6. Mantan Kekasih Pertama: Ratu Lagu Qin Wenxi
Yanzhou, ibu kota.
Tim syuting acara “Sampai Jumpa, Kekasih” baru saja menyelesaikan pengambilan gambar pembukaan untuk Qin Wenxi.
Qin Wenxi memulai debutnya di usia delapan belas tahun, dan tahun ini adalah tahun kesepuluhnya di dunia hiburan. Berkat kesuksesan awal yang membawanya ke puncak sebagai diva, kehidupannya di dunia hiburan berjalan cukup nyaman.
Ketika bintang-bintang wanita lain masih sibuk menghadiri berbagai jamuan makan, berebut tampil di karpet merah, dan bersaing soal peran utama, ia justru sudah santai—beberapa tahun terakhir ia hanya bekerja setengah tahun dan beristirahat setengah tahun.
Saat ini, Qin Wenxi sedang duduk di dalam mobil pribadi sambil menunggu perpindahan lokasi syuting. Sebenarnya hari ini ia merasa kurang bersemangat, sebab ia agak menyesal telah menerima tawaran untuk ikut acara ini.
Waktu tim produksi menghubunginya, ia menyebutkan nama Chen Wenhan kepada mereka, dan berkata bahwa ia hanya akan ikut jika Chen Wenhan juga bersedia.
Ternyata tim produksi tak hanya berhasil menghubungi Chen Wenhan, tapi juga benar-benar membujuknya untuk ikut serta.
Ketika mendengar kabar itu, Qin Wenxi sangat terkejut sekaligus bahagia.
Hampir tujuh tahun telah cukup lama untuk melunturkan segala permasalahan dan perselisihan kekanak-kanakan masa lalu.
Selama bertahun-tahun, banyak pria yang berusaha mendekatinya, tapi tak satu pun yang berhasil masuk ke hatinya.
Itu karena dalam benaknya, ia masih selalu memikirkan pemuda penuh semangat itu!
Namun, saat semuanya benar-benar akan terjadi, ia justru sedikit mundur.
Atau mungkin lebih tepatnya, ia merasa gugup—ia tak tahu bagaimana harus menghadapi mantan kekasihnya.
Namun, sesuai jadwal syuting, tak lama lagi mereka pasti akan bertemu.
“Wenxi, kamu hari ini benar-benar kelihatan tidak fokus.”
Manajernya, Yang Xiaoya, duduk bersebelahan di kursi belakang mobil. Melihat Qin Wenxi melamun dengan tatapan kosong, ia pun tak tahan untuk menegurnya.
“Aku agak gugup,” Qin Wenxi menarik napas dalam-dalam.
“Itu bukan gayamu, diva Qin. Dulu siapa sih yang ngotot ingin ikut acara ini?” Yang Xiaoya tersenyum samar. Hubungannya dengan Qin Wenxi bukan hanya sekedar manajer dan artis, tapi juga teman lama. Jadi saat berbicara pun tak ada batasan.
“Bagaimana kalau batal saja? Paling-paling bayar denda. Puluhan juta pun masih sanggup kok,” ujar Yang Xiaoya lagi.
Bulu mata panjang Qin Wenxi berkedip, lalu ia tersenyum tipis. “Kamu nggak takut aku benar-benar batalin? Bayar denda segitu, kamu yang mata duitan pasti bakal sakit hati.”
Yang Xiaoya mengangkat bahu. “Biar harta habis, nanti juga bisa cari lagi. Yang penting Wenxi bahagia!”
“Kamu tahu aku nggak mungkin berubah pikiran, makanya ngomong enak-enak aja...”
Qin Wenxi cemberut. Mereka memang sudah terlalu saling mengenal.
“Kalau sudah pasti tidak berubah pikiran, ya semangat dong.”
“Sebenarnya aku juga berharap kamu bisa bertemu si mantan itu, siapa tahu setelah ketemu kamu bisa benar-benar move on, lalu memulai cinta baru.”
Sambil berkata begitu, Yang Xiaoya merangkul pundak Qin Wenxi dengan lembut. “Tuan Muda Li itu kan baik banget sama kamu, kasih kesempatan dong buat dirimu sendiri...”
“Jujur deh, kamu dapat apa dari dia?” Qin Wenxi melirik Yang Xiaoya.
“Hanya dua tas kok.” Yang Xiaoya berkata terus terang.
“Mata duitan!”
Qin Wenxi menggeleng, hendak menggoda Yang Xiaoya, tapi tiba-tiba seseorang mengetuk jendela mobil.
“Ada apa?”
Yang Xiaoya menurunkan kaca jendela. Di luar berdiri Tian Yingying, produser yang bertanggung jawab atas segmen syuting Qin Wenxi.
