Aku tidak bisa menulis puisi.
Beberapa hari berlalu, Ikan Tinta tetap tak menunjukkan sikap apa pun, sama sekali tanpa reaksi.
Justru “diam”-nya Ikan Tinta semakin menyulut semangat para tukang nyinyir yang berlindung di balik kedok kritikus, mereka makin menjadi-jadi, menyerang dengan gila-gilaan di kolom blog beberapa orang.
Di sisi lain, sebagian penggemar yang sebelumnya membela Ikan Tinta, mulai merasa kehabisan daya karena sikap diamnya.
Di mata publik, saat ini Ikan Tinta seolah sudah dipasang di tiang malu, dan diamnya dianggap sebagai pengakuan atas semua tuduhan itu.
Benarkah demikian?
Apakah Chen Ming benar-benar menyerah?
Hah, tentu saja tidak!
Dia belum sebodoh itu!
“Aku tidak bisa menulis puisi...”
Sebuah unggahan yang sangat tiba-tiba muncul di blog Ikan Tinta, membuat ribuan pengikutnya menerima notifikasi secara serentak.
Di bawahnya ada sebuah poster, merupakan poster promosi dari Majalah Angin Kencang.
Poster itu sangat sederhana, hanya sebuah gambar dengan ribuan bunga persik bermekaran yang membingkai sebuah kota megah. Di atas gambar itu ada dua huruf besar—“Dinasti Tang”.
Di pojok kanan bawah gambar, tertulis: karya Ikan Tinta.
Tak ada apa-apa selain itu.
Unggahan Ikan Tinta ini langsung menyedot perhatian orang banyak.
Aku tidak bisa menulis puisi...
Melihat unggahan itu, reaksi pertama hampir semua orang adalah: Ikan Tinta sudah mengaku kalah!
Para pengecam langsung bersorak, sementara para pendukungnya tertegun, sulit percaya.
Benarkah hanya begitu saja menyerah?
Beginikah keyakinan yang selama ini mereka pegang?
Banyak penggemar tak sanggup mempercayai, pun tak mau mempercayainya.
Setelah unggahan Ikan Tinta ini muncul, suara cemoohan dan sindiran pun kian deras.
“Ck ck ck, lumayan masih tahu malu, tahu diri tak bisa menulis puisi?”
“Baguslah, jangan muncul-muncul lagi, benar-benar menyusahkan.”
“Ikan Tinta ini juga lihai, di saat begini masih sempat promosi buku baru, cara marketingnya benar-benar luar biasa!”
.............
Di tengah gelombang hujatan itu, para tokoh besar di lingkaran sastra tentu saja tak tinggal diam.
Ketua Perkumpulan Sastra Klasik, Wang Chuan, begitu Ikan Tinta mengunggah status, langsung membuat unggahan di blognya, selisih waktunya bahkan tak sampai semenit.
“Meski harus diakui, Ikan Tinta sebagai penulis silat memang cukup berprestasi di bidangnya.”
“Tapi sastra klasik tak bisa diperlakukan seperti novel, nilai seni sastra klasik sangat tinggi, kalau tak paham sebaiknya jangan ikut campur, nanti malah menyesatkan orang lain. Kali ini Ikan Tinta mau mengakui kesalahannya, saya kira kita masih bisa memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.”
“Toh, anak nakal yang mau insaf jauh lebih berharga!”
Ucapan Wang Chuan jelas menempatkan Ikan Tinta layaknya anak kecil, sementara dirinya sebagai ayah atau orang tua yang menasihati.
Meski di antara kata-katanya mengakui prestasi Ikan Tinta di dunia silat, namun nada meremehkan sangat terasa.
Sederhananya, maksudnya adalah: kamu penulis silat, ya menulislah silat, di bidangmu sendiri terserah mau menulis apa, tapi begitu menyangkut dunia sastra klasik yang sarat nilai dan keahlian, kamu masih terlalu hijau, pulang saja main lumpur!
Penulis roman perempuan terkenal, Li Yuan, juga ikut berkomentar di bawah unggahan Wang Chuan: “Kalau salah, harus berani mengakui, kalau tidak tahu, harus berani bertanya. Sepanjang hidupku paling muak pada orang yang sok tahu tapi isi kepalanya kosong!”
