Jika sudah menyanyi namun tak juga terkenal, carilah dulu penyebabnya pada dirimu sendiri.
Chen Wenhan tanpa sadar melirik ke arah Liu Yuner di sampingnya. Perempuan itu mengenakan parfum yang sama seperti semalam, hanya saja setelah berlari beberapa kilometer, aromanya tidak lagi terlalu menyengat, namun tetap mudah tercium.
“Iya,” jawabnya.
“Udara pagi memang terasa begitu segar dan manis,” tambah Chen Wenhan, lalu melirik Liu Yuner. Mengerti maksudnya, Liu Yuner segera berkata, “Pak Chen, Kak Xi, kalian lanjutkan saja obrolannya. Aku pulang duluan untuk sarapan.”
“Sampai jumpa~!” Liu Yuner melambaikan tangan pada mereka berdua, lalu bergegas pergi.
“Dua hari berturut-turut lari pagi bersama, sepertinya memang takdir ya?” ujar Qin Wenxi setelah Liu Yuner menjauh.
“Itu karena hampir semua orang yang olahraga pagi pasti ke danau buatan itu. Bertemu di sana juga hal yang wajar saja,” jawab Chen Wenhan sambil menunjuk ke arah danau buatan.
Qin Wenxi hanya tertawa kecil, tak melanjutkan pertanyaannya. Bagaimanapun, ia kini hanyalah mantan, tak pantas terlalu ikut campur.
“Aku juga mau lihat pemandangan di danau itu,” ujar Qin Wenxi sambil mengerucutkan bibir, lalu berlari menuju danau.
Sementara itu, Chen Wenhan kembali ke rumah, memasak bubur, menggoreng empat telur ceplok, dan membuat salad kecil dari irisan mentimun dan jamur emas.
Saat Qin Wenxi pulang, waktu makan pun tiba.
Sebenarnya, saat lari pagi tadi, Qin Wenxi sudah memutuskan untuk sementara waktu mengabaikan Chen Wenhan. Namun, begitu melihat sarapan sudah siap, bubur putih mengepul harum di meja, ia pun diam-diam mengubah keputusannya.
Benar, perempuan memang mudah berubah pikiran.
Usai sarapan sehat dan sederhana itu, Qin Wenxi mengelap sudut bibir dengan tisu, lalu berkata dengan sedikit cemas, “Dana hidup kita tinggal delapan yuan. Makan siang nanti gimana?”
“Tenang saja, aku sudah ada solusinya,” jawab Chen Wenhan. Di depan Qin Wenxi, ia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon Sun Yuebing. “Profesor Sun, siang ini ada waktu? Aku dan Wenxi ingin berkunjung ke rumah Ibu Guru.”
“Baik, baik, asalkan tidak merepotkan,” balas Profesor Sun.
“Kami akan datang tepat waktu siang nanti.”
Setelah basa-basi, Chen Wenhan menutup telepon.
“Jadi, solusimu adalah menumpang makan di rumah Profesor Sun?” tanya Qin Wenxi yang langsung paham maksud Chen Wenhan.
“Mana bisa disebut menumpang, kemarin kamu sendiri kan yang bilang mau menjenguk Ibu Guru di rumah Profesor Sun. Kita ini kan harus menepati janji,” jawab Chen Wenhan dengan yakin.
“Tapi, menjenguk Ibu Guru masa datang dengan tangan kosong?” tanya Qin Wenxi sambil mengernyitkan dahi.
“Tentu saja tidak,” sahut Chen Wenhan, menunjuk ke beberapa kotak yoghurt yang menumpuk di ruang tamu. “Sehat, segar, hidup jadi nikmat dengan segelas susu Anmu Dong setiap hari. Kita bawa saja dua kotak, atau empat kotak juga boleh.”
Qin Wenxi terbelalak. Ia benar-benar tak menyangka ada cara seperti ini.
Setelah sarapan, Chen Wenhan menerima pesan dari Liu Yuner. Katanya, kontrak yang sudah ditandatangani telah ia masukkan ke kotak surat vila tempat tinggal Chen Wenhan dan Qin Wenxi.
Perempuan ini memang teliti dalam bekerja, pikir Chen Wenhan. Ia pun berjalan ke gerbang, membuka kotak surat, dan benar saja, ada dua eksemplar kontrak yang sudah ditandatangani Liu Yuner.
Chen Wenhan memeriksa kontrak itu, tak ada masalah. Ia kemudian menambahkan Liu Yuner ke grup WeChat “Hiburan Mahjong”.
Hong Zhong: Wah, ada anggota baru?
Yao Ji: Kakak cantik yang sangat menawan.
Yao Bing: Selamat datang, Kakak, di Hiburan Mahjong.
