Bab Delapan Belas: Kuliah Alumni
Di salah satu aula besar Universitas Senda, Fakultas Teknik sedang menggelar kuliah umum bersama para alumni berprestasi, dan seluruh kursi telah terisi penuh.
Meski ujung semester membuat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, kuliah umum hari ini tetap berhasil menarik banyak peserta. Alasannya sederhana: para pembicara yang diundang adalah tokoh-tokoh ternama di bidangnya, dan yang paling terkenal di antaranya adalah seorang anggota Akademi Teknik Nasional. Banyak mahasiswa datang khusus untuk mendengarkan beliau.
Saat ini, giliran sang akademisi tampil sebagai pembicara penutup.
Su Jin dan Huang Chiyao duduk bersama di barisan agak depan, sehingga dapat melihat dengan jelas. Walaupun pada awalnya Huang Chiyao tidak berniat mengikuti kuliah umum ini, ia tetap mendengarkan setiap pembicara dengan penuh perhatian. Meskipun tidak semua materi relevan baginya, setidaknya bisa menambah wawasan.
Toh, sudah terlanjur datang, masa mau disia-siakan? Begitulah nilai luhur tradisional.
Kuliah penutup kali ini memang luar biasa. Sang akademisi yang tengah berada di usia matang berbicara dengan lembut dan logis, mendorong para mahasiswa untuk giat belajar, serta menyisipkan banyak contoh menarik agar mudah dipahami. Hampir semua hadirin terhanyut oleh ceramahnya.
Huang Chiyao pun ikut terpesona, namun berbeda dengan yang lain, ia sempat teringat tujuan awalnya datang ke sini sehingga pikirannya sedikit terpecah.
Bukankah Su Jin bilang Wen Guzhi akan datang? Jangan-jangan Su Jin, selaku pengurus Himpunan Teknik, sengaja berbohong agar lebih banyak orang hadir?
Terus terang, alasan ia mengubah keputusan untuk mengikuti kuliah umum ini memang karena Wen Guzhi.
Ia ingin mencari tahu lebih banyak tentang calon bosnya dari jalur lain, supaya kelak masa magangnya bisa berjalan lancar.
Kesan Huang Chiyao terhadap Wen Guzhi masih berkisar pada “wajah menawan”, “fobia hewan berkaki empat”, dan “direktur muda pewaris perusahaan besar yang sulit dimengerti”. Maka sebelum wawancara tahap kedua, ia sempat mencari informasi tentang Wen Guzhi, namun hasilnya sangat minim.
Secara logika, tidak mungkin informasi tentang pewaris grup besar begitu sedikit di ranah publik. Ini hanya berarti bahwa riwayat tentang Wen Guzhi memang pernah dibersihkan, atau sengaja disembunyikan.
Maka setelah wawancara kedua, kesan tambahannya hanya satu: misterius.
Bagi Huang Chiyao, Wen Guzhi belum pernah masuk dalam kategori “sangat kompeten”.
Tanpa terasa, kuliah sang akademisi telah usai. Tepuk tangan menggema di seluruh aula, para mahasiswa berdiri memberi aplaus dengan penuh antusias, suasana kuliah umum mencapai puncaknya.
Begitu tepuk tangan mulai mereda, pembawa acara maju ke depan dan mengumumkan bahwa hanya tinggal satu pembicara terakhir yang belum tampil.
Huang Chiyao hendak menoleh untuk menegur Su Jin, namun ia mendapati Su Jin sudah mengangkat kedua tangannya, tampak bersemangat dan penuh harap.
Oh, ternyata memang giliran terakhir.
Benar saja, begitu nama “Wen” disebut, Su Jin langsung bertepuk tangan sangat keras sampai-sampai orang lain mungkin mengira ini adalah acara jumpa penggemar idola.
Bisa jadi memang benar Wen Guzhi adalah idolanya.
Huang Chiyao pun ikut bertepuk tangan, merasa geli sekaligus pasrah. Ia jarang bertemu dengan adik yang mengidolakan kakaknya sendiri, dan Su Jin orang pertama yang ia temui seperti itu.
Meski begitu, ia tetap tidak paham alasan Su Jin begitu mengagumi Wen Guzhi.
Saat pembawa acara mengumumkan nama Wen Guzhi, reaksi hadirin biasa saja. Rupanya, setelah mendapat suguhan kuliah memukau dari seorang akademisi, nama berikutnya yang asing terdengar menimbulkan kekecewaan; beberapa orang bahkan mulai berkemas hendak meninggalkan aula.
Huang Chiyao pun sedikit heran, bukankah seangkatan dengannya ada juga yang lolos ke tahap kedua magang di Zhixin Teknologi? Mengapa reaksi mereka biasa saja?
Pembawa acara sigap menanggapi, segera memperkenalkan: “Mungkin banyak di antara kalian yang belum mengenal nama ini, kakak tingkat kita, Wen, saat ini adalah direktur cabang Zhixin Teknologi di kota kita.” Kemudian ia menyebutkan deretan penghargaan yang pernah diraih Wen Guzhi dalam berbagai ajang bergengsi.
