Teman, aku bisa melakukan lima ratus push-up tanpa berhenti!
Pada akhir Agustus, kota Sanjiang masih terasa sangat gerah. Ditambah lagi saat itu matahari sedang terik-teriknya, sehingga baru beberapa saat keluar rumah, kening Chen Wenhan sudah dipenuhi keringat.
Sementara itu, kru syuting duduk nyaman di dalam mobil van, menikmati sejuknya pendingin udara, mengikuti mereka dengan santai dari belakang. Sesekali, mereka menyalip Chen Wenhan yang sedang mengendarai sepeda listriknya agar kameramen bisa mengambil beberapa gambar wajah depan.
Dasar kru acara tak berhati nurani!
Benar-benar tidak manusiawi!
Chen Wenhan hanya bisa menggerutu dalam hati.
Berbeda dengan suasana hati Chen Wenhan, Qin Wenxi yang duduk di jok belakang sepeda listrik justru merasa sangat senang, bahkan seolah menikmati pengalaman ini.
Pertama, sudah sangat lama ia tidak merasakan pengalaman seperti ini.
Kedua, duduk di belakang Chen Wenhan membuatnya teringat pada banyak kenangan masa lalu. Saat itu ia masih mahasiswa, dan Chen Wenhan baru saja menjadi seorang komponis. Alat transportasi mereka hanyalah sebuah sepeda.
Chen Wenhan membawanya menelusuri jalan-jalan kota, dari saat tunas pohon willow mulai bermunculan, angin musim gugur meniupkan dedaunan kuning keemasan, hingga salju putih menutupi seluruh kota...
Potongan-potongan kenangan itu berkelebat di benak Qin Wenxi seperti film yang diputar. Setiap kali duduk di belakang Chen Wenhan, ia selalu secara naluriah menyandarkan kepala di punggungnya, lalu bersenandung pelan salah satu lagu kesukaannya.
Mengingat hari-hari bahagia tanpa beban itu, bibir Qin Wenxi tanpa sadar terangkat membentuk senyum, dan hatinya tak bisa menahan perasaan betapa indahnya masa muda.
Saat Qin Wenxi sedang asyik mengenang masa lalu yang manis itu, tiba-tiba suara sumbang terdengar di telinganya.
Sial, bisa nyetir nggak sih!
Astaga, matamu dipakai buat apa!
Bang, kasih lampu sein dong...
Sepeda listrik mereka melaju mendekati swalayan, lalu lintas pun mulai ramai. Chen Wenhan sambil mengatur kemudi, tidak henti-hentinya mengomel.
Biasanya, saat menyetir mobil ia akan memaki pengendara sepeda, saat naik sepeda ia memaki pengemudi mobil.
Pokoknya, di jalan raya, selain dirinya, semua orang bodoh!
Qin Wenxi hanya bisa membayangkan garis-garis hitam berdiri di dahinya. Semua kenangan indah di kepalanya langsung buyar oleh makian Chen Wenhan.
Masih satu lampu merah lagi menuju Swalayan Daxi Fa. Chen Wenhan menghentikan sepeda listriknya di depan zebra cross menunggu lampu hijau.
Saat itu, sebuah mobil Mercedes hitam yang berhenti di jalur utama sebelah kanan mereka menurunkan kaca jendela. Seorang pria muda berambut cepak menjulurkan kepala, lalu berteriak ke arah Chen Wenhan, “Bro, bisa kasih tau nggak, aku kalahnya di mana ya?”
“Aku udah pakai mobil kayak gini, tapi nggak punya pacar secantik kamu!”
Meski Qin Wenxi sudah menyamar, lekuk tubuhnya yang sempurna tetap tak bisa disembunyikan.
Tanpa melihat wajah, hanya dari tubuhnya saja sudah untung besar tiga tahun, lima tahun pun tak rugi! Terlebih, wanita secantik ini justru rela duduk di jok belakang sepeda listrik, di tengah masyarakat yang materialistis dan memuja uang seperti ini, benar-benar pemandangan yang menyegarkan.
Sebenarnya, sepanjang jalan pun Qin Wenxi sudah menarik banyak perhatian, hanya saja pria berambut cepak itu lebih berani dari yang lain.
Mendengar ucapan pria itu, Chen Wenhan justru tertawa. Ia langsung membalas dengan suara lantang, “Bro, aku bisa push up lima ratus kali tanpa henti, kamu bisa?”
Pria berambut cepak itu sempat tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak, “Keren banget, Bro!”
Sambil berkata begitu, dia mengacungkan jempol ke arah Chen Wenhan.
Chen Wenhan membalas dengan angkuh mengangkat bahu.
Sedangkan Qin Wenxi yang duduk di belakang hanya bisa geleng-geleng kepala. Secara refleks, ia mencubit pinggang Chen Wenhan dengan ibu jari dan telunjuknya.
