Bab Tiga Puluh Delapan: Terbongkar
“Direktur Lu,” seorang staf dari YG sudah menunggu di pintu, “acara akan segera dimulai, mohon Anda menunggu sejenak. Saya akan membawa Anda bertemu para anggota BLACKPINK terlebih dahulu.”
Lu Yu mengikuti staf bermarga Park menuju ke belakang panggung. Setelah beberapa ketukan pintu dan menunggu sebentar, pintu ruang istirahat pun dibuka.
“Direktur Lu, mereka adalah Kim Jisoo, Kim Jennie, Park Chaeyoung, dan Lisa.”
Kedatangan Lu Yu sudah diberitahukan sebelumnya, jadi keempatnya telah bersiap.
“Annyeonghaseyo!” seru mereka bersamaan, lalu berdiri sopan di samping.
Lu Yu melirik keempatnya sebelum mengalihkan pandangan ke tempat lain. Namun, satu di antara mereka membuat Lu Yu tertegun sejenak, mengingatkannya pada seorang bintang wanita di negaranya.
“Annyeonghaseyo, saya menantikan penampilan kalian, saya tidak akan mengganggu lebih lama.” jawab Lu Yu dengan sopan.
Bersama staf, Lu Yu meninggalkan ruang istirahat. Namun, Lu Yu tak menyadari bahwa sejak ia berbicara, salah satu dari mereka terus memandangnya dengan tatapan aneh.
Barulah ketika sosok Lu Yu menghilang di balik pintu yang tertutup, orang itu kembali sadar. Namun, dalam hati ia merasa sedikit tercengang.
“Tidak mungkin kebetulan seperti ini, kan?”
Kim Jisoo langsung mengenali suara Lu Yu, dan berusaha menenangkan dirinya dalam hati. Ia membandingkan suara teman game-nya dengan Lu Yu, dan semakin yakin bahwa itulah teman game-nya.
Orang asing, suara mirip.
Dunia ini tidak sekecil itu, kan? Masa seorang teman di game ternyata pewaris konglomerat?
Kim Jisoo terus menenangkan diri, satu-satunya kabar baik mungkin adalah Lu Yu sepertinya belum mengenalinya.
Namun, saat membayangkan Lu Yu duduk di barisan depan menonton penampilan mereka, tubuh Kim Jisoo seketika kaku.
Walau suara saat bermain game sedikit berbeda dengan suara sehari-hari, jika didengarkan baik-baik tetap bisa dikenali.
Jika Lu Yu sampai menyadari, bukankah citranya akan hancur?
Sebagai anggota girlgroup, membayangkan ketahuan seperti itu membuat wajah Kim Jisoo memerah.
“Ouni, kau tidak apa-apa?” tanya Lisa khawatir, sejak Lu Yu masuk dan bicara ia sudah menyadari keanehan pada Kim Jisoo yang berdiri di sampingnya.
Bukan hanya tubuhnya yang kaku, suaranya pun berbeda dari biasanya.
Hal ini membuat Lisa sangat penasaran.
Kim Jisoo terkejut mendengarnya, menoleh dan melihat Lisa menatap dengan rasa ingin tahu, lalu setelah ragu beberapa saat akhirnya memutuskan untuk memberitahunya.
Kim Jisoo berbisik di telinga Lisa, membuat Lisa terperanjat, dan sebelum sempat bersuara, mulutnya langsung ditutup oleh Kim Jisoo.
Lisa hanya bisa mengeluarkan suara lirih yang tak jelas.
Keanehan ini menarik perhatian dua anggota lain.
Lisa bak menemukan penyelamat, menatap penuh harap pada Kim Jennie dan Park Chaeyoung.
Kim Jennie dan Park Chaeyoung saling bertukar pandang, lalu mengangguk sepakat.
Mereka perlahan mendekati Kim Jisoo untuk menyelamatkan Lisa yang terjebak dalam ‘cengkraman’ Kim Jisoo. Jelas terlihat mereka tahu informasi baru.
Toh masih ada waktu sebelum tampil.
Kim Jennie dan Park Chaeyoung perlahan mengepung Kim Jisoo. Setelah melalui sedikit perjuangan, Lisa akhirnya berhasil dibebaskan dari cengkeraman Kim Jisoo.
Lisa menatap Kim Jisoo, bertanya apakah boleh memberitahu Jennie dan Chaeyoung.
Di bawah tatapan penuh selidik dari dua temannya, Kim Jisoo akhirnya menghela napas malu dan mengangguk pasrah.
Melihat itu, mata Lisa berbinar, dan ia langsung menceritakan apa yang dikatakan Kim Jisoo dengan penuh semangat. Berbagi kabar seperti ini sangat menyenangkan, bukan?
Teriakan gembira tiga orang itu membuat leher Kim Jisoo memerah karena malu.
“Ya!”
“Luar biasa!”
Akhirnya, Kim Jisoo tak tahan lagi pada sikap tiga temannya yang terus menggodanya, dan mengeluarkan teriakan kecil.