“Tema lagu untuk acara kami diganti, jadi rekaman tema yang rencananya sore ini harus dijadwalkan ulang. Saya mau menanyakan kapan Wenxi masih punya waktu luang?”
Tian Yingying baru saja mendapat telepon dari sutradara utama, Fu Yiming, dan langsung datang untuk memberitahu Qin Wenxi.
“Diganti lagunya?”
“Cepat sekali keputusannya,” Yang Xiaoya mengerutkan kening. “Jadi, kapan lagu baru bisa direkam?”
“Besok pagi sudah bisa. Katanya lagu tema baru baru saja selesai dibuat, tim di Chuzhou sedang menyiapkan musik pengiring dan demo,” jawab Tian Yingying.
“Selesai dibuat baru sekarang? Bagaimana dengan lagu sebelumnya? Bukannya itu karya Zhang Jiawei? Dia juga komposer papan atas, apa lagu baru ini lebih bagus?”
“Dengar ya, jangan sampai kalian pakai lagu jelek dari komposer tingkat rendah, meskipun bukan single Wenxi, tapi dia juga ikut nyanyi, jangan sampai nama baiknya rusak.”
Yang Xiaoya langsung kembali ke perannya sebagai manajer, bertanya bertubi-tubi dengan wajah serius.
“Kak Xiaoya, tenang saja. Anggaran acara kami cukup besar, jadi tidak akan asal-asalan,” jawab Tian Yingying.
“Kata Pak Fu, lagu tema kali ini adalah karya terbaru dari Raja Iblis Bick, kabarnya sangat cocok dengan konsep acara kami.”
Begitu menyebut nama Raja Iblis Bick, Tian Yingying tanpa sadar melirik Qin Wenxi yang duduk di sebelah kiri Yang Xiaoya.
Sebagai produser untuk segmen Qin Wenxi, tentu saja ia tahu hubungan antara Qin Wenxi dan Chen Wenhan, yang tak lain adalah Raja Iblis Bick itu sendiri.
“Raja Iblis Bick?”
“Chen Wenhan!!!” Yang Xiaoya berseru kaget.
Wajah Qin Wenxi di sampingnya juga tampak terkejut. Sejak putus dengan Chen Wenhan, pria itu tak pernah lagi menggunakan nama samaran “Raja Iblis Bick”.
Bahkan selama beberapa tahun ini, Chen Wenhan seperti benar-benar menghilang dari dunia hiburan, seolah-olah sudah pensiun.
Dan kini, tiba-tiba ia punya lagu baru.
“Ada partitur dan lirik lagunya?” tanya Qin Wenxi.
“Untuk sementara belum ada, mungkin nanti atau besok baru dikirim,” jawab Tian Yingying.
Mendengar jawaban itu, Qin Wenxi tampak sedikit kecewa. Setelah berpikir sejenak ia berkata, “Kalau begitu, rekamannya besok pagi saja. Dua hari ini aku memang sedang kosong.”
“Itu bagus sekali,” Tian Yingying mengangguk cepat. “Nanti aku kabari Kak Xiaoya soal waktu pastinya, kami juga masih menunggu musik pengiringnya selesai.”
Qin Wenxi mengangguk pelan. Yang Xiaoya pun menutup kaca jendela dan memberi isyarat pada sopir untuk pulang.
“Xiaoya, tolong telepon Fu Yiming, minta lirik lagu temanya. Dia pasti sudah punya,” pinta Qin Wenxi sebelum mobil melaju jauh.
“Udah nggak sabar banget ya?” canda Yang Xiaoya sambil tertawa.
“Cepatlah!” Qin Wenxi mencubit lengan Yang Xiaoya.
“Iya, iya, sebentar...”
Yang Xiaoya segera menelpon Fu Yiming.
Begitu selesai, ia langsung menerima file digital lirik lagu “Martabat”, beserta sebuah video gadis yang menyanyikan lagu itu secara akapela.
Karena penasaran, Yang Xiaoya memutar video itu duluan. Sebuah suara perempuan jernih dan bening mengalun dari ponsel:
Jangan menumpuk kenangan
Hingga kisah jadi melodrama
Sudah cinta bertahun-tahun
Mengapa harus menodai yang indah
Kita sudah dewasa
Tak ada lagi hutang perasaan
Bila waktuku terbuang
Itu karena kehendakku...
Baru dua bait terdengar, Qin Wenxi sudah merebut ponsel dari tangan Yang Xiaoya, menatap layar dengan penuh perhatian, dan mendengarkan suara yang sedikit mengandung kesedihan itu.
Yang Xiaoya ikut mencondongkan kepala, ikut menyimak.
Namun, tak lama kemudian ia menyadari tetesan air mata bening sudah mengalir di sudut mata Qin Wenxi...