Bab Enam Puluh: Angin dan Hujan Akan Datang
Entah karena obat yang diberikan rumah sakit benar-benar manjur, atau karena makan siang bergizi di rumah Wen Gu Zhi, tetapi hanya dalam satu siang, Huang Ciyao merasa dirinya sudah agak membaik. Ia hanya merasa sedikit mengantuk, jadi setelah mengikuti kelas praktikum sore itu, ia bahkan tidak makan malam, hanya menggigit sepotong roti lalu kembali ke asrama untuk minum obat dan tidur.
Dalam tidurnya yang setengah sadar, Huang Ciyao merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh tangannya, lalu seperti ada sesuatu yang hangat masuk ke dalam telapak tangannya. Tapi ia terlalu mengantuk untuk membuka mata, mengira itu hanya mimpi, lalu kembali tidur.
Pada pukul setengah tujuh malam, alarm yang ia pasang pun berbunyi dan membangunkannya.
Sepertinya teman sekamarnya belum pulang, suasana asrama masih sunyi, bahkan lampu pun belum dinyalakan.
Huang Ciyao hendak mematikan alarm, tapi merasakan ada sesuatu yang lembut di tangannya. Ia bangkit dan menyalakan lampu, ternyata ada sebongkah nasi kepal di sana.
Ia berkedip bingung, mengira matanya salah lihat karena baru bangun tidur. Ia mengangkat benda itu ke bawah cahaya dan memperhatikannya lebih seksama.
Benar saja, itu nasi kepal.
Mungkin karena terlalu lama digenggam, lapisan rumput laut di permukaannya sudah lembek, namun masih terasa hangat.
Entah siapa yang menaruhnya di tangan saat ia sedang tidur.
Namun saat ini, asrama itu hanya ada dirinya seorang.
Ketika ia masih diliputi kebingungan, tiba-tiba pintu asrama terbuka.
“Aku pulang! Ciyao! Kamu akhirnya bangun juga!”
Yang pertama masuk adalah Ling Ling, diikuti oleh Zhang Dianxin, bahkan Xue Zixin pun sudah kembali.
Zhang Dianxin langsung melihat nasi kepal di tangan Huang Ciyao, melangkah cepat mendekat dengan ekspresi sangat kecewa.
“Ciyao! Sudah berapa kali kukatakan, makanan itu soal timing. Kalau tidak kamu nikmati di saat terbaik, bukankah kelezatannya terbuang sia-sia? Aduh, hatiku sakit sekali...”
Huang Ciyao melirik nasi kepal itu dan bertanya, “Kamu yang beli?”
Begitu mendengar pertanyaan itu, ekspresi Zhang Dianxin langsung berubah seperti seorang sastrawan lemah yang merasa harga dirinya direndahkan, ia membantah dengan nada tersinggung, “Ciyao! Kamu berubah! Kamu mengejekku! Kalau aku yang beli, aku pasti langsung mengawasi kamu memakannya sampai habis, bukan membiarkan kelezatannya hilang begitu saja. Perkataanmu ini benar-benar menyinggungku...”
Huang Ciyao baru sadar ucapannya mengandung makna ganda, membuat Zhang Dianxin mengira ia sengaja menyindir. Maka ia segera meminta maaf, “Maaf, bukan itu maksudku, aku tidak bermaksud menyindir kamu. Ini salahku yang tidak segera memakannya, jangan marah, ya.”
“Ya ampun, Zhang Dianxin, kenapa reaksimu berlebihan sekali? Ciyao kan tidak sengaja,” Ling Ling membela Huang Ciyao, “Lagi pula ini makanan yang Ciyao beli sendiri, jadi mau dimakan kapan, itu terserah dia.”
Begitu Ling Ling selesai bicara, Huang Ciyao langsung menoleh ke arah Xue Zixin yang sejak tadi duduk diam di tempatnya sambil membaca buku.
Wajah Xue Zixin tampak biasa saja, mendengar keributan tiga temannya pun ia tak banyak bereaksi.
Entah kenapa, Huang Ciyao merasa nasi kepal itu pasti dari Xue Zixin, dan sudut hatinya yang tadi terasa mengganjal seolah menjadi lebih tenang.
Padahal ia sempat mengira Xue Zixin masih marah padanya.
Huang Ciyao dengan pura-pura santai berjalan mendekat setengah meter ke arah Xue Zixin, lalu berbisik, “Terima kasih,” sebelum membukanya dan mulai makan nasi kepal itu perlahan.
Meski nasi kepal itu sudah dingin dan rumput lautnya lembek, bagi Huang Ciyao rasanya tetap enak.
