Bab Delapan Puluh Empat: Kerja Sama yang Menyenangkan
Rekaman yang ditunjukkan Rotoman kepada Wen Guzhi adalah video Gordon di kamar hotel sebelum ia bunuh diri.
Wen Guzhi menatap Rotoman dengan wajah tegang. "Kau sadar tidak kalau apa yang kau lakukan ini melanggar hukum? Apa kau berharap aku menyerahkan bukti ini ke polisi, lalu kau masuk penjara, dan rumor tentangku bisa dibersihkan? Kau ini sakit jiwa ya?"
Namun Rotoman justru tampak sangat gembira, langsung merangkul lengan Wen Guzhi seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan membeli es krim setelah lama memohon.
"Kakak Zhi! Ternyata kau memang peduli padaku, kan! Tak kusangka dengan sedikit trik saja aku bisa melihatmu khawatir padaku. Aku senang sekali!"
Wen Guzhi mengerutkan alis, segera menarik lengannya.
"Trik? Maksudmu apa?"
Rotoman masih berusaha merangkulnya lagi, tapi Wen Guzhi dengan sigap menghindar. Ekspresi Wen Guzhi serius, jelas tak akan membiarkannya pergi tanpa penjelasan. Rotoman pun duduk kembali dengan sedikit kecewa, tapi ia tetap tersenyum lebar.
"Kakak Zhi, bukankah sudah kubilang? Aku hanya tak bermoral, tapi aku tak pernah melanggar hukum."
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan video ini?"
Rotoman menjawab dengan nada wajar, "Dia sendiri yang merekamnya. Kuduga dia juga ingin menyimpan bukti. Tapi ponsel itu sudah diambil orang lain sejak awal, kau bisa tanyakan ke polisi apakah mereka menemukan ponsel itu di TKP. Untung saja aku lebih dulu menyuruh orang meretas ponselnya dan mengambil video ini."
Wen Guzhi hampir tertawa saking kesalnya. "Meretas perangkat elektronik orang lain dengan mudah, itu namanya tak pernah melanggar hukum?"
Rotoman mengangkat telunjuknya dan menggeleng. "Itu keliru."
"Aku kan ingin lewat kamu menyerahkan video ini ke polisi. Dengan video ini, rumor yang melibatkan Grup Wensu dan dirimu bisa dibersihkan. Ini namanya kerja sama warga yang baik dengan polisi."
Wen Guzhi terdiam.
Ucapan Rotoman memang tak sepenuhnya keliru.
Video yang ia pegang memperlihatkan dengan jelas setiap gerak-gerik Gordon di depan meja hotel, bahkan terlihat jelas surat wasiat di komputer Gordon sudah disimpan dan dijadwalkan untuk dikirim. Isi surat wasiat itu sama persis dengan surat tangan yang ditulisnya sendiri.
Tapi surat yang akhirnya tersebar di internet telah diubah kata-katanya, membuktikan ada pihak yang memanipulasi dan ingin mengaitkan bunuh diri Gordon dengan Grup Wensu.
Wen Guzhi melanjutkan memutar video yang sempat dipause.
Video hanya tersisa beberapa menit. Di akhir rekaman, Gordon menutup komputer, lalu mengambil seutas tali rami panjang entah dari mana, dan keluar dari jangkauan kamera.
Terdengar suara-suara gesekan pelan, kemungkinan itu adalah jejak terakhir Gordon di dunia. Tak ada teriakan, tak ada permintaan tolong, hanya suara benda yang terguncang dan mungkin suara tenggorokan yang menahan siksaan hebat, hingga akhirnya sunyi total.
Hati Wen Guzhi pun ikut tenggelam.
Meski ia tak punya perasaan khusus terhadap orang itu, namun mendengar langsung seseorang dengan tekad bulat mengakhiri hidup tanpa ragu sedikit pun, tetap menimbulkan perasaan aneh di dalam hati.
Kehidupan dan kematian terjadi hanya dalam satu momen.
Keputusan untuk bertahan hidup atau memilih mati juga hanya sesaat.
"Manusia memang rapuh," Rotoman di sampingnya menghela napas, mengucapkan kalimat yang sempat ingin dikatakan Wen Guzhi.
Wen Guzhi menundukkan kepala, berusaha menarik diri dari emosi yang tak pada tempatnya itu, lalu bertanya pelan, "Kalau kau sudah memberiku video ini, apa yang ingin kau ajak kerja sama?"
