Bab 2
Halaman (1/3)
Zhou Hui menggeleng. “Ibuku tidak bisa membaca dan juga tidak tahu cara menggunakan mobile banking. Apartemen ini ditinggalkan ayah sebelum meninggal untuk disewakan demi membantu biaya hidup. Setiap bulan, Ibu selalu datang sendiri untuk menagih uang sewa, dan hanya menerima uang tunai. Aku pernah mengingatkannya agar menyimpan salinan kartu identitas penyewa sebagai cadangan. Memang disimpannya, tetapi setiap kali penyewa berganti, semua itu ikut dibersihkannya. Saat membereskan peninggalan Ibu, aku tidak menemukan dokumen-dokumen itu.”
Setelah berbincang dengan Zhou Hui, waktu sudah lewat pukul satu siang. Perut Chen Pu keroncongan, dan perut Li Qingyao juga sempat berbunyi dua kali. Ia bertanya, “Kita kembali ke kantor?”
“Kalau kau mau membiarkanku mati kelaparan, silakan. Kita makan dulu.” Tanpa menunggu ia menjawab, Chen Pu menambahkan, “Aku yang traktir.”
Li Qingyao menggeleng. “Tidak bisa setiap kali kau yang membayar. Aku tidak pernah mengambil keuntungan dari orang lain. Hari ini, makanlah sepuasmu.”
Entah seberapa sinting perempuan ini biasanya, mendengar ucapannya kali ini, Chen Pu tetap merasa tersentuh.
Namun, Li Qingyao membawanya ke sebuah kedai makanan cepat saji. Seporsi satu lauk dan satu sayur harganya 12,9 yuan, sedangkan tiga lauk dan satu sayur 29,9 yuan.
Walaupun dalam beberapa tahun terakhir Chen Pu pernah menyantap makanan yang jauh lebih buruk daripada ini, saat melihat Li Qingyao berdiri di depan meja pelayanan, dengan penuh semangat mengambilkan nampan untuknya dan membuat pemuda yang membagikan lauk tersenyum lebar hanya dengan dua kalimat, pandangannya tetap terasa menghitam.
Chen Pu duduk sambil membawa paket mewah seharga 29,9 yuan, bahkan mengambil sebotol susu kedelai seharga dua yuan dan semangkuk sup gratis. Li Qingyao duduk di hadapannya dengan paket 12,9 yuan, lalu berkata dengan penuh semangat, “Tadi aku sudah bertanya. Kalau nasinya kurang, kita boleh menambah gratis.”
Chen Pu menjawab dengan suara berat, “Wah, terima kasih banyak.”
Li Qingyao mengangkat mangkuk supnya. “Bersulang, Kapten. Meskipun petunjuk kita kembali buntu, kalau terus-menerus menemui jalan buntu, lama-lama kita juga terbiasa. Ketika langit hendak menyerahkan tugas besar kepada seseorang, orang itu pasti akan ditempa. Akan selalu ada hari ketika matahari terbit dan awan tersibak.”
Ucapan itu membuat Chen Pu tertawa. Dengan sikap seolah sedang menurunkan martabatnya, ia mengangkat mangkuk sup gratis itu dan menyentuhkannya ke mangkuk Li Qingyao.
Mungkin ia memang sangat lapar. Paket mewah seharga 29,9 yuan itu ternyata tidak terlalu buruk. Ia menghabiskan seluruh isi piring. Setelah itu ia masih bermain-main dengan ponselnya sebentar, barulah Li Qingyao selesai makan.
Karena sudah terbiasa mengikuti aturan kantin kantor polisi, mereka mengangkat nampan dan membawanya ke tempat pengembalian. Saat itu, segerombolan besar buruh berbaju biru masuk ke kedai. Mereka semua basah oleh keringat dan kotor, mungkin baru selesai bekerja dan datang untuk makan. Dalam sekejap, kedai itu penuh sesak hingga nyaris tak bisa bergerak.
Seorang buruh membawa paket mewah yang sama seperti milik Chen Pu. Tiba-tiba kakinya terpeleset dan nampannya oleng. Nampan itu hampir menabrak tubuh Li Qingyao, tetapi Chen Pu dengan sigap menariknya ke dalam pelukan.
