Bab 68: Kegelapan Tak Bertepi
Pada hari ulang tahunnya yang kesepuluh, kedua orang tua Wen Guozhi tiba-tiba muncul bersama di rumah dalam suasana yang sangat tenang.
Ibunya, yang biasanya mudah marah kepada ayahnya, hari itu hanya duduk diam di sofa dengan kepala tertunduk, entah sedang memikirkan apa. Sementara itu, ayahnya pun memperlakukannya dengan ramah, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Guozhi, hari ini ulang tahunmu. Ayah akan mengajakmu ke kebun binatang, bagaimana?”
Itulah pertama kalinya ia melihat ayahnya tersenyum.
Wen Guozhi begitu terkejut dan bahagia. Ia bahkan sempat meragukan apakah dirinya masih bermimpi, belum benar-benar terbangun.
Ketika ia hendak mengucek matanya untuk memastikan, ayahnya telah lebih dulu menggenggam tangannya. “Ayo, kita pergi ke kebun binatang.”
Hari itu mungkin adalah hari paling bahagia dan memuaskan dalam hidup Wen Guozhi sejak ia lahir.
Wen Ruxin membawa putranya ke sebuah kebun binatang yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Kebun binatang itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, namun selain satu dua petugas, tak ada satu pun pengunjung lain yang tampak.
Wen Guozhi berpikir, pasti ayahnya menyewa seluruh kebun binatang itu hanya untuk merayakan ulang tahunnya.
Mungkin, ayahnya benar-benar peduli padanya.
Dengan penuh semangat dan melompat-lompat, Wen Guozhi menggandeng tangan Wen Ruxin sambil melihat berbagai binatang. Setiap kali melihat sesuatu yang menarik, ia akan menunjukkannya dengan antusias kepada ayahnya.
“Ayah! Lihat, monyet itu lucu sekali!”
“Ya,” jawab ayahnya singkat.
Setiap kali ayahnya merespons, walau hanya satu dua kata, Wen Guozhi semakin senang.
Setelah mereka berkeliling dari ujung ke ujung kebun binatang itu, langit mulai gelap. Wen Ruxin berkata pada Wen Guozhi, “Guozhi, ayah akan membelikanmu minum. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana, ya?”
“Baik, Ayah!”
“Sebelum ayah kembali, kamu tidak boleh melangkah satu langkah pun dari sini, mengerti?”
“Mengerti!”
Maka Wen Guozhi pun menunggu di tempat itu, dengan patuh menanti ayahnya kembali menjemputnya.
Namun, dari senja hingga malam, hingga gemintang memenuhi langit, tak seorang pun muncul di sekitarnya. Hanya suara serangga dan beberapa binatang di dekatnya yang terdengar. Ayahnya tetap tidak kembali.
Lampu-lampu di kebun binatang tidak dinyalakan. Wen Guozhi merasa takut, ingin pergi dari sana, tapi ia khawatir ayahnya akan kesulitan mencarinya jika ia pergi.
Ia berpikir, pasti ayahnya mengalami sesuatu sehingga tak bisa segera kembali. Maka ia memberanikan diri untuk terus menunggu di tempat itu.
Malam semakin larut, suara serangga terdengar semakin dekat, seolah hendak menelannya.
“Ayah…” Wen Guozhi hampir menangis.
Saat itu, ia mendengar langkah kaki pelan di belakangnya.
Ketika ia berbalik, dari kegelapan muncul sebuah bayangan yang perlahan mendekatinya.
Air matanya langsung mengalir deras, ia berbalik dan berlari sambil berteriak, “Ayah!”
Bayangan itu berubah, dari satu menjadi dua.
Ada pula cahaya merah api yang bergoyang-goyang.
Wen Guozhi terhenti.
“Ayah?”
Dua bayangan, satu besar satu kecil, tiba-tiba berpencar menjadi tiga, empat...
Semakin lama semakin banyak, tinggi rendah, seperti sekelompok hantu yang membawa nyala api kecil namun tampak beringas, merayap ke arahnya.
“Ahhhhhh!!!!”
-----------------
Begitu sunyi.
Di hadapannya hanya ada putih yang menyilaukan, namun rasanya seperti terperangkap dalam kegelapan tanpa batas, sunyi hingga tak terdengar apapun, seolah semua suara telah terisolasi.
Huang Chiyao duduk diam di kursi depan ruang rawat, menatap dinding putih.