Penulis silat ternama, Li Ru, juga berkomentar: “Baru saja ‘Tersenyum Bangga di Dunia’ selesai, sudah mau mulai buku baru? Hah, memang anak muda masih terlalu gegabah, cerita silat yang bagus mana bisa dipikirkan dalam waktu sesingkat itu?”
Sementara itu, di kantor, Li Zixuan dan Kak He tentu juga mendapat notifikasi blog Ikan Tinta.
Melihat unggahan itu, mereka pun tertegun.
Terutama Kak He, sampai naik pitam. Sudah lama dia menunggu Ikan Tinta angkat bicara, eh, ternyata dia begitu saja mengaku kalah?
Benar-benar tak punya nyali!
Dan kenapa pula si Mu Yu juga diam saja, satu per satu semuanya pengecut!
“Ikan Tinta ini... meski tulisannya tak bagus, masa di saat genting begini malah mengaku kalah? Menunjukkan kelemahan di saat badai, bukankah itu sama saja menjerumuskan diri sendiri?”
Kak He menggeram sambil menggertakkan gigi, benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Padahal, hari ini mereka berencana merilis cuplikan lagu “Syair Biwa” sebagai bocoran.
Tapi dalam situasi begini, masih pantaskah mereka merilisnya?
Kalau sekarang dirilis, bukan cuma “Syair Biwa”, bahkan nama baik Li Zixuan pun bakal ikut tercemar.
Jadi, jangankan bocoran lagu, Kak He bahkan sudah mulai berpikir untuk membatalkan keikutsertaannya dalam perebutan tangga lagu bulan depan.
Namun berbeda dengan pikiran Kak He, Li Zixuan sama sekali tak khawatir soal lagu baru. Yang membuatnya resah justru Ikan Tinta.
Dia membantu menuliskan lagu, bukan mendapat bayaran, malah jadi bulan-bulanan netizen, membuat hati Li Zixuan benar-benar tak enak.
Li Zixuan memantau kolom komentar di blog Ikan Tinta, semakin lama komentar kian membanjir, suara pembelaan yang dulu masih terdengar, kini nyaris semua isinya adalah makian, wajahnya makin suram, akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan pribadi pada Ikan Tinta.
“Kalau butuh bantuan apa pun, bilang saja padaku.”
Meski Li Zixuan tahu mungkin dirinya tak bisa membantu banyak, tapi setidaknya ia harus menunjukkan sikap.
Toh, gara-gara menolong dirinya, Ikan Tinta jadi terjebak dalam krisis ini.
Namun, saat semua orang mengira Ikan Tinta sudah menyerah, Chen Ming justru sedang santai berbaring di sofa hanya mengenakan celana dalam, sambil menyeruput es kacang hijau yang dibelikan anaknya, tertawa geli membaca komentar di blognya.
“Dasar tolol, benar-benar mengira bapaknya ini sudah menyerah?”
Terutama melihat komentar Wang Chuan dan gengnya yang sok suci itu, Chen Ming nyaris tertawa sampai perutnya sakit.
Namun, matanya tiba-tiba memancarkan kilatan dingin.
Tak apa, biarkan saja mereka senang sebentar, sebentar lagi mereka bakal menyesal!
Semakin mereka tertawa sekarang, sebentar lagi mereka akan menangis sejadi-jadinya!
Kalau sekarang puas mencaci, nanti jangan sampai mereka harus memohon ampun padaku sambil menangis, kalau tidak, nama Pak Wang tetanggaku kutulis terbalik!
“Eh!”
Melihat pesan pribadi dari Li Zixuan, sudut bibir Chen Ming tersungging senyum. Pandangannya terhadap wanita itu makin dalam.
Perempuan ini jelas bukan tipe yang dingin, tapi di keseharian justru suka pura-pura cuek, seolah tak mau didekati siapa pun, begitu dingin.
Kalau saja dia jadi aktris pasti sukses, mengingat saat bercerai dulu saja dia membuat Chen Ming sampai gigit jari karena jengkel!
Tapi, masih lumayan, ternyata dia punya hati nurani juga.
“Tak apa, tenang saja.”
Chen Ming membalas singkat lewat akun Ikan Tinta, lalu kembali asyik mengamati komentar-komentar di lingkaran sastranya.