Namun, makanan di nampan buruh itu tetap tumpah—setengah piring daging babi kecap tumpah seluruhnya ke sisi kaus Chen Pu.
“Maaf, maaf sekali!” Buruh itu ikut panik. Ia takut diminta mengganti pakaian tersebut.
Chen Pu melepaskan Li Qingyao, lalu menoleh melihat noda minyak besar yang mengotori kausnya. Ia mengernyit, kemudian berkata, “Tidak apa-apa. Pergilah. Lain kali hati-hati.”
Mereka mengembalikan nampan, lalu menyelinap keluar dari kerumunan dan meninggalkan kedai. Li Qingyao memandangi pakaian Chen Pu. “Bagaimana ini?” tanyanya, lalu tersenyum penuh perhatian dengan sedikit rasa malu. “Bagaimana kalau kau melepasnya? Nanti kubawa pulang dan kucuci untukmu?”
Chen Pu bahkan tidak meliriknya. Ia berjalan memutar ke bagian belakang mobil, membuka bagasi, lalu mengambil kaus bersih. Ia sering menjalankan tugas di luar, dan jika pakaiannya kotor, ia memang selalu menyimpan beberapa potong pakaian cadangan di dalam mobil.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Li Qingyao merasa kesal karena godaannya sama sekali tidak mendapat tanggapan. Rasanya sungguh tidak menyenangkan. Tidak seperti ketika ia baru datang, saat Chen Pu masih suka melompat marah dan membalas sindirannya.
Ia kembali berkata dengan nada sendu, “Tadi kepalaku terbentur dadamu. Agak sakit.”
Chen Pu menjawab tenang, “Rasakan.”
Li Qingyao berdiri di satu sisi mobil, sementara Chen Pu membawa pakaiannya dan berjalan memutar ke sisi lain.
Li Qingyao mengerucutkan bibir. Ketika melihat Chen Pu membungkuk untuk melepas kaus kotornya hingga memperlihatkan sebagian punggung dan pinggang, matanya langsung berbinar. Dalam hati ia berseru, “Wah!” lalu segera berjalan memutar ke sisi tempat Chen Pu berada.
Chen Pu hampir menjadi gila. Pakaian yang baru dilepas setengah itu kembali berhenti. “Kau kemari untuk apa?”
Li Qingyao menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku mau masuk ke mobil.”
“Masuk dari sana!”
Li Qingyao tidak bergerak. Ia malah menopangkan satu tangan di bagian belakang mobil, membungkukkan punggung, lalu menopang dagu sambil bertanya, “Chen Pu, berapa kotak otot perutmu?”
Chen Pu kembali mengabaikannya. Dengan kecepatan luar biasa, ia menanggalkan pakaian kotor, mengenakan kaus bersih, lalu membawa pakaian bernoda itu dan berbalik menuju kedai.
Li Qingyao bertanya, “Kau mau ke mana?”
Chen Pu menjawab dingin, “Kelihatan sekali kau tidak punya pengetahuan hidup sehari-hari. Pakaian yang terkena minyak sebaiknya segera dicuci. Aku mau meminjam cairan pencuci piring dari pelayan.”
“Oh…”
Li Qingyao memandangi punggungnya yang menjauh. Dalam hati ia berpikir, betapa kontradiktifnya pria itu. Pakaiannya begitu mahal, tetapi ia sangat menguasai kiat-kiat mencuci noda minyak dengan tangan. Saat berbelanja pun ia senang mencari potongan harga dan tidak pernah melewatkan kesempatan menghemat satu atau dua yuan.
Sungguh, dia benar-benar sinting.
— — —
Mungkin makan siang itu telah menghabiskan seluruh kesabaran Chen Pu terhadapnya. Ia meminta Li Qingyao pulang ke kantor dengan taksi sendiri dan mengatakan ongkosnya akan diganti. Ia sendiri melanjutkan penyelidikan dari rumah ke rumah di sekitar kamar 101 dan mendatangi komite lingkungan, berharap dapat menemukan petunjuk lain. Ia bahkan menyatakan bahwa pekerjaan sebanyak itu tidak membutuhkan dua orang.