Ketika ia menunduk, ia melihat noda darah di tangannya dan tertegun sejenak.
Itu bukan darahnya.
Itu darah Wen Guozhi.
Mengingat kejadian barusan, hatinya dipenuhi rasa ngeri dan penyesalan.
“Bumbu Hati” miliknya gagal berfungsi.
Saat itu, kondisi Wen Guozhi sangat mengkhawatirkan, membuat takut sekaligus pilu. Namun petugas medis belum tiba, dan Huang Chiyao tak punya cara lain selain mencoba meredakan emosi Wen Guozhi dengan “Bumbu Hati”, setidaknya agar ia cukup tenang untuk menunggu pertolongan medis.
Namun kali ini, “Bumbu Hati” benar-benar tidak berguna.
Menurutnya, emosi yang ia tanamkan pada Wen Guozhi sudah cukup lembut, dan arahannya pun tepat. Ia bahkan melihat gigi Wen Guozhi mulai mengendur, namun ketika ia dan Su Jin hendak membuka mulut Wen Guozhi agar ia bisa bernapas lega, ia justru menggigit bibirnya lebih keras hingga berdarah, menodai tangan Huang Chiyao dengan merah yang menyala dan memilukan.
Akhirnya, Wen Guozhi langsung pingsan.
Huang Chiyao pun ketakutan hingga seluruh tubuhnya menggigil.
Apa yang harus dilakukan? Bukankah orang kaya biasanya selalu membawa dokter pribadi? Di mana mereka!?
“Tidak ada tenaga medis di lokasi? Cepat bawa dia ke rumah sakit!”
Untung saja, Xu Keke yang sejak pesta dimulai tidak kelihatan, tiba-tiba muncul dari helikopter, membawa tim medis yang langsung membawa Wen Guozhi ke rumah sakit.
Ketika Huang Chiyao sampai di rumah sakit pribadi mereka bersama mobil ambulans, Wen Guozhi sudah keluar dari masa kritis dan dipindahkan ke ruang ICU.
Namun pikirannya masih kacau.
Andai saja Xu Keke tidak muncul tepat waktu, ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Wen Guozhi.
Tapi kenapa kali ini serangan fobia Wen Guozhi begitu parah?
Apakah karena monyet itu lebih berbahaya daripada hewan berkaki empat lainnya?
Atau… bukan hanya karena monyet itu?
“Chiyao!”
Suara teriakan Su Jin membuyarkan lamunan Huang Chiyao.
“Kenapa lenganmu berdarah?”
“Itu bukan darahku,” jawab Huang Chiyao, mengira yang dimaksud adalah darah di tangannya. “Itu… darah kakakmu.”
“Bukan!” Su Jin memegang lengannya dengan hati-hati. “Maksudku di sini, di lenganmu! Luka ini jelas sekali, kamu tidak merasa sakit?”
Huang Chiyao baru menyadari ada beberapa luka berdarah di lengannya. Ia berpikir sejenak, lalu ingat bahwa itu pasti akibat cakaran monyet tadi.
Setelah diingatkan Su Jin, barulah ia mulai merasakan nyeri.
“Itu cakaran monyet,” jawab Huang Chiyao sambil tiba-tiba teringat pada pemilik monyet itu. “Benar, di mana ayah dan anak itu? Ke mana Wen Ruxin dan Wen Rou?”
Namun Su Jin dengan marah menarik Huang Chiyao ke arah lift.
“Hei, Su Jin! Tunggu…”
“Aku benar-benar dibuat kesal olehmu. Sudah dicakar monyet, kamu tak bilang apa-apa, malah memikirkan orang lain? Cepat suntik vaksin rabies! Luka itu juga harus dirawat!”
“Tapi Wen Guozhi…”
“Kakakku sudah selamat. Banyak orang yang merawatnya, tanpa kamu pun cukup. Tapi kamu sendiri, apa kamu tak peduli pada hidupmu?”
Huang Chiyao terdiam.
Sebenarnya, ia tidak terlalu khawatir dengan lukanya. Monyet itu bukan monyet liar, kalau dipelihara Wen Rou, pasti sudah divaksin.
Yang ia pikirkan hanyalah kalimat pertama Su Jin.
Memang benar, tak kurang orang yang merawat Wen Guozhi.
Tapi ia tidak ingin menjadi perawat.
Ia ingin menjadi orang yang bisa berdiri di sisinya.