Bab Delapan: Makan Hotpot Tanpa Saus
Jamuan makan siang pertama Huang Chiyao dan Su Jin di kantin kampus berlangsung sangat efisien, selesai hanya dalam satu jam. Ketika mereka berjalan keluar bersama, Su Jin bertanya santai, "Oh iya, Chiyao, besok fakultas kita dan Fakultas Sains ada acara persahabatan antar jurusan, kamu mau ikut nggak?"
Huang Chiyao menggeleng, "Aku nggak ikut, besok aku ada wawancara magang."
"Udah dapat magang secepat ini? Perusahaan besar ya?"
"Bisa dibilang begitu, perusahaan teknologi, baru aja buka cabang di kota ini, dan bagian teknik listrik mereka kebetulan punya program magang, jadi aku coba aja." Huang Chiyao melirik jam tangannya, merasa waktunya sudah tiba, lalu melambaikan tangan pada Su Jin, "Aku masuk kelas dulu ya! Nanti ngobrol lagi."
Su Jin memandangi punggung Huang Chiyao, berkedip pelan.
Perusahaan teknologi? Cabang baru?
Seharusnya... nggak mungkin kebetulan banget, kan?
Keesokan harinya.
Huang Chiyao berdiri di depan sebuah gedung baru yang tinggi, menengadah melihat huruf-huruf besar di puncaknya. Di bawah sinar matahari, tepi huruf-huruf itu memantulkan cahaya yang menyilaukan. Ia mengangkat telapak tangan menutupi matanya, namun tak bisa menahan diri untuk tetap mengintip cahaya yang menembus sela-sela jarinya: indah, menyala, namun juga samar, persis seperti suasana hatinya saat ini—ada rasa haru, harapan, dan sebersit kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Yang membuatnya terharu adalah, waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia masih mahasiswa baru yang penuh semangat, kini sudah hampir menamatkan masa kuliah dan siap menjejak dunia kerja.
Yang ia harapkan, hari ini wawancara magangnya bisa dibilang lancar, dan ia merasa punya firasat kuat akan diterima.
Meski saat wawancara, Huang Chiyao tak bisa menghindar dari pertanyaan klise: mengapa seorang perempuan memilih jurusan ini.
Huang Chiyao memberikan jawaban andalannya: apa yang bisa dilakukan laki-laki, ia pun mampu melakukannya. Ia bisa membuktikan dengan kemampuannya sendiri.
Walau pertanyaan-pertanyaannya tidak mudah, ia telah mempersiapkan diri dengan baik, ditambah lagi nilai-nilainya bagus, sehingga pewawancara pun sulit untuk meragukannya.
Akhirnya, manajer divisi yang juga turut mewawancarai berkata, "Kalau kamu bergabung, suasana kerja di departemen kami pasti akan makin hidup. Teman-teman pasti akan menyambutmu."
Kedengarannya memang sedikit aneh, tapi membuatnya makin yakin peluang magang di perusahaan ini sudah hampir pasti di tangannya.
Adapun kegelisahan kecil itu...
Huang Chiyao sebenarnya belum memberitahu keluarganya soal rencana magang ini. Ia tak tahu apa reaksi keluarga, terutama ayahnya.
Ayahnya tampaknya kurang suka kalau ia harus bekerja terlalu jauh dari rumah.
"Keroncongan~"
Memang kalau otak dipakai keras, jadi cepat lapar.
Huang Chiyao mengusap perutnya, tiba-tiba teringat semalam ia sempat sedikit sakit perut dan diare gara-gara makan siang kemarin. Untungnya tidak parah, jadi tidak mengganggu wawancara hari ini.
Ia juga merasa aneh, padahal tak memesan makanan yang terlalu pedas, entah kenapa bisa diare.
Ternyata, memang tidak ada makan siang gratis di dunia ini.
Saat ia hendak pergi, tiba-tiba grup kecil asrama mengiriminya pesan perhatian.
Ling Ling: "Yao yao yao! Gimana tadi wawancaranya?"
Zhang Dianxin: "Pasti lancar. Aku selalu yakin sama kamu, Chiyao. Soalnya kamu paling ngerti konsep kulinerku."
Ling Ling mengirim stiker tutup mulut: "Dia kan ke perusahaan teknologi, apa hubungannya sama makananmu?"
