Kejutan luar biasa dari "Ikan Besar"!
“Sudah, kalian semua tidak mau kerja lagi ya!”
Tiba-tiba, Pak Han berdiri dan melontarkan kalimat itu.
...
Suasana grup langsung hening seketika.
Tangan Chen Ming yang sedang sibuk mengambil angpao pun perlahan terhenti.
Di mata orang-orang di departemen aransemen, Pak Han adalah sosok yang bagaikan dewa. Begitu ia bicara, tak seorang pun berani membantah.
Chen Ming kini sedikit bimbang, soalnya masih ada dua angpao yang belum sempat ia ambil.
[Anda telah mengambil angpao dari Ruoruo.]
[Anda telah mengambil angpao dari Baiyang.]
...
Akhirnya lega~
Notifikasi di grup muncul di bagian atas kotak percakapan, Chen Ming pun menutup aplikasi Weixin dengan hati puas.
Kali ini ia berhasil mengantongi setidaknya beberapa puluh ribu yuan...
Gu Ji yang sempat dibuat ragu oleh Chen Ming, setelah selesai menjelaskan situasi dasar, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Chen Ming duduk di meja kerjanya tanpa pekerjaan, dan ketika hendak membuka komputer untuk bermain solitaire, Pak Han keluar dari ruangannya.
“Ada kabar baik. Mau dengar tidak?”
Chen Ming tercengang sejenak, menatap Pak Han untuk memastikan ekspresi wajahnya tidak sedang bercanda, lalu mengangguk.
“Lagu ‘Ikan Besar’ ciptaanmu sudah saya kirimkan ke pihak produksi ‘Kisah Kun dan Chun’.”
“Bagaimana, kaget tidak?!”
“Oh...”
Chen Ming hanya mengangguk datar, pandangannya kembali tertuju pada layar komputer dan permainan solitaire.
Pak Han seketika terdiam. Ia sempat mengira Chen Ming akan kaget atau bahkan sangat bersemangat!
Tapi yang membuatnya kecewa, sejak awal sampai akhir ekspresi Chen Ming tetap tenang, bahkan sebersit keterkejutan pun tak tampak.
Ia jadi bingung harus merespon apa.
“Kamu... kamu tidak ada yang ingin dikatakan?” Pak Han bertanya tak rela, seumur hidupnya di dunia kerja, baru kali ini ia bertemu anak muda seperti Chen Ming.
“Mm... Aku dengar dari Lin Jun, setelah kontrak ditandatangani, pembagian royalti komposisiku juga akan naik. Kalau begitu, tolong pastikan uangnya ditransfer tepat waktu ke rekeningku.”
Chen Ming mengangkat kepala dan berkata dengan sangat serius.
Terhadap lagu ‘Ikan Besar’, Chen Ming memang sangat percaya diri. Asal pihak produksi ‘Kisah Kun dan Chun’ bukan orang yang benar-benar tidak peka terhadap musik, pasti akan terpikat.
Uang?
Pak Han sempat tertegun, lalu mengangguk, menandakan bahwa jika lagunya diterima, pembayaran akan dilakukan tepat waktu.
...
Di ruang rapat tempat proses pasca produksi film ‘Kisah Kun dan Chun’ berlangsung, seorang sutradara wanita berbaju gaun merah anggur tengah mengetuk-ngetuk meja, suaranya sarat ketidaksabaran, “Film ini tinggal beberapa hari lagi tayang, kenapa sampai sekarang urusan aransemen musik belum juga selesai!”
Di ruang rapat, para staf duduk melingkar. Mendengar pertanyaan sang sutradara, semuanya saling melirik, tak satu pun berani bicara.
“Sutradara Qin...”
Produser ‘Kisah Kun dan Chun’, Pak Li, menghela napas, “Sebenarnya bukan salah mereka juga. Sebelumnya, perusahaan Hiburan Xinghai sudah mengirim belasan aransemen, semuanya hasil karya komposer tingkat tiga, tapi tak satu pun yang Ibu sukai, semuanya dikembalikan.”
“Hasil rekrutmen umum juga kurang memuaskan...”
“Kalian ini...”
Qin Lu hanya bisa tertawa getir karena kesal, “’Kisah Kun dan Chun’ adalah buah kerja keras semua orang di sini. Bukan aku saja yang berjuang untuk film ini, kalian juga menyaksikan lahirnya film ini. Apa kalian merasa tidak cukup mengenal film ini?”
