Bab 15

Quando a Cigarra Verde Cai Ding Mo 2984kata 2026-08-01 05:55:01

Pagi-pagi sekali, Luo Huaizheng memijat pelipisnya dan bangkit dari ranjang lipat yang keras. Semalam ada proyek yang harus dikerjakan hingga larut malam, jadi ia langsung tidur di kantor—sama seperti banyak hari sebelumnya.

Belum ada satu pun karyawan yang datang ke kantor. Luo Huaizheng buru-buru mandi, melipat selimutnya, merapikan ranjang lipat dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan, lalu berganti pakaian bersih. Ada sisa nasi goreng di dalam kulkas dari semalam, yang kemudian ia hangatkan di dalam microwave, lalu melahapnya dalam beberapa suapan besar untuk sarapan seadanya.

Ia berjalan ke dekat jendela, menyalakan sebatang rokok untuk menyegarkan pikiran. Namun, pelipisnya masih terasa berdenyut nyeri, pertama karena kurang tidur, dan kedua karena insomnia yang kerap melanda seminggu belakangan ini.

Sebenarnya Luo Huaizheng sudah lama tidak mengalami insomnia. Tidak seperti tahun pertamanya di dalam sana, ketika ia harus terjaga sepanjang malam hingga fajar menyingsing. Keadaannya berangsur membaik setelah itu; setiap hari di penjara ia berolahraga mati-matian dan membaca buku, sehingga begitu malam tiba ia bisa langsung tertidur pulas. Terkadang ia terbangun karena mimpi buruk, tetapi ia bisa dengan dingin memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya.

Dua tahun lalu ia bebas dari penjara, dan berkat bantuan kepala lapas serta beberapa narapidana lain, ia mulai menerima pekerjaan-pekerjaan kecil. Karena hasil kerjanya cepat, berkualitas, dan murah, pekerjaannya semakin banyak hingga akhirnya ia bisa menabung sedikit uang. Namun, ia melangkah maju dengan penuh kehati-hatian dan rasa gentar, seperti berjalan di atas es tipis. Ia sadar bahwa dirinya bisa kembali diterima di tengah masyarakat secepat ini sepenuhnya berkat bantuan tanpa pamrih dari banyak orang di belakangnya. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berbuat salah.

Setiap kali pekerjaannya benar-benar keteteran dan tidak teratasi, ia baru akan merekrut satu orang, lalu merekrut satu orang lagi. Cukup lama Luo Huaizheng hanya menyisihkan biaya hidup yang sangat minim untuk dirinya sendiri setiap bulan, sementara sisanya dibagikan kepada timnya. Hingga hari ini, perusahaannya baru memiliki sekitar dua puluh orang karyawan termasuk dirinya sendiri. Mereka menyewa setengah lantai kecil di sebuah gedung perkantoran paling pojok dan paling reyot di kawasan industri tersebut. Kendati demikian, akhirnya mereka memiliki klien dan pendapatan yang stabil setiap bulan, serta berhasil menancapkan pijakan di Kota Xiangcheng.

Dua bulan lalu, ia membelikan orang tuanya sebuah apartemen baru seluas 120 meter persegi. Melihat kedua orang tuanya akhirnya bisa pindah dari lingkungan lama yang kumuh dan menunjukkan senyum bahagia yang sudah lama tak terlihat, secercah kebahagiaan yang telah lama hilang turut membuncah di dalam hatinya.

Justru dalam situasi seperti inilah Ma Junhong memaksa dan menyereretnya menghadiri reuni sekolah. Mengingat statusnya saat ini sebagai pendiri usaha rintisan dan seorang pebisnis yang pragmatis, ia sudah tidak lagi memiliki gengsi untuk menolak peluang-peluang relasi semacam itu.

Selain itu, ia juga sangat ingin kembali melihat mereka.

Namun sekarang, Luo Huaizheng sudah menyesali keputusannya menghadiri reuni tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam dari sebatang rokok Baisha, tersenyum pahit, dan membatin bahwa ini mungkin adalah gangguan stres pascatrauma.

Meskipun tidur kurang dari empat jam semalam, mimpi-mimpi terus saja datang silih berganti. Selama seminggu setelah reuni itu, ada empat atau lima hari di mana ia tidak bisa lepas dari mimpi-mimpi yang kacau.

Ia kembali bermimpi, melihat orang tuanya menangis di luar pusat penahanan dengan begitu memilukan hingga meremukkan hati dan jiwanya;

Ia bermimpi tentang bulan-bulan terakhir di kelas tiga SMA, di luar jendela kelas, bayangan pepohonan bergesekan ditiup angin, saat ia menyalin buku kumpulan soal yang salah, namun tak kuasa menahan diri untuk menggambar sebuah lambang cinta kecil di samping salah satu soal. Lalu ia diam-diam mendongkak untuk menatap gadis yang sedang asyik mengerjakan soal di sampingnya.

