Bab Tiga: Selera Estetika yang Gagal
Pagi sekitar pukul delapan atau sembilan, matahari bersinar cerah, udara di pertengahan Maret di Selatan terasa hangat, hembusan angin musim semi yang sesekali lewat membuat sinar mentari tidak terlalu menyengat. Tumbuhan di pinggir jalan pun tampak menikmati cuaca seperti ini, bunga azalea, tabebuya, dan bunga kaki kambing bermekaran dengan meriah, ranting dan kelopak bermalas-malasan menampilkan keindahan masing-masing, lembut dan manis tanpa saling bersaing.
Kebetulan hari ini akhir pekan, jumlah mahasiswa di kampus tidak seramai hari biasa, tetapi pengunjung tetap banyak. Universitas Xundao memang terkenal sebagai kampus berlandskap taman, bahkan merupakan salah satu destinasi wisata di kota ini. Setiap musim bunga, seluruh kampus dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, menarik banyak wisatawan untuk berkunjung dan berfoto. Agar tidak mengganggu proses belajar mahasiswa, kampus ini membatasi kunjungan umum setiap harinya, baik dari segi waktu maupun jumlah pengunjung. Meski begitu, pengunjung tetap saja membanjir, seramai bunga yang bermekaran.
Pada saat itu, Wen Guozhi adalah salah satu dari para penikmat bunga di Universitas Xundao. Sebenarnya, ia datang hari ini bukan untuk menikmati keindahan kampus, melainkan mencari sepupunya yang selalu membuat masalah.
Bisa dibilang, ia juga setengah alumni kampus ini, sehingga lingkungan ini sudah tidak asing baginya. Hanya saja, masa belajarnya di Universitas Xundao tidak lebih dari setahun. Awalnya, Wen Guozhi memang tidak berniat untuk mendaftar di kampus ini, tetapi ia tidak bisa melawan keputusan ibunya, sementara ayahnya pun tak pernah peduli apa yang ia sukai. Ia pun akhirnya menuruti dan kuliah di sana. Namun, baru saja ia mulai beradaptasi di Xundao, Wen Guozhi harus buru-buru melanjutkan studi ke luar negeri.
Tentu saja, itu juga keputusan ibunya.
Wen Guozhi memang tidak punya kesan khusus terhadap Universitas Xundao, tapi ia sangat suka berkeliling di dalam kampus ini.
Tidak ada alasan khusus, hanya karena Wen Guozhi sangat mencintai bunga.
Bunga-bunga yang bermekaran indah menambah sedikit kehidupan dalam dunia yang menurutnya membosankan. Ia paling menyukai bunga crabapple, terutama yang jenis ranting menunduk. Baginya, bunga itu lembut dan manis, anggun tanpa terlihat berlebihan, benar-benar menggemaskan.
Menurutnya, tak ada yang lebih menawan di dunia ini selain bunga.
“Cuacanya benar-benar cerah hari ini~”
Di salah satu asrama putri Universitas Xundao, selain Ling Ling yang baru bangun tidur, hanya ada Huang Chiyao yang sedang membereskan dokumen.
Ling Ling meregangkan tubuh sambil memandang keluar jendela. Matahari masuk dengan pas, hangatnya terasa seperti daun teh yang baru direndam air panas, seluruh tubuh pun terasa rileks.
Ia tidak ingin menyia-nyiakan indahnya pagi musim semi ini, lalu mengusulkan, “Yao Yao, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Berjemur di bawah matahari pasti menyenangkan, kan?”
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Huang Chiyao hampir selalu menolak ajakan Ling Ling. Jurusan mereka memang berbeda, beban kuliah Huang Chiyao jelas lebih berat dari Ling Ling, sehingga Ling Ling pun maklum. Namun, ia selalu menanyakan setiap kali kesempatan muncul, berharap suatu saat Huang Chiyao akan mengiyakan.
Akhir-akhir ini Huang Chiyao memang sangat sibuk, beberapa hari berturut-turut ia dikejar tugas akhir, juga sedang mempersiapkan wawancara magang minggu depan, pagi ini pun ia sedang merapikan dokumen yang diperlukan untuk wawancara, benar-benar hampir tidak sempat beristirahat.
Ling Ling memang sedikit lebih santai. Keluarganya cukup berada, bisnis keluarga mereka kebetulan menyediakan posisi yang sesuai dengan jurusannya, jadi ia telah mendapatkan tempat magang jauh-jauh hari, membuatnya lebih tenang dibandingkan Huang Chiyao.
Huang Chiyao berpikir persiapannya sudah cukup, jadi keluar untuk menghirup udara segar juga bagus. Ia pun setuju dengan senang hati, “Baiklah, cepat sikat gigi dan cuci muka, setelah ganti baju kita berangkat.”
Melihat Huang Chiyao akhirnya tidak menolak, Ling Ling pun langsung melonjak girang berlari ke kamar mandi, “Tunggu aku, aku tidak perlu make up, sebentar saja!”