Semakin didengar, Huang Chiyao makin kebingungan. Jika memang sederet prestasi itu benar adanya, seharusnya mudah dicari di internet, bukan? Atau memang sengaja disembunyikan?
Namun, begitu nama “Zhixin Teknologi” disebut, hampir tak ada lagi yang berniat beranjak pergi, malah suasana jadi ramai oleh bisik-bisik.
“Mari kita sambut pembicara terakhir kita hari ini, Tuan Wen Guzhi!”
Tepuk tangan mula-mula terdengar biasa, namun saat Wen Guzhi muncul, tepuk tangan itu tiba-tiba membesar.
Berbeda dengan saat wawancara, hari ini Wen Guzhi tidak memakai setelan formal, hanya kaus putih sederhana, kemeja lengan pendek warna terang, dan celana jins. Penampilannya segar dan bersih, selain wajah yang menonjol, dari leher ke bawah ia tampak sama seperti mahasiswa biasa.
Ternyata, betapapun rasional seseorang, pasti tetap ada satu sifat manusiawi—menilai dari wajah.
Huang Chiyao berpikir, Direktur Wen memang serba bisa.
Namun, penampilan direktur semuda itu terasa kurang meyakinkan, sehingga bisik-bisik makin ramai.
Wen Guzhi menyesuaikan posisi mikrofon, menatap sekilas ke hadirin, lalu tanpa peduli reaksi mereka, ia tersenyum tipis dan langsung mulai berbicara.
“Sebenarnya, saya cuma setengah alumni di sini.”
“Saya tidak lulus dari Senda, saya hanya berkuliah di sini sedikit lebih dari satu tahun, lalu melanjutkan dari awal di luar negeri. Untung saja, total masa studi yang saya jalani tidaklah lama.”
“Tapi hari ini saya tidak akan membagikan pengalaman pribadi saya, karena itu tidak banyak gunanya buat kalian. Keluarga dan kemampuan kita berbeda, titik awal pun tidak sama.”
Seluruh ruangan langsung riuh.
Hampir semua pembicara sebelumnya menceritakan pengalaman belajar mereka, karena itulah yang biasa dibagikan alumni. Namun Wen Guzhi justru mengambil jalan berbeda, bahkan terkesan arogan.
Wen Guzhi memperhatikan reaksi hadirin, lalu tersenyum tipis dan mengubah arah pembicaraan, “Namun, ada beberapa teknik yang bisa saya bagi, misalnya teknik membangun harapan pada orang lain.”
“Teknik itu sifatnya seperti petunjuk manual. Asal bisa membaca dan memahami, siapa saja bisa melakukannya. Tidak peduli kaya atau miskin, pintar atau biasa saja, semua bisa memakai teknik ini. Kalian mahasiswa, saya yakin memahami teknik yang akan saya bagikan bukan masalah. Anggap saja seperti tips-tips praktis di internet.”
Lalu Wen Guzhi mulai memaparkan satu per satu teknik yang dimaksud, hanya dengan kalimat singkat, sudah mencakup urusan studi, karir, bahkan wirausaha.
Ada yang unik, ada yang lama dikemas baru, dan banyak yang menawarkan sudut pandang segar.
Beragam, membuka wawasan.
Hanya berfokus pada kepraktisan, tanpa basa-basi motivasi.
Akhirnya, Wen Guzhi menutup dengan senyum, “Tentu saja, saya tidak yakin teknik yang saya bagikan pasti bisa kalian gunakan, tapi bila suatu saat kalian menemui situasi serupa, saya percaya teknik ini bisa jadi solusi terbaik.”
“Bagaimana? Bukankah kakakku keren?” Su Jin berbisik keras di tengah riuh tepuk tangan.
Huang Chiyao tidak menjawab, ia sudah terpaku.
Menatap Wen Guzhi yang penuh semangat di atas panggung, ia sampai lupa bernapas, seolah detak jantungnya mengalir ke kepala, semakin cepat mengikuti ritme tepuk tangan di aula.
“Dug-dug! Dug-dug! Dug-dug!”
Bukan cuma pelipis, bahkan gendang telinganya ikut bergetar.
Dia benar-benar hebat.
Begitu percaya diri, namun tetap rendah hati. Begitu kuat, namun tetap membumi.
Setiap orang pasti pernah mengagumi yang kuat, begitu pun Huang Chiyao, hanya saja selama ini kekagumannya lebih banyak tertuju pada orang-orang tua, seperti akademisi tadi.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mengagumi seseorang yang sebaya.
Karena yang kuat selalu tahu cara paling langsung untuk memikat hati.
Akhirnya, Huang Chiyao mulai memahami Su Jin, dan dirinya pun perlahan-lahan berubah menjadi Su Jin.