Rotoman kembali tersenyum seperti biasa. "Itu hadiah dariku untukmu. Soal kerja sama kita, urusannya lebih penting dari ini."
Sambil berkata, ia mendekatkan diri pada Wen Guzhi, menatapnya dengan mata hitam jernih seperti kismis.
"Ayahmu itu, sedang menyiapkan suatu aksi kecil. Kuduga setelah mengakuisisi cukup banyak saham, targetnya pasti dewan direksi. Aku bisa bantu Grup Wensu menstabilkan para pemegang saham utama dengan investasiku."
"Wensu punya cukup uang."
"Tapi kan sekarang kalian masih diselidiki, apa bisa langsung memakai dana sebesar itu?"
Wen Guzhi menatap Rotoman tanpa ekspresi.
"Syaratnya?"
Rotoman menggigit bibir bawah, lalu tersenyum manis sembari menopang dagu dengan kedua tangan. "Dulu aku bilang, kau itu penyelamat hidupku."
"Aku ingin membalasnya dengan seluruh hidupku."
"Tidak perlu."
"Menikahlah denganku." Senyuman Rotoman berubah menjadi tipis, menatap Wen Guzhi dengan ekspresi setengah bercanda setengah serius. "Kalau kau setuju, video ini dan uang itu jadi milikmu."
Kabin mobil pun sunyi.
Keduanya saling berpandangan, satu mengirimkan tatapan penuh perasaan, satunya lagi seperti batu karang.
Sepuluh menit kemudian, pintu mobil terbuka.
Rotoman turun lebih dulu. Ia pergi tanpa menoleh ke arah Wen Guzhi, diikuti pria berbaju hitam yang terus membuntutinya.
Rotoman melambaikan tangan ke belakang, memberi isyarat agar pria itu mengikuti.
"Le Zheng."
"Saya."
"Sudah selesai dinegosiasikan. Sesuai instruksiku, berikan semua yang sudah kusiapkan pada Wen Guzhi."
Namun pria berbaju hitam itu berhenti melangkah.
"Nona, Anda benar-benar ingin menikahinya?"
"Le Zhengxi." Rotoman menoleh, menatap pria itu dengan ekspresi tak menentu. "Kau sudah kelewatan."
Le Zhengxi menunduk, terdiam sejenak, lalu mengikuti di belakang, "Saya salah."
Mendengar itu, suasana hati Rotoman membaik, ia tertawa lepas, berputar di tempat, lalu tiba-tiba mengganti topik, "Bunga Liar itu di mana ya? Aku benar-benar ingin tahu seperti apa ekspresinya setelah mendengar kabar ini."
"Kau maksud kabar yang mana? Tentang... rencana pernikahan?"
"Bukan, mungkin soal itu dia belum akan bereaksi besar. Setahuku, Bunga Liar dan Kakak Zhi bahkan belum punya hubungan resmi."
"Bagaimana kau tahu?"
Rotoman berhenti, merangkul pundak Le Zhengxi dengan lembut, menempelkan tubuhnya, hampir saja hidung mereka bersentuhan.
"Ah Xi, apa kau memang belum pernah pacaran?"
"...Belum pernah."
"Mau kakak ajari?"
Wajahnya tampak polos, tapi matanya bagaikan mata Medusa yang sekali saja ditatap bisa membuat siapa pun tunduk padanya.
"..."
"Hmph." Entah kenapa, Rotoman mendadak kesal, mendorong Le Zhengxi menjauh.
"Anak muda, jangan belajar pacaran dulu. Lebih baik belajar dari kakak bagaimana memaksimalkan keuntungan dari sumber daya yang ada."
Le Zhengxi dengan hormat membukakan pintu mobil dan melindungi Rotoman masuk, "Baik, Nona."
Setelah masuk ke dalam mobil, Rotoman tertawa pelan, "Bunga Liar itu harus mendengar sendiri kebenaran di balik bunuh diri itu. Melihat dunianya yang sempurna di matanya dihancurkan tepat di depan wajahnya, pasti ekspresinya sangat menarik."
Sambil berkata, ia merebahkan diri malas-malasan di kursi belakang.
"Membayangkannya saja aku sudah tak sabar."
Setelah Le Zhengxi masuk ke mobil, Rotoman bertanya santai, "Le Zheng, kau sudah membersihkan jejak Gordon di hotel, kan?"
"Semuanya sudah bersih, Nona."