Setelah Ling Ling selesai bersiap, ia melihat Huang Chiyao sudah berganti baju. Meski sudah terbiasa, ia tetap saja menghela napas.
Matanya terasa perih.
Melihat Huang Chiyao, ia seolah melihat pohon sakura yang rantingnya digantungi kantong-kantong sampah beraneka warna.
Pakaian yang biasa dikenakan Huang Chiyao ke kampus biasanya hanya kaos dan celana jeans. Meski motif di bajunya kadang agak acak-acakan, setidaknya modelnya sederhana dan umum, jadi masih bisa diterima. Namun, jika harus keluar, pakaiannya benar-benar penuh warna dan luar biasa aneh.
Kadang ia memakai gaun garis-garis dengan empat warna mencolok yang berbeda tebal tipisnya; kadang jumpsuit dengan potongan aneh yang membuat pinggang terlihat panjang dan kaki pendek; atau kombinasi atasan dan bawahan dengan warna kuning, ungu, hijau, dan pink sembarangan; yang paling parah, ia pernah memakai kaos Polo model pria, motif macan tutul.
Ling Ling benar-benar tidak paham dari mana Huang Chiyao mendapatkan pakaian-pakaian aneh itu. Ia bahkan tak mau mengakui bahwa sahabatnya itu benar-benar memilih baju-baju itu dengan serius.
Hari ini, Huang Chiyao memakai kaos Polo bermotif macan tutul itu. Mungkin karena panjangnya tanggung, ia sengaja memasangkannya dengan celana kulot biru muda tiga perempat.
Benar-benar luar biasa.
Ling Ling merasa, ini sudah melampaui batas imajinasinya sebagai manusia biasa.
Meski begitu, Ling Ling tidak pernah memaksa Huang Chiyao untuk mengubah selera berpakaiannya.
Bukan tidak ada yang pernah bertanya langsung pada Huang Chiyao, namun karena ia sendiri merasa itu bukan masalah besar dan sama sekali tidak peduli, Ling Ling pun tak pernah berniat mencampuri urusan pribadi sahabatnya.
Ia hanya bisa menghibur diri dengan berkata, “Cantik itu memang hak istimewa.” Sudahlah, jangan dipikirkan, pakaian hanya sekadar pelindung tubuh dari dingin dan debu, selama fungsinya tercapai, itu sudah cukup. Ia hanya perlu menikmati melihat wajah Yao Yao saja sudah bahagia.
Ya, selera berpakaian Huang Chiyao memang aneh, tapi wajahnya sungguh menawan.
Meskipun selera fashion-nya yang nyeleneh berhasil membuat banyak orang mundur, tetap saja banyak yang rela menutup mata atas pakaiannya demi kecantikan wajahnya.
Benar saja, baru beberapa langkah keluar asrama, seorang mahasiswa laki-laki sudah memanggil mereka.
“Huang, kebetulan sekali bertemu!”
Secara refleks, Ling Ling langsung memposisikan diri setengah di depan Huang Chiyao.
Mahasiswa itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Huang Chiyao.
Huang Chiyao mengerutkan kening. Ia tidak terlalu mengenali laki-laki itu, namun karena ia bisa memanggil namanya, mungkin pernah bertemu sekali dua kali di acara kampus. Ia pun hanya mengangguk, mengucapkan “halo”, lalu menarik Ling Ling untuk pergi.
Namun laki-laki itu buru-buru menghadang mereka, “Eh, tunggu dulu! Jarang-jarang bertemu, ayo kita jalan bareng! Lihat deh, bunganya lagi bagus banget, aku bisa fotoin kalian, lho! Aku ini anggota inti klub fotografi!”
Sambil berkata begitu, laki-laki itu menilai Huang Chiyao dari atas ke bawah, lalu mengerutkan kening, “Tapi, pakaianmu hari ini agak... aneh. Apa kamu dapat saran aneh dari teman sekamar? Sayang banget, padahal wajahmu cantik sekali.”
Namun ia dengan percaya diri menambahkan, “Tapi tenang saja, aku jago framing, aku bisa menghindari pakaianmu di foto, jaminan wajahmu tetap terlihat lebih indah dari bunga. Coba, kamu berdiri di sini...”
Ling Ling memang sudah agak jengkel sejak awal, mendengar itu ia makin kesal dan langsung memotong, “Tidak usah, kalau kamu tidak suka pakaian Yao Yao, tak perlu repot-repot pamer keahlianmu. Yao Yao, ayo pergi!”
“Eh, jangan dong! Aku salah bicara, maaf ya!” Laki-laki itu buru-buru menghadang mereka, “Kakak, Huang saja tidak keberatan, kenapa kamu ikut campur?”
“Apa yang dia katakan, itulah juga pendapatku.” Kali ini Huang Chiyao tak lagi sopan. “Tolong jaga sikapmu.”