58. Pertarungan Antara Senapan dan Pisau Terbang
Di lantai bawah, seorang polisi yang sedang bertugas menarik garis pembatas tiba-tiba merasa ada sesuatu melintas di sudut matanya. Sekejap kemudian, bahu kanannya terasa nyeri luar biasa. Ia refleks menoleh dan melihat apa yang terjadi.
Detik berikutnya, polisi itu yang bertubuh gemuk tak kuasa menahan teriakannya.
Sontak, teriakan itu menarik perhatian para polisi lain yang berjaga di bawah. Begitu mereka melihat polisi gemuk tersebut menunjukkan gagang pisau yang menancap di bahunya, semua mata langsung menengadah ke atas.
Tepat di saat itu, mereka melihat seorang pria mengenakan setelan jas dengan pistol Glock Seri Sembilan Belas di tangan, melompat dengan sempurna dan mendarat mantap di atap gedung sebelah.
Setelah mendarat, pria itu, Lu Ke, berguling untuk meredam benturan lalu berdiri tegak, menatap ke arah Chen Huaxing yang berada tak jauh di sana.
“Kau bisa lempar pisau juga rupanya?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Tidak buruk.” Penilaian Lu Ke sangat jujur.
Andai bukan dirinya, siapa pun pasti sudah terkena lemparan pisau Chen Huaxing saat masih di udara, lalu jatuh bebas dan hancur lebur di tanah.
Chen Huaxing pun tersenyum lalu memberi komentar, “Tembakanmu juga hebat. Orang lokal Federasi atau dari Negeri Timur?”
Lu Ke tertawa ringan.
“Tebak saja.”
“Kurasa orang lokal. Bagaimanapun juga, di Negeri Timur tak banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan menembak sehebat itu.”
“Ada juga,” jawab Lu Ke sambil tersenyum. “Bukankah adik kembarmu juga begitu?”
Mendengar itu, Chen Huaxing tertawa.
“Kau tadi bilang tidak kenal adik kembarku?”
“Sebelum bertemu denganmu, memang tidak kenal. Tapi sekarang, sudah kenal,” jawab Lu Ke jujur.
Chen Huaxing bertanya, “Di mana dia?”
“Kau ke sini memang mencarinya?” Lu Ke balik bertanya.
Chen Huaxing menggeleng. “Aku duluan yang tanya.”
“Aku adalah Agen Khusus Senior Federasi, sedangkan kau pendatang gelap. Seharusnya kau duluan yang menjawab pertanyaanku.”
Chen Huaxing hanya terkekeh, lalu menunduk.
Detik berikutnya, cahaya dingin berkilat.
Suara angin tajam melesat, dua pisau terbang meluncur dari tangan Chen Huaxing, langsung mengarah ke Lu Ke.
“Dor! Dor!”
“Duang! Duang!”
Dalam tatapan Chen Huaxing, Lu Ke dengan satu tangan mengganti magasin, mengisi ulang hingga lima belas peluru, lalu menatapnya sambil tersenyum, “Aku tidak percaya kau membawa lebih dari dua puluh pisau terbang.”
Chen Huaxing membalas dengan senyum, “Silakan coba saja.”
Seketika, ekspresi ramah di wajah keduanya lenyap tanpa jejak, seperti tak pernah ada percakapan di antara sahabat.
Chen Huaxing melontarkan kedua tangannya.
Empat pisau terbang melesat lebih dulu.
Lu Ke menarik pelatuk beruntun.
Empat pisau di udara hancur diterjang peluru, disusul tembakan kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan yang memburu ke tubuh dan anggota badan Chen Huaxing.
Lu Ke memang gemar menembak ke kepala. Itu kebiasaan yang dibentuk saat menjalankan misi di Zona Krisis Biologi bertahun-tahun lalu.
Sebab...
Baik melawan manusia maupun zombie, tembakan ke kepala tak pernah meleset.
Namun, cara ini hanya ampuh untuk lawan yang bukan ahli atau zombie tanpa kecerdasan.
Terhadap lawan sekelas master, menembak kepala justru paling tidak efisien dan paling rendah akurasinya.
Dan Chen Huaxing di depannya jelas seorang ahli.
Empat letupan api kecil membentuk bunga api di udara.
Empat peluru milik Lu Ke, semuanya berhasil ditepis pisau terbang.
Detik berikutnya, serangan dan pertahanan kembali berganti.
Lu Ke, dengan Glock Sembilan Belas di tangan.
Sedangkan Chen Huaxing, seolah bisa mengeluarkan setidaknya empat pisau terbang setiap kali mengayunkan tangan.
Sejenak, di atas atap itu, tabrakan antara peluru dan pisau terbang menimbulkan semburat api dan dentingan logam, bagai orkestra sempurna di bawah langit malam.