Li Qingyao pun terpaksa kembali untuk menyelidiki Gao Jichang.
Alhasil, ia kembali membungkuk di depan komputer dan bekerja sepanjang sore sampai matanya berkunang-kunang.
Selain aplikasi komunikasi yang biasa digunakan, ia bahkan menelusuri berbagai situs surel, besar maupun kecil, demi mencari akun Gao Jichang. Gao Jichang sudah dipindahkan ke Sekolah Menengah Nomor 29 lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sehingga pekerjaan itu sungguh sangat besar.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Saat senja mulai turun, tanpa sengaja Li Qingyao menemukan sebuah alamat surel yang pernah digunakan Gao Jichang ketika berusia sekitar dua puluh delapan atau dua puluh sembilan tahun. Mungkin karena sudah terlalu lama, ia sendiri telah lupa dan tidak pernah menutup akun itu.
Di antara lautan iklan dan surel sampah, Li Qingyao membolak-balik pesan satu per satu dengan bosan. Setelah memeriksa kotak masuk, ia melihat kotak keluar, lalu menyapu pandang ke kotak sampah. Ia hampir kembali pulang tanpa hasil.
Tiba-tiba pandangannya terhenti.
Di dalam kotak sampah terdapat sebuah surel yang telah dihapus dan berstatus belum dibaca. Judulnya hanya berupa tanda titik. Entah apakah pesan itu terhapus secara otomatis oleh sistem.
Nama pengguna pengirimnya adalah “Pengembara yang Tak Pulang Tengah Malam”, dan surel itu dikirim sepuluh tahun silam.
Isi pesannya hanya terdiri atas dua paragraf:
“Pak Guru Gao, saya Xie Sijia. Selama bertahun-tahun, hidup saya sangat buruk, karena kehidupan saya telah kau hancurkan sejak lama. Saya mengirim surel ini hanya untuk menanyakan satu hal: ketika kau terbangun dari mimpi di tengah malam, apakah hati nuranimu pernah terasa sakit? Hal-hal yang kau lakukan kepadaku waktu itu, apakah benar-benar didasari cinta? Atau sebenarnya didasari hasrat yang memalukan?
Aku membencimu, dan juga membenci diriku sendiri. Semoga kita berdua segera mati, karena kita sama-sama terlalu kotor.”
Li Qingyao segera mencatat nama “Xie Sijia” di buku catatannya, lalu menelepon bagian teknologi.
Ketika Chen Pu kembali ke kantor, lampu-lampu jalan sudah menyala. Begitu masuk, ia langsung menyadari bahwa suasananya agak tidak biasa.
Beberapa orang memasang senyum penuh kegembiraan di wajah mereka dan mengerumuni meja Li Qingyao.
Tanpa menunjukkan apa pun, Chen Pu melepaskan topi polisinya dan meletakkannya di atas meja. Ia mendongak, dan pada saat itu semua orang berbalik menatapnya. Di antara kerumunan itu tampak Li Qingyao.
Sebagai anggota baru yang masih sangat muda, saat ini ia duduk dengan mantap di tengah sekelompok polisi kriminal senior, seolah-olah menjadi bulan yang dikelilingi bintang-bintang. Ia menatap Chen Pu sambil tersenyum lepas. Alis dan matanya yang hitam melengkung indah, berkilauan seperti aliran sungai yang disinari cahaya bulan.
Yan Yong tak sabar berkata, “Bos, Qingyao benar-benar hebat! Dia menemukan bukti kunci untuk menjerat Gao Jichang! Kali ini si bajingan tua itu tidak akan bisa lolos! Tiga tahun penjara sudah pasti, bahkan sepuluh tahun pun bukan mustahil!”
Oh, sekarang dia bahkan sudah dipanggil Qingyao.
Chen Pu terdiam memandangi wajahnya yang tampak “tenang dan lembut”. Ia benar-benar bisa membayangkan, jika manusia memiliki ekor, ekor Li Qingyao saat ini pasti sudah terangkat hingga menyentuh langit-langit, lalu digoyang-goyangkan dengan angkuh ke arahnya.
Ia memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Li Qingyao yang berbinar-binar, tetapi tanpa sadar ikut tersenyum.
Halaman (3/3)