Bab Kedua: Dunia Persilatan yang Kocak
“Teh yang enak, ya?” Ji Ming tahu bahwa kasim itu hendak meracuninya, tetapi sama sekali tidak peduli. Ia malah tersenyum dan berkata, “Bawa kemari, biar kucicipi!”
Maka muncullah pemandangan yang membuat Kasim Bunga Matahari sulit memercayai matanya: teh Longjing yang dicampur rumput pemutus usus diminum Ji Ming berguci-guci tanpa menunjukkan reaksi apa pun, bahkan terus memuji rasanya. Kue yang dibuat menggunakan racun bangau merah juga disantapnya dengan lahap, sambil berkata bahwa rasanya seperti kacang merah. Bubur encer yang direbus dengan bisa lima racun...
Selain beberapa bahan yang kurang higienis, semua racun mematikan lainnya dilahap Ji Ming tanpa menunjukkan sedikit pun tanda-tanda keracunan.
“Sejujurnya, rumput pemutus usus ini lebih harum daripada teh Longjing. Mau mencobanya juga?” tanya Ji Ming sambil tersenyum.
Mendengar itu, Kaisar buru-buru menggelengkan kepala. Sementara Kasim Bunga Matahari bercucuran keringat dingin dan tak berani berkata apa-apa lagi.
Enam tahun berlalu dalam sekejap. Pada suatu hari, dua pendekar besar berjanji untuk bertarung di atas atap.
“Di mana pedangmu?” tanya salah seorang.
Yang lain segera menjawab, “Pedangku ada di dalam hati. Kalau pedangmu?”
“Membunuhmu tidak perlu menggunakan pedang!”
“Besar sekali omonganmu.”
“Mulutku besar karena sedang kepanasan. Gusi juga meradang...”
Seketika, orang yang lain mulai mengiklankan sesuatu, “Kau bisa mencoba ini, Permen Kesehatan Madu Loquat Pertapaan Welas Asih Hening. Dibuat dengan loquat dari Lingnan dan madu liar pilihan yang direbus secara saksama. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, khasiatnya dapat menyegarkan napas dan meningkatkan tenaga dalam.”
Setelah selesai, lawannya pun tidak mau kalah dan ikut mengiklankan produknya sendiri, “Kau juga bisa mencoba Pil Penyelamat Jantung Kilat Balai Bajingan.”
“Bagi kita, orang-orang dunia persilatan, yang hidup diterpa angin dan hujan dengan pola hidup tak teratur, cepat atau lambat tubuh pasti bermasalah. Ingat, pertolongan darurat nomor satu—Pil Penyelamat Jantung Kilat Balai Bajingan, yeah!” Setelah berkata demikian, orang itu bahkan mengangkat tangannya membentuk tanda kemenangan.
Melihat semua itu dari bawah, si Tukang Sepatu Kecil tampak sangat kecewa. Ia hendak berbalik dan pergi bersama orang-orang lainnya.
“Dua orang bodoh ini!” Ji Ming menepukkan telapak tangannya, membuat keduanya jatuh dari atas atap.
“Itu tenaga sejati!” Si Tukang Sepatu Kecil terkejut, lalu segera berteriak, “Ada ahli! Ahli sejati!”
Namun, tak seorang pun memercayainya. Dengan kemampuan silatnya yang dangkal, mustahil baginya menemukan jejak Ji Ming. Sebaliknya, ketika sedang mencari ke sana kemari, ia malah kebetulan bertemu dengan penjahat cabul Tian Cabut Habis dan sang tokoh utama wanita, Embun Bulan, yang sedang bertarung sengit.
Tak perlu diragukan lagi, Embun Bulan akhirnya kalah. Si Tukang Sepatu Kecil pun melemparkan sepatunya ke wajah Tian Cabut Habis.
“Barusan kau yang melempariku dengan sepatu?” tanya Tian Cabut Habis sambil berjalan mendekati si Tukang Sepatu Kecil.
Mendengar itu, si Tukang Sepatu Kecil buru-buru menggelengkan kepala.
“Masih bilang bukan milikmu? Kalau begitu, di mana sepatumu?” kata Tian Cabut Habis sambil melirik kaki si Tukang Sepatu Kecil yang telanjang sebelah. Ia kemudian murka dan menatap tajam lawannya. “Kau percaya kalau kutebas kepalamu?”