Zhang Dianxin tampak ingin mencegahnya makan, sementara Ling Ling menahan dan menariknya ke belakang, menutup mulutnya yang hendak protes, lalu berseru,
“Bagaimana kalau besok kita lihat matahari terbit?”
Selain Xue Zixin, dua orang lainnya hanya bisa menatap Ling Ling kebingungan.
“Kenapa harus begitu?”
“Hmm, kenapa?”
Xue Zixin yang dari tadi belum bicara, akhirnya bersuara.
“Aku setuju.”
-----------------
Entah apa yang membuat Ling Ling tiba-tiba ingin melihat matahari terbit, tapi karena Xue Zixin langsung menyetujuinya, Huang Ciyao dan Zhang Dianxin pun tidak punya alasan untuk menolak, malah merasa senang.
Kebetulan di kampus ada tempat bagus untuk melihat matahari terbit, jadi demi menemani teman, Huang Ciyao rela bangun pukul setengah lima pagi. Mereka berempat berjalan dalam gelap menuju puncak tertinggi Taman Peringatan, menggelar kantong plastik seadanya dan duduk di atas rumput yang masih basah oleh embun.
Lokasi Universitas Xun Dao memang sangat strategis.
Setelah duduk beberapa saat dalam diam, langit yang tadinya biru gelap perlahan berubah biru cerah, awan-awan di langit mulai berpendar warna jingga, dan warna-warna indah mulai bermunculan.
Saat fajar mulai merekah, Huang Ciyao melihat ekspresi Xue Zixin tiba-tiba berubah suram. Hingga bangunan-bangunan di kejauhan mulai tersapu cahaya, ia merasakan Xue Zixin tampak gelisah, bahkan sedikit gemetar.
Huang Ciyao menggenggam tangan kanan Xue Zixin.
“Tak apa, kami semua ada di sini.”
Sambil menghibur Xue Zixin dengan suara lembut, ia dalam hati berbisik,
“Karena terpesona oleh matahari terbit, tanamkan beberapa kata pada Xue Zixin.”
Saat seberkas cahaya muncul dari balik cakrawala, Ling Ling dan Zhang Dianxin spontan bersorak kecil, dan Huang Ciyao pun merasakan getar di tangannya perlahan mereda.
Ia tersenyum menatap ke kejauhan.
Sepertinya ia belum pernah dua kali memakai “Taburan Hati” pada orang yang sama.
Tapi hanya pada Xue Zixin, ia sudah menggunakannya tiga kali. Untung saja, setiap kali selalu berhasil.
Memandang bulatan cahaya keemasan yang perlahan menyempurna di cakrawala, Huang Ciyao dengan tulus berucap lirih,
“Zixin.”
“Aku tak pernah ingin menjadi penyelamatmu, dan aku tidak pernah memperlakukanmu dengan rasa iba.”
“Aku hanya ingin menjadi temanmu.”
Tak lama kemudian, bola matahari yang utuh sudah sepenuhnya terbit, cahaya menjadi semakin menyilaukan dan suhu pun mulai menghangat.
Xue Zixin menoleh, sinar hari baru menerpa matanya, membuat bola matanya yang semula gelap kini berkilau.
“Bukankah kita sudah jadi teman?”
Walaupun ekspresi Xue Zixin tetap tenang seperti biasa, entah mengapa, Huang Ciyao merasa sudut bibirnya sedikit terangkat.
Meski ia sudah bicara panjang lebar, Xue Zixin hanya membalas dengan satu kalimat, tapi Huang Ciyao mengerti betul kalimat mana yang dijawab oleh Xue Zixin.
Yang ia maksud, bukankah mereka sudah jadi teman?
Meski ia tak tahu apakah ucapan Xue Zixin itu ada pengaruhnya dengan “Taburan Hati” yang tadi ia gunakan, ia tetap sangat senang dan mengangguk mantap pada Xue Zixin.
Ya, mereka memang sudah jadi teman.
Saat itu juga, Huang Ciyao berharap sepenuh hati, Xue Zixin mau berteman dengannya bukan karena pengaruh “Taburan Hati”.
Namun tatapan Xue Zixin perlahan menjadi sungguh-sungguh.
“Dengan keinginan sendiri.”
Setelah mengatakan itu, ia pun bangkit dari rumput dan perlahan melangkah ke arah matahari.
Matahari semakin tinggi, cahaya makin terang, menatapnya lama-lama membuat kepala agak pening.
Huang Ciyao menatap sosok Xue Zixin yang berjalan menantang cahaya, tanpa sadar ia mengangkat tangan menutupi setengah matanya, lalu tenggelam dalam lamunan.
Kali ini, Xue Zixin membalas kalimat yang mana?
Yang pertama?
Atau, siapa tahu, justru suara hati yang baru saja ia gumamkan?