“Aduh, sakit!” seru Chen Wenhan, tubuhnya otomatis membungkuk ke depan.
Dulu, saat masih pacaran, jika Qin Wenxi merasa kesal atau tidak puas, ia memang suka mencubitnya seperti itu. Rasa sakit yang begitu familiar namun terasa asing ini membuat Chen Wenhan seperti kembali ke sepuluh tahun lalu.
Baru setelah mencubit, Qin Wenxi sadar bahwa hubungan mereka sudah lama tak sama seperti dulu. Ia pun berbisik pelan, “Siapa suruh ngomong ngawur.”
“Aku ngomong yang bener, kok. Beberapa tahun ini rajin fitness, lima ratus push up mah gampang,” jawab Chen Wenhan, setengah bercanda setengah serius. Ia memang rutin olahraga, karena tubuh adalah modal utama. Hidup hura-hura pun butuh fisik yang prima. Ia tidak ingin seperti Hong Zhongzhi yang masih muda tapi tubuhnya sudah loyo.
Hanya saja, soal push-up lima ratus itu jelas dilebih-lebihkan. Kenyataannya, Chen Wenhan paling-paling cuma mampu dua ratus kali sekali jalan.
Dulu, Cao Zhi punya dua puluh ribu pasukan saja mengaku ada delapan puluh ribu, ia bisa push-up dua ratus kali lalu mengaku lima ratus, tak apa-apa kan!
Semua kejadian kecil ini terekam kamera, termasuk adegan saat Qin Wenxi mencubit pinggang Chen Wenhan pun tak luput dari bidikan. Soal apakah adegan ini akan masuk ke episode utama atau tidak, itu tergantung keputusan tim sutradara.
Selepas lampu lalu lintas, tak sampai seratus meter lagi sudah sampai di Swalayan Daxi Fa. Chen Wenhan memarkir sepeda listriknya di area parkir khusus, lalu memasukkan helm ke dalam bagasi sepeda. Mereka pun melenggang santai masuk ke dalam swalayan.
Hari itu hari Jumat, masih belum jam pulang kerja, jadi penghuni swalayan tidak terlalu ramai. Berbelanja pun jadi terasa nyaman.
Sudah lama tidak ke swalayan, Qin Wenxi tampak sangat antusias, sampai-sampai Chen Wenhan merasa seperti melihat Liu Laolao masuk ke Taman Daguanyuan.
Ternyata jadi selebritas, apalagi yang sangat terkenal, belum tentu senyaman hidup tenang dan kaya diam-diam. Lihat saja, anak ini seperti baru keluar dari kurungan, belanja di swalayan saja sudah seperti merayakan tahun baru.
“Hanzi, yang ini kayaknya enak.”
“Hanzi, yang ini segar banget.”
“Hanzi, yang ini kelihatannya lezat…”
Qin Wenxi sangat bersemangat, terus memanggil-manggil “Hanzi”, sambil memasukkan barang-barang pilihannya ke troli belanja.
Di antara kerumunan.
Sun Siwan yang berpura-pura jadi pengunjung biasa terus mengawasi keduanya. Namun, makin lama ia melihat, makin merasa terbawa suasana.
Mana ada mantan pacar belanja bareng di swalayan, ini mah kayak pasangan baru pacaran, hanya saja tidak ada interaksi fisik yang intim. Dari ekspresi, gerak-gerik, dan cara mereka saling memanggil, benar-benar seperti pasangan kekasih pada umumnya.
“Siwan, mereka beneran sudah putus bertahun-tahun?” bisik seorang staf yang juga menyamar di antara pengunjung, mendekat ke arah Sun Siwan.
“Aku juga merasa aneh,” jawab Sun Siwan. “Siapa tahu, mereka bisa balikan lewat acara ini.”
“Wah, dunia selebritas memang kacau!” sahut staf itu. “Sama sekali nggak jelas hubungan mereka sebenarnya apa.”
Mereka berdua berkeliling swalayan sekitar empat puluh menit, troli yang didorong Chen Wenhan sudah penuh sesak.
Saat itu, Qin Wenxi mengambil satu kotak cokelat impor dari rak, “Ternyata di swalayan ini ada cokelat merek ini, biasanya aku beli online.”
Qin Wenxi pun bersiap memasukkan cokelat itu ke troli, tapi Chen Wenhan buru-buru menahannya, “Ratu Qin, aku ingatkan ya, uang belanja kita cuma seribu yuan untuk seminggu.”
“Tadi aku sudah hitung kasar, belanjaan di troli ini saja sudah hampir delapan ratus. Kalau kamu beli cokelat itu lagi, seribu jelas nggak cukup.”
Cokelat yang dipegang Qin Wenxi itu harganya 398, ditambah isi troli, seribu yuan jelas tidak akan cukup.
Qin Wenxi sempat tertegun, baru teringat soal anggaran.