Setelah melihat foto profil dan beberapa foto di linimasa Liu Yuner, Hong Zhong kembali mengetik: Halo, cantik. Aku Hong Zhongzhi, lajang sejak lahir, pria tertampan kedua di dunia hiburan.
Parfum Kedaluwarsa: Lalu yang paling tampan siapa?
Hong Zhong: Sudah pasti bos kita tercinta, Chen yang berbakat, tampan, dan mempesona!
Yao Bing: Bos memang paling keren, tidak menerima bantahan!
Yao Ji: Setuju!
Parfum Kedaluwarsa: Jadi, budaya perusahaan kita memang memuji ketampanan bos ya?
Melihat itu, Chen Wenhan segera menimpali: Semua itu murni spontan dari para karyawan, tapi memang benar adanya.
Chen Wenhan: Aku kenalkan anggota baru kita, penyanyi terkenal Liu Yuner. @Parfum Kedaluwarsa, semua pegawai di perusahaan kita harus punya nama panggilan dari kartu mahjong, seperti tiga orang ini. Silakan pilih sendiri.
Setelah nama Liu Yuner diumumkan di grup, sejenak suasana menjadi sunyi.
Meski kisah perceraian Liu Yuner dan Tang Yunfeng sudah lama berlalu, namun dulu sempat heboh hingga trending di media sosial selama dua-tiga hari.
Li Yaoji dan Yi Tong segera memulai obrolan pribadi.
“Liu Yuner? Bukannya dia yang selingkuh waktu masih menikah itu?”
“Kayaknya iya, namanya jelek banget, mana mungkin ada yang ngaku-ngaku jadi dia.”
“Jangan-jangan bos kita sudah ditaklukkan sama dia!”
“Mungkin saja. Aduh, paman benar-benar keblinger!”
“Hari ini jadi rekan kerja, siapa tahu besok jadi tante barumu!”
“Bukankah itu berarti jadi nyonya bos kita?”
“Aduh, bos benar-benar keblinger!”
Hong Zhong: Selamat datang, akhirnya kita punya penyanyi terkenal di Hiburan Mahjong.
Yao Ji: Selamat datang, Kakak Yuner! (lempar bunga)
Yao Bing: Kakak Yuner cantik sekali, benar-benar wajah perusahaan kita!
Setelah beberapa saat hening, ketiganya pun mengirimkan ucapan selamat datang di grup, tampak harmonis di permukaan.
Sementara itu, Liu Yuner sudah mengubah nama panggilannya di grup menjadi “Sembilan Batang”.
Entah apa makna khusus dari “Sembilan Batang” itu baginya.
Sembilan Batang: Mohon bimbingannya ke depan. (emoji senyum)
Lalu, Liu Yuner langsung mengirimkan angpao 888 di grup.
Fitur angpao di aplikasi ini bisa diatur nominalnya sendiri, jadi selama saldo cukup, berapa pun bisa dikirim.
Angpao 888 dibagi menjadi empat, Chen Wenhan pun iseng menekan: 2,50.
Astaga!
Chen Wenhan langsung memutar bola mata, disusul umpatan dalam hati.
Sementara Li Yaoji dan Yi Tong dengan riang mengirim stiker ucapan terima kasih, masing-masing mereka dapat bagian lebih dari tiga ratus.
Chen Wenhan: Mulai sekarang kita semua satu keluarga. Kalau ada waktu, kita harus sering kumpul. Tak perlu tunggu hari lain, bagaimana kalau malam ini saja? Semua ke rumah Yuner, di sana ada studio rekaman, sekalian rekam lagu baru.
Saat ini, Hiburan Mahjong memang belum punya studio sendiri. Rencana semula Chen Wenhan adalah menyewa studio setelah selesai tahap pertama “Selamat Tinggal, Kekasih”.
Tapi kini, perusahaan kedatangan pegawai yang punya studio sendiri, tentu saja harus dimanfaatkan.
Melihat pesan Chen Wenhan, Liu Yuner hanya bisa tersenyum miring. Mana ini kumpul-kumpul, jelas-jelas mau numpang studio gratis.
Namun ia bukan orang yang perhitungan. Toh, sudah teken kontrak, harus seiya sekata dengan perusahaan. Dan merekam lagu juga bisa jadi kesempatan mendengar karya baru Chen Wenhan.
Meski begitu, Liu Yuner tidak ingin Chen Wenhan begitu saja berhasil menjalankan niatnya. Ia segera mengirim pesan privat: “Bos, kalau aku sumbang studio, boleh dong bantu ‘buka jalan’ buat aku~!”
Melihat pesan itu, Chen Wenhan hanya terdiam, lalu membuka arsip lagu di sistemnya, dan langsung mengirim sebuah lagu berjudul “Parfum Beracun” pada Liu Yuner: Lagu ini buat kamu nyanyikan, kalau tidak meledak, salahkan dirimu sendiri.