Punggung gadis itu tampak jelas, tetapi wajahnya buram. Sudah beberapa tahun lamanya Luo Huaizheng tidak lagi dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas dalam mimpinya. Ketika terbangun, ia bahkan merasa hampir lupa seperti apa rupa Li Qingyao secara spesifik, karena gadis itu telah berada jauh, sangat jauh darinya—bagaikan jarak antara planet Merkurius dan Pluto.

Namun semalam, ia kembali bermimpi tentang masa awal semester pertama kelas dua SMA, pada bulan September saat awal tahun ajaran baru. Ia sempat merenung lama di bawah gedung kelas, lalu dengan ekspresi sangat serius menghadap wali kelas. Ia mengatakan bahwa ayah Li Qingyao dan ayahnya sebenarnya adalah kerabat jauh, dan kedua belah pihak keluarga berharap ia bisa membantu meningkatkan prestasi belajar gadis itu, sehingga ia memohon kepada wali kelas agar mereka diatur duduk sebangku. Wali kelas yang tidak menaruh curiga sedikit pun pada sang juara paralel yang bersikap tegak dan bermoral itu langsung menyetujuinya tanpa ragu...

Ia juga bermimpi, pada suatu hari sepulang jam belajar malam, karena begitu enggan untuk pulang ke rumah, ia melompati dinding pagar untuk masuk ke klinik keluarga gadis itu dan menciumnya di bawah pohon. Kali ini ciumannya bukan di pipi, melainkan di bibir. Namun, ayah gadis itu tiba-tiba mendorong pintu hingga terbuka sambil membawa kemoceng bulu ayam... Ia lari tergesa-gesa melompati dinding, tetapi apakah kejadian ini benar-benar terjadi? Dalam ingatan saat ia sadar, jelas-jelas tidak ada peristiwa seperti itu; ia tidak dapat mengingatnya dengan pasti.

Ia juga bermimpi, pada masa-masa awal masuk penjara, dirinya merasa linglung sepanjang hari, menangis tanpa henti, bahkan sempat mencoba membenturkan kepala ke dinding untuk bunuh diri sebelum akhirnya dicegah oleh para narapidana sekamar. Bully di dalam penjara seperti yang digambarkan di televisi sama sekali tidak terjadi. Beberapa narapidana senior menatapnya dengan ekspresi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, bahkan tidak berani berbicara dengan suara keras. Pada akhirnya, kepala lapas-lah yang membawanya ke ruang kerja, mengeluarkan sebuah buku soal matematika Olimpiade tingkat SMP, dan berkata, "Xiao Luo, coba tuliskan cara penyelesaian soal-soal ini untukku, putriku tidak tahu cara mengerjakannya betapapun ia mencoba." Sebagai balasannya, semua buku yang ada di ruangan itu boleh ia baca.

...

Sementara malam itu—malam yang kacau, memuakkan, dan berdarah-darah, malam yang merobek hidupnya menjadi dua bagian—sudah sangat lama tidak ia impikan lagi. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu, beberapa detailnya pun sudah tidak dapat ia ingat dengan jelas.

Ia berpikir, ini mungkin adalah mekanisme pertahanan otomatis dari otaknya.

Itulah sebabnya, setelah sekian lama berpisah dan kemudian dipertemukan kembali, ia masih saja memimpikan detail-detail yang terkubur di paruh pertama kehidupannya, detail-detail terakhir yang terasa begitu manis dan hangat.

Luo Huaizheng mengangkat tangan yang menjepit rokok, menekan sudut matanya yang lembap, lalu berkata pada dirinya sendiri, semuanya sudah berlalu, Luo Huaizheng.

Sama seperti kalimat yang telah ia ucapkan pada dirinya sendiri ribuan kali selama lebih dari dua ribu hari ini: semuanya sudah berlalu.

Paruh pertama masa remaja yang begitu gemilang dan cemerlang, jika dikenang kembali saat ini, terasa seperti milik orang lain—bukan dirinya.

Kini, Luo Huaizheng yang berusia dua puluh empat tahun, berpijak dengan mantap di atas tanah yang berdebu. Hatinya pun sudah tidak lagi melayang di langit, melainkan di bumi yang fana bersama jutaan orang biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa pula.

Setelah menghabiskan setengah bungkus rokok, para karyawan perusahaannya berdatangan satu demi satu. Ia menyeduh secangkir kopi instan untuk menyegarkan diri, lalu kembali duduk di depan komputer dan melanjutkan pekerjaannya.

Menjelang pukul sepuluh lebih, seorang karyawan yang baru saja mengangkat telepon berdiri dengan penuh semangat dan berseru, "Pesanan dari Huayu Group berhasil kita dapatkan! Direktur Luo, kita berhasil mendapatkannya! Kita dapat!"

Suasana kantor langsung bergemuruh. Semua orang berdiri dan mengerubungi Luo Huaizheng bersama karyawan tersebut. Luo Huaizheng ikut berdiri sambil tersenyum lebar.