Namun...
Lu Ke dengan cepat mengganti magasin terakhir di tubuhnya, merasakan ada yang janggal dan menatap Chen Huaxing di seberang.
“Saudara, kau curang ya.”
“Memangnya begitu?”
“Tinggimu satu meter tujuh?”
“……”
Lu Ke meneliti tumpukan pisau terbang yang berserakan di antara mereka, paling tidak ada empat puluh buah, lalu tertawa, “Andai celana dalammu pun penuh dengan pisau, tetap saja aku tak percaya kau bisa membawa empat puluh pisau terbang di tubuhmu.”
Benar.
Kalaupun dirinya yang membawa, tubuhnya mungkin masih bisa bergerak, tapi kelincahan pasti sangat menurun.
Tapi Chen Huaxing di depannya, gerakannya lincah seperti seekor monyet.
Lu Ke mengangkat alis, seolah menyadari sesuatu. Ia melirik sejenak ke pisau-pisau terbang identik yang berserakan di lantai, lalu menatap Chen Huaxing, “Jangan-jangan pisau terbangmu tak ada habisnya?”
Jika benar begitu...
Harus beralih ke jarak dekat.
Demikian pikir Lu Ke, menghitung jarak antara dirinya dan Chen Huaxing.
Sepuluh meter.
Lima belas peluru.
Harusnya cukup.
Chen Huaxing menyeringai, hendak membuka mulut, ketika dilihatnya Lu Ke yang berjarak sepuluh meter tiba-tiba melesat maju.
“Mau mendekat?”
Chen Huaxing langsung paham niat Lu Ke, tertawa lantang sambil mundur, kedua tangannya kembali mengayun, empat pisau terbang meluncur.
Lu Ke menarik pelatuk, empat peluru menghantam empat pisau itu, dan ia terus melangkah maju tanpa ragu, menekan Chen Huaxing.
“Swish! Swish! Swish! Swish!”
“Dor! Dor! Dor! Dor!”
“Swish! Swish! Swish! Swish!”
“Dor! Dor! Dor! Dor!”
“Swish! Swish! Swish! Swish!”
“Dor! Dor! Dor! Klik!”
Tatapan Lu Ke menyipit. Saat peluru terakhir habis, satu pisau terbang melesat lurus ke wajahnya tanpa bisa diantisipasi. Ia segera memiringkan tubuh, menghindar.
Pisau itu menancap keras ke saluran ventilasi di belakangnya.
Braak!
Beton di saluran itu hancur seketika.
Lu Ke segera sigap.
Saat menoleh, Chen Huaxing sudah melayangkan satu pukulan keras ke dadanya.
Angin pukulan terasa tajam.
Tenaganya bagai badai.
Paling tidak, tiga puluh tahun pengalaman bela diri!
Lu Ke spontan mengangkat kedua lengan menutup dada.
Detik berikutnya!
“Bugh!”
“Ciiit!”
Sol sepatu Lu Ke berdecit di atas beton, tubuhnya terseret mundur hingga satu meter lebih sebelum akhirnya mendongak, menatap Chen Huaxing yang berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, bagaikan seorang guru besar.
“Hebat!”
Chen Huaxing menatap Lu Ke yang tetap tenang tanpa rona apapun di wajahnya setelah menerima pukulan tadi, lalu berkata dengan tawa, “Pukulanku barusan, tiga puluh tahun latihan. Tak banyak yang sanggup bertahan, tapi di sini, kaulah yang pertama bisa menahannya.”
Lu Ke menurunkan tangan tanpa ekspresi, lalu mengungkapkan asal jurus pukulan tadi.
“Yongchun!”
“Luar biasa.”
Chen Huaxing baru hendak bicara lagi, tapi telinganya menangkap suara langkah kaki di tangga darurat. Ia melirik sekilas dan berkata pada Lu Ke, “Nampaknya, mereka yang mati di tanganmu tak sia-sia. Kukira perjalananku ke Federasi kali ini akan membosankan—ternyata tidak. Lumayan, aku menantikan pertemuan berikutnya. Mungkin kau bisa coba bawa lebih banyak magasin, lalu kita lihat siapa yang lebih banyak, pelurumu atau pisa terbangku. Sampai jumpa!”
Usai berkata begitu, Chen Huaxing sekilas melirik pintu darurat yang baru saja didobrak, lalu berbalik, menghimpun tenaga dan berlari kencang ke tepi atap. Ia melompat, tubuhnya melayang membentuk parabola indah melintasi jalan dua arah selebar enam belas meter, mendarat sempurna di gedung seberang.
Para anggota tim khusus, termasuk Hong Duo, yang baru tiba di atap, hanya bisa terpaku menyaksikan pemandangan itu.
...