Bab Dua Puluh Lima: Melapor ke Polisi
Semua orang di lokasi Departemen Teknik mendengar langsung panggilan darurat yang dibuat oleh Huang Chiyao. Ketika mereka mendengar kata-kata seperti "pelecehan seksual", "serangan fisik", dan "penghinaan" yang diucapkan Huang Chiyao, semua orang langsung dilanda kepanikan.
Ini jelas akan menjadi masalah besar.
Manajer Gao bahkan langsung bangkit berdiri, berniat merebut ponsel dari tangan Huang Chiyao. Namun Huang Chiyao, meskipun sedang berbicara di telepon, tetap waspada. Dengan gesit ia berbalik, menginjak kursi lalu naik ke atas meja, sambil terus memberikan identitas dan alamat pada polisi.
"Sekarang saya ada di lantai 18, ruang A, Inovasi Teknologi. Laki-laki bermarga Gao yang baru saya sebutkan sedang berusaha merebut ponsel saya dan berniat melukai saya lagi. Tolong segera datang."
Manajer Gao pun spontan menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh kaki Huang Chiyao.
Punggungnya mulai dipenuhi hawa dingin.
"Ya, ini nomor pribadi saya. Baik, terima kasih."
Setelah memastikan polisi sedang dalam perjalanan, Huang Chiyao menutup telepon dan menatap semua orang dari atas.
"Gao Deng, Manajer Gao, serta para senior sekalian."
Cahaya lampu neon di atas menerpa wajahnya, membentuk bayangan lebar di bawah matanya. Dilihat dari bawah, ekspresi Huang Chiyao datar, seolah-olah tanpa suka maupun duka, namun dari dalam dirinya terpancar kekuatan besar yang tak terduga, seakan-akan dalam sekejap akan meledak, menenggelamkan siapa saja di hadapannya.
"Awalnya saya bertanya-tanya, apakah saya tanpa sadar melakukan kesalahan sehingga kalian memandang rendah dan mengucilkan saya. Saya sempat meragukan diri sendiri, apakah karena saya kurang mampu sehingga kalian menganggap saya hanya sebagai pemanis di kantor."
Di permukaan, Huang Chiyao tampak tenang, namun tangan yang memegang ponsel di belakang tubuhnya sudah gemetar hebat.
Sebagian karena marah, sebagian lagi karena takut.
Meski begitu, ia tetap berusaha sekuat tenaga menstabilkan suaranya, menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
"Tapi sekarang, jelas saya adalah korban. Kenapa saya harus mencari-cari kesalahan pada diri sendiri? Jelas masalahnya ada pada kalian. Kalian membosankan, makanya mencari hiburan dengan mengolok-olok dan mengucilkan orang lain. Kalian tidak becus, makanya cuma berani mengincar seorang mahasiswi magang tanpa latar belakang. Kalian bodoh, mengira anak magang bisa seenaknya kalian perlakukan, mengira gadis dari desa akan takut untuk melawan."
"Dari awal hingga akhir, saya tidak pernah salah. Yang salah adalah kalian."
Ini pertama kalinya Huang Chiyao menempatkan dirinya dalam situasi yang begitu berbahaya.
Biasanya, bahkan jika ia hendak melakukan sesuatu yang benar, ia akan berpikir matang-matang, memastikan risiko dan keamanannya sebelum bertindak.
Tapi kali ini, ia bergerak murni didorong oleh kemarahan yang selama ini ia tekan. Meski tidak menggunakan emosi sebagai senjata, ia membiarkan perasaan itu mengarahkannya.
Ia takut, tapi lebih besar lagi rasa tidak terimanya.
Pada akhirnya, ia memilih jalan untuk benar-benar memutus hubungan.
Sepertinya magang ini memang sudah tamat riwayatnya.
Karena toh sudah tamat, setidaknya ia harus membela keadilan untuk dirinya sendiri. Meski seperti semut melawan kereta, ia tetap akan melakukannya.
Inilah pertempuran pertamanya setelah merasakan kerasnya dunia kerja.
"Kalian semua sudah dengar, saya sudah melapor ke polisi dan mereka sedang dalam perjalanan. Mulai sekarang, kalau tidak mau ditambah tuduhan baru, jangan dekati saya."
Setelah melontarkan semua unek-unek yang selama ini ingin ia keluarkan, Huang Chiyao melompat turun dari meja, kembali ke tempat duduknya, dan menunggu polisi datang.
Orang lain pun tak berani berbuat macam-macam, hanya bisa memandang Huang Chiyao kembali ke tempat duduknya tanpa berkata apa-apa, takut ia bertindak nekat lagi.