Zhang Dianxin membalas, "Orang hidup itu butuh makan, semua bidang pasti nyambung sama makanan!"
Melihat perdebatan yang mulai memanas, Huang Chiyao buru-buru mengetik balasan agar tak meluas, "Lancar kok, pewawancara bilang sepertinya nggak ada masalah besar, tapi tetap harus diajukan dulu ke atasan untuk persetujuan."
Ling Ling langsung mengirim stiker bersorak dan hati.
Zhang Dianxin juga membalas, "Tuh kan, aku bilang juga apa. Cepat pulang, kita rayakan dengan makan enak!"
Ling Ling kali ini setuju, "Yuk makan hotpot! Aku traktir!"
Zhang Dianxin antusias, "Aku mau yang di perempatan Jalan Shipaifang! Saus cocolannya wangi banget!"
Begitu membaca pesan Zhang Dianxin, otak Huang Chiyao seperti mendengar bunyi "ting!" seolah kotak Pandora terbuka.
Saus cocolan...
Sial, padahal tadi hampir lupa, ternyata kata kunci itu malah terpancing.
Saus cocolan, dan apa itu “Saus Cinta”—kekuatan aneh yang hampir ia lupakan.
Sebenarnya, bukan benar-benar lupa, hanya saja, beberapa hari ini ia sengaja menahan diri untuk tidak memikirkannya.
Singkatnya, ia sedang menghindar.
Sejak percobaan tak sengaja pada Zhang Dianxin hari itu, Huang Chiyao masih sulit mempercayai kekuatan aneh itu benar-benar nyata. Ia juga tak yakin, apakah ucapan Zhang Dianxin waktu itu benar-benar karena kekuatan tersebut atau hanya kebetulan belaka.
Tapi setelah hari itu, setiap kali melihat Zhang Dianxin ke toilet dua hari berturut-turut dengan ekspresi penuh harap sambil berdoa, “Semoga hari ini baunya wangi juga,” di benak Huang Chiyao muncul bayangan pemuda aneh itu, dengan gaya penuh kemenangan berkata, “Gimana? Kekuatan super yang Om jual ke kamu, hebat kan?”
Aneh, sungguh aneh.
Tidak, ia tetap tak mau percaya.
Selain itu, kalau hasil percobaan tidak bisa diulang, berarti kesimpulannya juga tidak bisa diandalkan.
Namun, ia pun tak berani mencoba ke orang lain. Kalau kekuatan itu ternyata palsu, tak masalah. Tapi jika benar, siapa tahu ada efek sampingnya.
Meski sejauh ini, baik pada Zhang Dianxin maupun dirinya sendiri, tampaknya tak ada efek samping apa pun.
Hm... menanti-nanti saat ke toilet sepertinya bukan masalah besar.
Huang Chiyao mengusap pelipis, dalam hati menyesal, seharusnya hari itu tak usah ikut campur urusan orang.
Sambil berpikir begitu, ia pun tanpa ekspresi mengetik beberapa baris pesan.
“Jangan makan hotpot yang pakai saus cocolan.”
“Tanpa saus cocolan.”
“???”
“Saus cocolan itu bukan hal baik.”
“???”
Melihat dua rekannya mengirim dua kali tanda tanya berturut-turut, Huang Chiyao nyaris tertawa, namun tiba-tiba teleponnya berdering.
“Apakah ini Nona Huang Chiyao? Saya dari perusahaan Teknologi Zhixin, bagian HRD, nama saya Xu, tadi kita sempat bertemu.”
“Oh, halo.” Huang Chiyao agak bingung. Ia baru saja keluar, kenapa sudah ditelepon lagi?
“Maaf, ada satu dokumen penjelasan yang lupa minta tanda tangan Anda. Bisa tolong kembali ke ruang rapat lantai 36 tadi untuk menandatanganinya? Anda belum jauh, kan?”
“Belum, saya baru di bawah gedung. Saya naik ke atas sekarang.”
“Baik, terima kasih.”
Untung saja belum pergi jauh.
Huang Chiyao pun kembali ke lobi menunggu lift. Ketika lift naik dari basement dan pintunya terbuka, ia mendapati sudah ada seseorang di dalam.
Seseorang yang pernah ia temui sebelumnya.
Huang Chiyao mengakui dirinya tidak pandai mengingat wajah orang, tapi wajah yang satu ini sulit dilupakan.
Karena tampan sekali.