raungan serigala yang mengerikan menggema, bola cahaya putih yang berkilau menusuk itu melesat dengan suara tajam, menembus udara menuju panda di kejauhan.
Binatang buas tingkat tiga ke atas memang mampu melancarkan serangan dari jarak jauh dengan kekuatan mereka sendiri.
Kali ini, bola cahaya putih yang dimuntahkan Serigala Bulan Putih terkonsentrasi penuh pada kekuatan logam yang mengerikan.
Namun, panda itu seolah menganggap bola cahaya putih itu indah, matanya berbinar, tak sedikit pun mengambil posisi bertahan, justru malah menyongsongnya.
Melihat itu, Ling Hao buru-buru memperingatkan dengan bahasa binatang,
“Hati-hati!”
Namun, sebelum suaranya selesai, panda sudah melompat dari tanah, mengayunkan cakar depannya yang gemuk ke arah bola cahaya putih yang melesat.
Boom!
Sebuah ledakan dahsyat terjadi, bola cahaya putih yang bersentuhan dengan cakar panda langsung meledak jadi ratusan bahkan ribuan bilah cahaya putih yang tajam dan dingin.
Panda bahkan belum sempat bereaksi, sudah terkurung dalam hujan cahaya tajam itu, diterjang dan dicabik-cabik tanpa ampun.
Dua binatang buas yang berada cukup dekat pun terkena dampaknya, terpotong-potong menjadi daging cincang tanpa sempat mengaduh.
Serigala Bulan Putih tampak lemas setelah memuntahkan bola cahaya putih, namun ketika melihat panda terperangkap dalam bilah cahaya tajam, matanya yang tinggal satu itu penuh kegirangan.
Tapi sebelum ia sempat meraung kemenangan, panda yang terperangkap cahaya tajam itu mengeluarkan suara kemarahan.
Duar! Duar! Duar! Duar! Duar! Duar!
Enam dentuman keras berturut-turut, cahaya tajam putih itu dihantam berkali-kali hingga buyar paksa.
Sosok panda pun kembali tampak di hadapan para binatang buas.
Kini, panda itu tampak agak berantakan. Bulu hitam-putihnya yang biasanya bersih kini berdebu, bahkan beberapa bagian tampak berdiri kaku akibat sabetan cahaya tajam tadi, membuat penampilannya kurang sedap dipandang.
Tetapi, tubuhnya sama sekali tanpa goresan luka, setitik darah pun tak ada.
Ling Hao melongo tak percaya.
Bagaimana mungkin?
Bahkan Buaya Penjaga Gunung yang tubuhnya keras, jika terkena bola cahaya itu bisa saja tempurungnya hancur dan setengah mati. Tapi panda ini, tak kenapa-kenapa?
Setelah menghancurkan cahaya tajam itu, panda duduk dengan pantatnya di tanah, memeriksa tubuhnya dengan saksama.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Kemudian, panda itu meraung marah, kedua cakarnya diayunkan keras ke bawah, lalu bangkit dan berlari dengan gusar ke arah Serigala Bulan Putih.
Sulit dibayangkan, tubuh bulat seperti itu saat berlari ternyata jauh lebih cepat dibandingkan Serigala Bulan Putih sebelum berevolusi!
Meskipun pernah bertarung sebelumnya, Serigala Bulan Putih sama sekali tak menyangka panda yang marah bisa secepat itu.
Saat ia menyadari, sudah terlambat untuk menghindar!
Brak!
Sebuah hantaman keras, kepala Serigala Bulan Putih dihantam cakar panda yang melesat. Tanah berbatu di sekitarnya langsung retak dan runtuh, tubuh kekar yang masih menyala cahaya putih itu terpelanting dan menghantam bebatuan di kejauhan hingga hancur.
Serigala Bulan Putih berusaha bangkit, tapi kepalanya cacat parah; satu telinganya lepas, dan mata yang tersisa pun hancur, membuatnya benar-benar buta.
Namun panda belum puas. Meraung lagi, ia menerjang Serigala Bulan Putih sekali lagi.
Harga diri dan keganasan Serigala Bulan Putih benar-benar hancur oleh satu hantaman panda. Merasa panda kembali menyerbu, ia menjerit ngeri dan berbalik lari.
Tatapan Ling Hao menajam.
Mau kabur?!
Cahaya berkilat di tangannya; sebilah serpihan tulang putih muncul di telapak tangannya yang berlumuran darah beracun ungu kemerahan.
Ia mengerahkan seluruh energi dalam tubuhnya ke serpihan tulang itu, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga.
Serpihan tulang putih yang berlumuran darah beracun itu berputar cepat, melesat bak meteor ungu kemerahan menuju Serigala Bulan Putih yang hendak kabur.
Ctak!
Suara ringan terdengar, serpihan tulang itu menancap tepat di luka telinga kanan Serigala Bulan Putih, menembus dalam.
Serigala Bulan Putih kaku sejenak, lalu meraung pilu. Rasa nyeri dan lumpuh yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya. Tadinya ia sangat cepat, namun setelah terkena hantaman itu, berdiri pun sulit.
Angin mendesir keras, panda yang masih murka kembali menerjang dan mengangkat cakarnya.
Bam!
Dentuman mengguncang bumi, punggung Serigala Bulan Putih dihantam cakar panda, tubuh kekarnya langsung ambruk, tulang-tulang patah menembus kulit, darah serigala muncrat deras.
Serigala Bulan Putih yang terluka parah itu tak punya harapan untuk hidup.
“Auuu!”
Binatang buas yang telah menguasai Pegunungan Awan Kelabu selama dua ratus tahun lebih, meninggalkan banyak legenda mengerikan di Kota Batu Hitam, kini setelah meraung putus asa, kepala sombongnya terhantam keras ke tanah.
Serigala Bulan Putih, tamat!
Bagian ketiga telah tiba, mohon dukungannya! Teman-teman yang punya tiket rekomendasi, mohon bantuannya untuk mendukung penulis. Terima kasih banyak!
Jangan lupa rekomendasinya, simpan cerita ini, dan beri nilai lima bintang!
(Bagian ini selesai)