Hanya dua orang yang disebut Huang Chiyao dalam laporannya—Manajer Gao dan seorang insinyur senior—yang panik dan buru-buru meninggalkan tempat, mungkin mencari bala bantuan.
Huang Chiyao sama sekali tidak takut mereka melarikan diri; gedung ini penuh dengan kamera pengawas.
Tak lama kemudian, polisi tiba, diikuti beberapa orang dari perusahaan. Huang Chiyao hanya mengenali manajer departemen teknik dan satu orang dari bagian SDM. Seorang polisi wanita langsung membawa Huang Chiyao ke samping, menenangkannya, lalu menanyakan detail kejadian.
Barulah saat itu hati Huang Chiyao merasa tenang.
Ia benar-benar merasa dilindungi.
Setelah polisi menanyai keterangan para saksi dan memeriksa rekaman CCTV, Huang Chiyao dan dua orang yang terlibat dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Ketika Huang Chiyao selesai memberikan kesaksian dan keluar dari kantor polisi, hari sudah sore. Ia tidak menyangka, baru berjalan beberapa langkah dari pintu keluar, sudah berpapasan dengan manajer departemen.
Cepat sekali.
Manajer itu menghampiri, tanpa basa-basi langsung bertanya, "Bisakah kita berdamai?"
Huang Chiyao pun langsung menolak.
"Tidak bisa."
Manajer itu menghela napas panjang, berbicara dengan nada berat, "Gao itu sebentar lagi pensiun, dan di akhir masa kerjanya malah masuk kantor polisi begini. Bagaimana dia bisa menikmati masa tuanya dengan tenang?"
"Tapi dia yang membuat saya tidak bisa belajar dan bekerja dengan baik."
"Kenapa kamu begitu keras kepala!" Manajer itu, yang usianya juga sudah lebih dari lima puluh tahun, tampak kesal melihat sikap defensif Huang Chiyao. Setelah menarik napas, ia kembali membujuk Huang Chiyao.
"Kamu tahu, Manajer Gao itu usianya seperti pamanmu sendiri, dia itu orang tua, dia hanya peduli padamu sebagai seorang senior. Mungkin caranya berlebihan, jadi kamu tidak terbiasa, tapi orang tua memang begitu. Kamu maklumilah..."
"Pak Manajer," Huang Chiyao memotong, "Anda ingin melindungi Manajer Gao, ya?"
"Anda juga tahu, waktu wawancara dulu saya diberi soal yang di luar kemampuan saya. Anda membiarkan Manajer Gao dan bawahannya terus-menerus menindas anak magang. Saya ini cuma magang, perlu sampai seperti itu?"
"Ah, ya ampun!" Manajer itu mulai gugup. "Mereka cuma iseng, main-main sama kamu, tidak ada niat jahat, kok."
Huang Chiyao menatap lurus-lurus ke arah manajer, bicara dengan jelas dan tegas.
"Buat saya, itu jelas niat jahat."
Melihat Huang Chiyao keras kepala, manajer itu semakin marah, "Kamu tahu, tindakanmu ini bisa merusak citra perusahaan!"
"Kalau perusahaan tidak mau melindungi saya, kenapa saya harus melindungi citra perusahaan?" jawab Huang Chiyao santai. "Sudah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Yang jelas, saya tidak mau berdamai."
Habis berkata begitu, Huang Chiyao langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.
Sesampainya di asrama, Huang Chiyao teringat bagaimana manajer tadi sama sekali tidak peduli bahwa dirinya adalah korban, hanya membela Manajer Gao. Ia merasa orang-orang itu benar-benar sangat tidak adil.
Akhirnya ia menulis surat pengaduan, melaporkan bahwa lebih dari setengah staf departemen teknik, atas hasutan Manajer Gao, bersekongkol mengucilkan dan menghambat masa magangnya, bahkan manajer departemen pun tahu tapi berpura-pura tidak tahu dan tidak berbuat apa-apa. Setelah selesai, surat itu langsung ia kirim ke kantor pusat perusahaan dan menyalin ke semua alamat surel para petinggi yang bisa ia temukan.
Setelah surat pengaduan itu terkirim, baru ia teringat pada Wen Guozhi.
Kira-kira Wen Guozhi akan terkejut tidak ya, mengetahui ia melapor ke polisi dan membuat pengaduan?
Terserahlah.
Katanya bisa jadi teman, katanya ketemu di kantor.
Ia sudah lebih dari seminggu dibully, bayangannya saja tak pernah muncul.
Memang benar, orang beda kelas tidak bisa jadi sahabat sejati. Untung saja ia sadar diri, tidak berharap apa-apa dari pertemanan dengan Wen Guozhi.
Meski begitu, sedikit rasa kecewa dan pilu tetap saja diam-diam menyebar di hati Huang Chiyao.