Tentu saja si Tukang Sepatu Kecil tidak percaya. Ia langsung menendang wajah Tian Cabut Habis dengan jurus ciptaannya sendiri, “Tendangan Tanpa Bayangan”.
“Bocah sialan, kau mencari mati!” Tian Cabut Habis mengangkat tubuh si Tukang Sepatu Kecil lalu melemparkannya jauh-jauh.
“Jangan bergerak! Kuberitahu, aku bisa menggunakan pedang terbang!” seru si Tukang Sepatu Kecil setelah mendarat. Ia melompat, mengeluarkan “Pedang Sakti Kekosongan”, lalu melepaskannya dengan suara mendesing ke arah Tian Cabut Habis.
Sayangnya, pedang itu sama sekali tidak mengenai sasaran.
Pedang terbang itu memang berhasil diluncurkan, tetapi karena gugup, arahnya melenceng dan hanya menggores kulit kepala Tian Cabut Habis.
Tenaga dalam si Tukang Sepatu Kecil yang malang pun terkuras habis akibat serangan tersebut.
Pada akhirnya, sama seperti dalam kisah aslinya, Kepala Penyidik Gerbang Enam Daun tetap diam-diam turun tangan. Barulah Tian Cabut Habis tewas tertusuk pedang.
Lebih tepatnya, Tian Cabut Habis sendiri yang menabrakkan tubuhnya ke pedang itu hingga mati.
“Kalau ada yang perlu dibantu, datanglah mencariku di Gunung Tai.” Embun Bulan meninggalkan kalimat itu, lalu pergi dengan perasaan murung.
Ia benar-benar tak menyangka bahwa dirinya bahkan tidak mampu mengalahkan Tian Cabut Habis yang hanya berada di tingkat kelas tiga. Lebih parah lagi, pada akhirnya ia justru diselamatkan oleh seorang tukang sepatu kecil yang sama sekali tidak bisa silat. Mungkinkah ilmu yang ia latih dengan susah payah selama belasan tahun ternyata benar-benar tidak bermutu?
Jika Ji Ming tahu apa yang ada di dalam pikirannya, ia pasti akan dengan penuh tanggung jawab memberitahunya bahwa memang itulah kenyataannya.
Namun, kalau ilmu Embun Bulan tidak bermutu, belum tentu hal yang sama berlaku bagi si Tukang Sepatu Kecil. Kepala Penyidik Gerbang Enam Daun menatap “pedang kayu” yang menancap di bahunya, lalu berkata dengan wajah tak percaya, “Sialan! Dia jelas-jelas seorang ahli tak tertandingi, tetapi demi mendekati seorang gadis, dia malah berpura-pura sama sekali tidak bisa silat. Kalau tahu begini, aku tidak akan ikut campur!”
Sambil menggerutu, ia mencabut pedang itu dari bahunya.
Setelah melenceng, pedang terbang si Tukang Sepatu Kecil ternyata melesat menyeberangi satu ruas jalan penuh dan menancap di bahu sang Kepala Penyidik. Karena terbang terlalu cepat, ia bahkan tidak menyadarinya, apalagi merasakan sakit. Seandainya tubuhnya tidak bergerak sedikit ketika turun tangan, ia mungkin tidak akan tahu bahwa bahunya tertancap pedang.
“Menyebalkan!” Setelah mencabut pedang terbang itu, Kepala Penyidik berusaha menghancurkannya dengan tangan. Namun, karena kurang hati-hati, pedang itu malah menembus telapak tangannya.
Pedang milik Tuan Muda Kekosongan, ahli nomor satu di dunia manusia dari Dunia Mitologi, tentu bukan sesuatu yang bisa dihancurkan olehnya.
“Kembali!” Setelah berhasil memulihkan sedikit tenaga, si Tukang Sepatu Kecil memanggil kembali pedang terbangnya. Tak perlu dikatakan lagi, tangan Kepala Penyidik yang satu lagi, yang sedang memegang pedang tersebut, ikut tertusuk.
Melihat hal itu, Ji Ming berkata kepada Xiao Luo dengan wajah penuh senyum, “Benar-benar layak disebut Pendekar Tanpa Tanding! Bahkan sebelum mencapai kesempurnaan ilmu silat, dia sudah mampu mengendalikan pedang untuk melukai orang. Kalau kelak jalur energi utama dan pembuluh pengatur dalam tubuhnya terbuka, lalu ia mencapai tingkat bawaan, bukankah kekuatannya akan langsung mendekati tingkat Inti Emas?”
