Bab Lima Puluh Enam: Jamuan Makan Bersama
“Makanan ini enak.”
“Kalau dimakan begini, rasanya lebih terasa.”
“Sudah hampir matang, semua boleh mulai makan.”
Di sebuah restoran barbeque, duduklah tujuh orang muda-mudi yang tampak seperti mahasiswa di salah satu meja. Empat perempuan dan tiga laki-laki itu tengah memusatkan perhatian pada panggangan, ada yang bertugas membalik makanan, ada pula yang sibuk membungkus daging panggang dengan sayuran.
Huang Chiyao menatap daging yang mengepul harum di depannya, sekali lagi ia merasa kagum pada daya eksekusi dan kemampuan menghimpun orang milik Su Jin. Baru saja Su Jin mengusulkan untuk mengadakan acara makan bersama, tak sampai dua hari semuanya sudah berkumpul, bahkan restoran pun sudah dipesan.
Hanya saja, suasana pertemuan kali ini agak berbeda dari bayangan Huang Chiyao. Ia memang pernah makan bersama orang-orang yang tidak begitu akrab, terutama saat awal kuliah. Acara makan seperti itu tak bisa ditolak, dan ia hanya ikut-ikutan supaya jumlah orang cukup. Namun, biasanya, makan bersama orang asing itu lebih menyerupai ajang perkenalan; bergantian memperkenalkan diri, melontarkan lelucon yang tidak lucu, atau memamerkan keahlian yang kurang menarik.
Setiap kali giliran memperkenalkan diri, Huang Chiyao biasanya meniru sikap Xue Zixin.
“Huang Chiyao, hobi makan, selesai.”
Singkat, padat, dan jelas.
Meski tetap ada yang mencoba mengajaknya berbicara, umumnya mereka akan menyerah begitu melihat Chiyao hanya fokus makan dengan mulut penuh makanan, sesekali hanya menanggapi sekadarnya. Pada akhirnya, tidak ada yang sungguh-sungguh memperhatikan makanan yang dihidangkan.
Namun, kali ini, pertemuan yang diatur oleh Su Jin benar-benar hanya soal makanan.
Di meja ini, empat sekamar Huang Chiyao hadir, sedangkan Su Jin membawa dua teman laki-laki; satu tampak rapi dan santun dengan kacamata berbingkai hitam, sedikit lebih banyak bicara dibanding Xue Zixin; satu lagi berperawakan bulat seperti beruang kecil, wajahnya selalu dihiasi senyum lebar yang membuatnya tampak ceria.
Setelah sapaan singkat, mereka semua langsung terjun dalam “misi” memanggang daging dengan kompak, berbagi tugas tanpa banyak bicara, sesekali saling bertukar tips cara makan yang lebih nikmat.
Dua teman yang dibawa Su Jin memang jarang bicara, namun mereka menangani mayoritas pekerjaan memanggang. Sementara teman-teman sekamar Huang Chiyao, baik Zhang Dianxin yang doyan makan, Xue Zixin yang pendiam, maupun Ling Ling yang biasanya cerewet, semua larut dalam kesibukan masing-masing. Ling Ling yang tak piawai memanggang, memilih menunggu makanan matang dengan sabar.
Ini bukan sekadar makan bersama, melainkan lebih seperti seminar barbeque.
Diam-diam, Huang Chiyao membisik pada Su Jin di seberangnya, “Kau memang luar biasa.”
Di bawah meja, Su Jin menjawab dengan isyarat hormat, “Terima kasih, terima kasih.”
Ketika suasana tengah asyik-asyiknya, tiba-tiba suara nyaring menusuk terdengar.
“Hei, kutu buku!”
Seorang pria bertubuh kurus mengenakan pakaian trendi yang kini digemari anak muda, namun tubuhnya yang ceking membuat pakaian itu tampak kebesaran, berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya di bahu teman Su Jin yang berpenampilan rapi, namun matanya setengah menyipit, berbicara pada kelompok perempuan di meja.
“Wah, ternyata benar kau! Dari jauh aku sudah lihat, tadinya tak yakin. Jarang sekali kau di sini, ya? Apalagi makan bareng cewek-cewek cantik begini, bagaimana kalau aku ikut gabung, sekalian berkenalan?”