Meskipun Huayu Group adalah sebuah grup perusahaan berskala kecil, omset tahunannya mencapai empat hingga lima ratus juta dengan tujuh atau delapan anak perusahaan. Bagi perusahaan aplikasi komputer besar, angka itu mungkin bukan apa-apa, tetapi bagi perusahaan Luo Huaizheng, ini adalah klien besar yang sangat berharga.

Sebenarnya, dalam hal kualitas proposal dan profesionalisme, Luo Huaizheng sama sekali tidak gentar menghadapi pesaing lainnya. Namun, skala perusahaan mereka yang terlampau kecil membuat mereka sempat merasa tidak yakin apakah bisa memenangkannya. Tak disangka, kabar baik datang secepat ini.

Luo Huaizheng melambaikan tangan, mengumumkan bahwa ia akan mentraktir makan siang hari ini, dan setelah proyek ini selesai dengan lancar, setiap orang akan mendapatkan bonus yang besar. Ia selalu memperlakukan bawahannya dengan sangat baik, sehingga para karyawan tampak gembira dan penuh semangat membara.

Huayu Group dengan cepat mengirimkan draf kontrak—sebuah kontrak standar baku. Luo Huaizheng dan manajer proyek memeriksa kontrak tersebut dengan sangat teliti, meminta bantuan konsultan hukum eksternal untuk meninjaunya sekali lagi, dan mengajukan beberapa catatan revisi kecil yang langsung disetujui dengan sigap oleh pihak seberang. Setelah itu, pihak Luo Huaizheng menandatangani dan mengirimkannya kembali.

Karena proyek Huayu akan dimulai keesokan harinya dan kesibukan hari itu belum sepenuhnya dimulai, menjelang senja para karyawan sudah bersiap pulang. Luo Huaizheng yang merasa kelelahan setelah bekerja selama seminggu berencana pergi ke apartemen baru orang tuanya untuk menghabiskan akhir pekan. Tepat saat ia hendak meninggalkan kantor, ponselnya berdering, menampilkan nomor yang tidak dikenal.

Ia mengangkatnya, "Halo, selamat sore."

Pihak di seberang terdiam sejenak, lalu suara yang lembut dan merdu terdengar, "Luo Huaizheng, halo, aku Xiang Siling."

Luo Huaizheng terdiam.

Xiang Siling memohon dengan suara lirih, "Jangan terburu-buru menutup teleponnya. Aku... aku punya satu hal yang ingin kukatakan padamu, kuharap kau tidak merasa tersinggung."

"Katakan."

"Aku baru saja melihat kontrak yang dikirim oleh departemen teknis dan baru tahu kalau mereka memilih perusahaan kalian sebagai penyedia layanan. Huayu adalah perusahaan ayah tiriku, dan bidang teknis berada di bawah ruang lingkup tanggung jawabku, tetapi aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai kerja sama ini sebelumnya. Begitu melihatnya tadi, aku ingin memberitahumu agar tidak salah paham. Ke depannya, mari kita jalankan urusan bisnis antar kedua perusahaan secara normal dan profesional, bagaimana menurutmu?"

Luo Huaizheng menggenggam ponselnya erat-erat. Perasaan yang bercampur antara ejekan diri dan kemarahan bergejolak di dalam dadanya. Dalam sekejap, ia telah mengambil keputusan bulat dan berkata, "Maaf, perusahaan kami membatalkan kerja sama ini. Tolong kembalikan kontraknya."

Xiang Siling terdiam selama beberapa detik, lalu berkata, "Perusahaan sudah membubuhkan cap stempel. Aku baru menyadari kalau direktur utamanya adalah kau setelah menandatanganinya. Lagipula, wewenang untuk kerja sama semacam ini sudah ku limpahkan kepada manajer departemen, aku tidak bisa membatalkan keputusan mereka begitu saja tanpa alasan yang jelas."

Luo Huaizheng merasakan dadanya sesak. Mengingat angka denda pelanggaran kontrak yang tertera di atas kertas, rona merah perlahan-lahan merambat naik ke pipinya.

Xiang Siling kembali berujar, "Kau membenciku, tetapi kita semua sudah dewasa. Emosi pribadi seharusnya tidak dicampuradukkan ke dalam pekerjaan, hal itu juga tidak adil bagi karyawanmu, benar kan? Aku tahu diri, ke depannya aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak muncul di hadapanmu. Maafkan aku, Luo Huaizheng. Berapa pun tahun yang telah berlalu, kalimat inilah yang selalu ingin kusampaikan kepadamu—maafkan aku."

Ia menutup sambungan telepon. Luo Huaizheng mendongak dan memandang sekeliling. Kegelapan senja mulai merayap turun, sementara ia hanya merasakan betapa konyolnya jalan hidup ini. Memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri, ia akhirnya berpikir jernih: kontrak tidak boleh dilanggar, dan proyek harus tetap dikerjakan. Ia hanya perlu fokus melakukan pekerjaannya dengan baik, menyelesaikan setiap detail proyek dengan sempurna agar sepadan dengan dana yang dikeluarkan oleh Huayu. Dengan begitu, nuraninya akan tetap tenang.