Namun, itu tidak menghentikan rasa ingin tahu mereka.
Mereka terus mengejar dan bertanya detailnya. Jarang-jarang punya ‘aib’ dari oeni yang bisa disebarluaskan seperti ini.
Kapan lagi kalau bukan sekarang, benar, kan?
Baru saat waktunya bersiap ke belakang panggung, barulah Kim Jisoo terbebas.
Lu Yu duduk di barisan depan dengan tenang menanti pertunjukan. Lampu sorot tiba-tiba berubah dan suara teriakan penonton menggema.
Lu Yu menenangkan pikirannya dan mulai menyimak penampilan mereka.
Girlgroup baru yang diluncurkan oleh YG ini, menurut laporan Kapital Benih, punya potensi besar.
Jika respons penonton bagus, Kapital Benih tidak keberatan sedikit mendorong mereka.
Terlebih ada dua anggota asing, yang bisa dipasarkan ke tingkat dunia.
Keuntungan yang akan diperoleh cukup besar, dan Kapital Benih hanya perlu sedikit dorongan untuk memaksimalkan laba.
Itulah salah satu alasan Lu Yu datang, meski alasan utamanya adalah menonton pertunjukan Kpop ini sebelum harus mengejar pesawat.
Sekaligus menilai langsung YG, ini yang paling utama.
Entah perasaan Lu Yu saja atau bukan, ia merasa keempat orang di atas panggung sesekali memandang ke arahnya.
Perasaan seperti ini sangat familiar baginya, sejak kecil ia sudah sering merasakannya.
Kalau sampai tidak bisa membedakan, justru itu yang aneh.
Lu Yu mengamati keempat anggota di atas panggung, lalu mengambil kesimpulan.
Bukan sekadar pandangan sekilas, melainkan tatapan yang sengaja diarahkan padanya.
Lu Yu berpikir, apa alasan mereka menatapnya seperti itu.
Mungkin alasan paling masuk akal adalah identitasnya—di sini ia paling dikenal sebagai pewaris konglomerat.
Memang masuk akal jika itu yang membuat mereka memandanginya, tapi Lu Yu merasa tatapan mereka bukan karena statusnya.
Justru seolah ada sesuatu yang ingin mereka ketahui, ada rasa ingin tahu dalam tatapan itu.
Hal ini membuat Lu Yu sedikit bingung.
Pertunjukan segera berakhir, Lu Yu meninggalkan tempat acara, dan di luar sudah ada mobil yang menunggunya ke bandara.
Di dalam mobil, Lu Yu tiba-tiba bertanya pada asisten yang duduk di depan, “Kamu bawa laptop?”
Asisten segera mengeluarkan laptop dari tas kerja dan menyerahkannya pada Lu Yu.
Lu Yu menerima laptop itu, meletakkannya di pangkuan, dan mengunduh aplikasi Steam. Melihat ikon gim Battlegrounds, bibirnya tersenyum.
“Apakah karena kamu?”
Lu Yu menutup aplikasi Steam dan mulai mengurus urusan Kapital Benih.
Tebakan di hatinya hampir menemukan jawaban.
Mengingat profesi teman game-nya yang dulu selalu misterius, suara yang familiar, dan tatapan penuh selidik hari ini.
Semua petunjuk itu mengarah pada anggota baru girlgroup YG yang baru ditemuinya hari ini.
Kim Jisoo dari BLACKPINK.
Setelah menebak identitas teman game-nya, Lu Yu tidak merasa terlalu terkejut.
Ia justru penasaran dan mulai melihat kembali penilaian sebelumnya tentang BLACKPINK yang kurang ia ingat.
Lu Yu mencari-cari laporan penilaian yang dibuat bawahannya.
Menurut laporan, Kim Jisoo di BLACKPINK dianggap tidak terlalu menonjol, bahkan YG tampaknya tidak memberikan banyak perhatian padanya.
Dibandingkan dengan tiga anggota lainnya, sumber daya yang didapat Kim Jisoo jauh lebih sedikit.
Setelah membaca laporan itu, Lu Yu menutup laptop dan mengembalikannya pada asisten.
Asisten itu langsung menerima laptop, dalam hati memikirkan perilaku Lu Yu, dan menempatkan BLACKPINK di posisi lebih tinggi dalam daftar artis pilihannya.
Selama ini, bagi sang asisten, artis dengan posisi tertinggi adalah Lee Ji-eun.
Meski Lu Yu tidak berkata banyak, ia juga tak melarang secara langsung.
Kadang-kadang atasan tak perlu mengatakannya, sebagai asisten ia harus berusaha tahu sebanyak mungkin.
Terlebih, ketika Lu Yu sudah tahu dan tak menegur, itu sudah menunjukkan sikapnya.
Membiarkan saja seperti ini pun berarti semacam persetujuan.
Tak lama, kendaraan mereka tiba di tujuan. Tak berapa lama kemudian, Lu Yu pun kembali menapakkan kaki ke tanah air, meninggalkan tanah asing ini sekali lagi.