Pria berkacamata itu tampak tak nyaman, berusaha melepaskan tangan si pria trendi dari bahunya, namun gagal. Ia akhirnya berkata, “Maaf, ini... tidak pantas. Kami tidak mengundangmu...”
Si pria trendi tampak tak peduli. “Kenapa tidak pantas? Cuma nambah satu pasang sumpit saja, kan? Kalian pasti bosan kalau cuma sama si kutu buku itu, makanya aku harus meramaikan suasana dong.”
Melihat itu, Su Jin segera menarik teman berkacamata ke sisinya, membebaskannya dari tangan si pria trendi, lalu berkata dengan senyum tipis, “Maaf, teman. Ini acara privat kami. Kalau benar-benar ingin bergabung, kau perlu persetujuan semua orang di sini.”
Ia lalu menoleh pada yang lain, masih dengan ekspresi yang sama, “Teman-teman, ada yang keberatan kalau dia ikut makan bersama? Kalau ada pendapat, silakan katakan langsung.”
Ling Ling yang pertama kali bereaksi. Ia dengan sengaja menepuk meja keras-keras dan berdiri, hendak memaki. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menepuk lembut punggung tangannya, menenangkan dan seolah memberi isyarat untuk duduk.
Ling Ling yang baru mengucap satu kata, “Kau—”, langsung diam, menoleh terkejut pada pemilik tangan itu.
Ekspresi Huang Chiyao pun tak jauh berbeda.
Tangan itu milik Xue Zixin.
Huang Chiyao langsung merasa cemas dalam hati.
Xue Zixin yang sedang asyik makan tiba-tiba diganggu, entah apa yang akan terjadi.
Ia sangat khawatir kejadian ribut-ribut di ruang dosen akan terulang.
Xue Zixin melepaskan tangannya dari tangan Ling Ling, lalu berkata datar, “Ada sampah di sini, mengganggu selera makan. Tidak mau.”
Si pria trendi mendengar itu, perhatiannya segera beralih dari Ling Ling ke Xue Zixin, lalu berteriak marah, “Siapa yang kau bilang sampah?!”
Su Jin segera berdiri di depan Xue Zixin, menyela, “Cukup, satu orang sudah menolakmu. Maaf, kau harus meninggalkan meja ini.”
Pria trendi itu tidak peduli, ia berusaha menghindar dari Su Jin, ingin melihat jelas siapa yang bicara. Namun, ketika ia melihat wajah Xue Zixin, ekspresi marahnya berubah menjadi ejekan meremehkan.
“Wah, ternyata kau toh. Dari tadi menunduk saja, tak kelihatan, rupanya si jenius Fisika yang namanya sudah terkenal.”
Teman berkacamata itu menutup wajah dengan tangan, tak kuasa melihatnya.
Ternyata mereka saling mengenal.
Si pria trendi menyeringai, berkata dengan nada sinis, “Huh, padahal kau sendiri itu sampah yang basah dan suram, bermuka masam tiap hari cuma karena ada orang di belakangmu. Nilai bagusmu pasti juga hasil menyontek—apa hakmu bilang aku sampah?”
Xue Zixin langsung berdiri, wajahnya tetap datar tapi tangannya mencengkeram gelas air dengan kuat.
Huang Chiyao merasa situasi memburuk, ia segera menggenggam tangan Xue Zixin yang memegang gelas.
“Zixin!”
Ia menatap dalam-dalam mata Xue Zixin, dalam hati mengucap:
“Karena kekenyangan membuat kantuk dan lemas, tanamkan beberapa kata pada Xue Zixin.”
Saat itu juga, ekspresi Xue Zixin berubah.
Ia memiringkan kepala, menatap Huang Chiyao dengan mata yang biasanya datar tanpa emosi, kini menyipit, lalu perlahan melepas genggaman pada gelas, berkata pelan, “Sudah kenyang. Aku pergi.”
Tanpa menoleh lagi, ia pun keluar dari restoran.
Namun, kali ini ia tidak lagi, seperti sebelumnya, memanggil teman sekamarnya untuk pergi bersama.