“Dari segi makna maupun tema, adakah satu pun aransemen yang benar-benar cocok dengan film ini?”
“Sekarang kalian malah seperti ayam jantan kalah bertarung, lesu tak berdaya!”
Begitu suara Qin Lu berhenti, kepala para staf yang tadinya sudah menunduk, kini semakin menunduk.
Melihat itu, amarah Qin Lu malah semakin menjadi. Ia langsung menepuk meja keras-keras dan berdiri, “Begini saja, Pak Li, putar ulang semua aransemen dari Xinghai tadi untuk semua yang hadir.”
“Dengarkan baik-baik, kalau ada satu saja yang benar-benar cocok untuk ‘Kisah Kun dan Chun’, seluruh keuntungan film ini akan kubagikan sebagai bonus!”
Pak Li hanya bisa tersenyum kecut. Ia tahu kali ini Qin Lu benar-benar marah, buru-buru berdiri dan menenangkan, “Sudah, sudah, tidak perlu terlalu marah. Kalau Xinghai Entertainment tidak sanggup, kita cari perusahaan lain, tak usah dibesar-besarkan... eh?”
Ucapan Pak Li tiba-tiba terpotong.
Qin Lu mengerutkan dahi, “Ada apa?”
Pak Li tersenyum pahit, “Baru saja dibicarakan, Pak Han dari Xinghai Entertainment mengirim satu lagu lagi. Kebetulan semuanya hadir, bagaimana kalau kita dengar dulu?”
Qin Lu menarik napas dalam-dalam, lalu duduk kembali. Dada naik turun, napasnya berat.
Melihat itu, Pak Li segera memasukkan file ke USB, lalu menghubungkannya ke komputer dan proyektor.
Proyektor yang terhubung ke komputer menampilkan file aransemen di aplikasi Musik Awan Net.
Tak lama, alunan piano yang lembut pun bergema, mengalirkan sebuah intro melodis.
Lalu, suara ringan nan jernih perlahan terdengar.
“Ombak laut yang diam menelan malam hingga sunyi...”
“Menyapu sudut di ujung langit...”
“Ikan besar berenang di sela-sela mimpi...”
“Menatap siluetmu yang tertidur...”
Seiring musik mengalun, kepala para staf perlahan terangkat, mata mereka terpana penuh keterkejutan.
Pak Li juga tampak terkejut, melodi ini jelas berbeda dari belasan lagu yang dikirim sebelumnya!
Bahkan Qin Lu pun kini duduk tegak, kursinya tanpa sadar tergeser ke depan dua langkah.
Ia dan Pak Li saling berpandangan, jelas terlihat keterkejutan di mata masing-masing.
“Khawatir kau terbang jauh... khawatir kau pergi meninggalkanku...”
“Lebih takut lagi jika kau selamanya terhenti di sini...”
“Setiap tetes air mata mengalir padamu...”
“Berbalik kembali ke dasar lautan langit...”
Bagian chorus bergaung di telinga semua orang. Mereka semua menatap proyektor tanpa berkedip, mata penuh pesona.
Kedua tangan Qin Lu yang terkepal erat mencerminkan gejolak hatinya saat itu.
“Aku sangat menyesal malam itu tidak memelukmu erat-erat, Chun... janjilah padaku, jangan lepaskan aku, percayalah, kau akan bahagia.”
“Pertemuan terindah dalam hidup adalah bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Mengenalmu dimulai dari pertemuan, perpisahan berakhir pada selamat tinggal, sejak berjumpa, aku tak ingin kisah ini selesai.”
Sedikit demi sedikit, tatapan matanya mulai samar, berbagai adegan dalam ‘Kisah Kun dan Chun’ terus bermunculan di benaknya.
Matanya perlahan memerah, air mata tanpa sadar menetes di pipinya.
Tepat ketika lirik berakhir... bersama alunan musik yang merdu, bagian klimaks lagu pun tiba!
Denting suara seperti nyanyian lumba-lumba langsung menyapu telinga setiap orang di ruangan.
Saat itu, semua yang hadir merasa seolah jiwa mereka diangkat, hati mereka terguncang luar biasa!
Ketika musik berakhir, semua orang masih duduk terpaku di kursi, melamun tak bergeming.
Suara merdu seperti lumba-lumba itu seolah masih terngiang di telinga mereka, tak kunjung sirna.
Lama berselang... Qin Lu berkata terpana, “Ini... inilah aransemen yang benar-benar cocok untuk ‘Ikan Besar’...”