Sementara itu, Xiao Luo hanya berkata, “Energi ruang dan waktu yang terkumpul banyak sekali!”
Setelah pulang, si Tukang Sepatu Kecil kembali dipukuli ibunya.
Pada akhirnya, karena begitu mendambakan dunia persilatan, ia menunggang seekor keledai kecil menuju Gunung Tai. Sebatang wortel digantungkan di depan kepala keledai itu sebagai umpan. Namun, ketika menyeberangi sungai, sekuat apa pun ia menarik, keledai itu tetap tidak mau bergerak. Akhirnya, bahkan keledainya pun ia tinggalkan.
Tokoh-tokoh dari generasi berikutnya seperti Yang Guo, Feng Qingyang, dan Linghu Chong sama sekali takkan menyangka bahwa ahli pedang nomor satu sepanjang sejarah ini pernah menjadi orang yang sebodoh dan selucu itu.
“Tunggu! Jangan berangkat dulu, aku juga ikut!” Di dermaga, karena terburu-buru mengejar kapal, ia tidak sengaja menabrak seorang lelaki tua berjanggut putih. Ia lalu menggendong lelaki tua itu, menyelipkan wortel ke dalam mulutnya, dan bergegas naik ke kapal.
Selama perjalanan, ia tidak menyadari bahwa meskipun tubuh lelaki tua itu terguncang-guncang di punggungnya, lelaki tersebut sama sekali tidak merasa tidak nyaman.
“Anak muda, sedang berlatih ilmu silat?” tanya lelaki tua itu setelah naik ke kapal. Ia melihat si Tukang Sepatu Kecil duduk bersila sambil berlatih dan menjadi penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, si Tukang Sepatu Kecil membuka mata lalu mengangguk. “Benar. Perbedaan terbesar antara seorang ahli dan orang biasa adalah kegigihan. Aku harus memanfaatkan setiap detik untuk melatih tenaga dalam.”
Tak perlu dipersoalkan mengapa satuan “detik” bisa muncul di sini. Di dunia dimensi yang disebut “maju” ini, bahkan satelit pun sudah dikenal banyak orang.
Setelah mendengar jawabannya, lelaki tua itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu, ilmu silat apa yang sedang kau latih?”
“Ini adalah Ilmu Sakti Siklus Besar yang diwariskan guruku. Inilah ilmu silat paling mendalam di dunia. Jika dilatih hingga tingkat tertinggi, seseorang bahkan bisa membentuk Tubuh Sejati Pangu! Kau tahu Pangu? Dialah dewa agung yang konon membelah langit dan bumi pada awal penciptaan. Dia benar-benar luar biasa.” Karena jarang menemukan orang yang mau membicarakan ilmu silat, si Tukang Sepatu Kecil menjawab dengan wajah penuh semangat.
Mendengar itu, wajah lelaki tua tersebut berubah menjadi sangat aneh. Ia bahkan tak mampu berkata-kata.
“Selain itu, kau tahu tentang pedang terbang?” Si Tukang Sepatu Kecil kembali mengeluarkan pedang kayu dan meletakkannya di hadapan lelaki tua itu. “Ini adalah Pedang Sakti Kekosongan, pemberian guruku. Dahulu, ahli nomor satu di dunia manusia, Tuan Muda Kekosongan, menggunakan pedang ini untuk melawan Sun Wukong, Sang Penguasa Langit. Memang pada akhirnya ia tetap kalah, tetapi mereka bertarung hingga tiga ratus jurus. Bahkan para dewa di langit pun tidak mampu melakukan hal semacam itu.”
Di samping mereka, seorang pendeta Tao kecil bernama Wang Chongyang segera berkata setelah mendengar hal itu, “Aku tahu Sun Wukong, Sang Penguasa Langit. Dia dewa yang sangat hebat.”
Qiu Chuji dan yang lainnya sama sekali takkan menyangka bahwa Wang Chongyang ketika masih muda ternyata juga sebodoh itu.
“Perampokan!” Tiba-tiba, dua orang perompak melemparkan sebuah torpedo ke dalam air. Sesaat kemudian, perompak yang lebih tua memasang wajah garang dan berkata, “Ikan tidak bisa hidup tanpa air, dan kalian tidak bisa hidup tanpa kapal. Kalau tidak menyerahkan uang, kalian turun ke air dan ikan-ikan naik ke kapal!”