Bab 7

Setelah pikirannya terbaca, si pemeran figuran mendadak menjadi kaya raya. Gula Beri 3902kata 2026-03-04 22:32:53

Latihan hari itu segera berakhir.

Sepanjang hari, Ji Ran tidak pernah memulai percakapan dengan Lin Zhiqiao, tapi suara hati dari lawannya itu terus-menerus berputar di telinganya. Sekalipun menutup telinga, suara itu tetap menembus masuk. Lebih mengganggu daripada mantra yang didendangkan Biksu Tang.

Setelah kembali ke asrama dan selesai mandi, malam sudah larut. Ji Ran menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan berat, wajahnya yang telah bersih dari riasan tebal, anting, dan tindik bibir menjadi jauh lebih lembut dan polos, menyisakan bayang-bayang masa muda yang belum genap dua puluh tahun. Di saat banyak teman sebayanya masih sibuk mengejar nilai di kampus, ia sudah dua tahun menjadi trainee, menjadi cahaya yang dikejar sebagian penggemar. Ia hanya tinggal menunggu panggung debut yang tepat.

Hari ini Ji Ran merasa sangat lelah. Tubuhnya lelah, tapi hatinya lebih letih. —Semua ini salah Lin Zhiqiao!

Dengan gigi terkatup rapat, ia memeluk bantal dan meremasnya keras-keras, melampiaskan kekesalannya seolah-olah bantal itu adalah Lin Zhiqiao.

Namun, rasa berat di dadanya tak kunjung mereda. Ji Ran lalu mengenakan earphone, memutar lagu sekeras mungkin, dan iseng membuka Weibo untuk menelusuri postingan.

Ia punya akun kecil di Weibo, biasa dipakai untuk melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan di akun utama. Misal, berdebat dengan haters, memamerkan baju lucu milik si kuning kecil, atau... mengikuti forum CP Shuanghuo, melihat para penggemar CP yang menggemaskan mendebatkan berbagai detail aneh tentang dirinya dan Yuan Yu.

Tapi hari ini, di forum itu muncul sejumlah konten yang tidak begitu menyenangkan.

‘Sudah pada lihat akun itu? Aku agak panik, jangan-jangan Shuanghuo akan bubar?’

Ji Ran tertegun sejenak, langsung menyadari bahwa yang dimaksud adalah akun kecil Yuan Yu ‘Dunia Kotor dan Absurd 40298.’ Tentu saja, kebenarannya masih perlu dibuktikan.

Ji Ran sendiri tidak percaya. Di kolom komentar, mayoritas orang juga sepemikiran dengannya.

‘IP-nya beda, panik kenapa sih.’
‘Akun kecil model gini, nggak ada identitas, gampang banget dipalsukan.’
‘Aku nggak percaya itu Yu-ge, aku lebih percaya yang kulihat sendiri.’
‘Iya, pas siaran langsung tadi, Ran-ge dan Yu-ge manis banget, nggak mungkin palsu!’

Sambil membaca, Ji Ran mengangguk-angguk. Benar, Shuanghuo itu nyata, benar-benar nyata!

Namun, bagaimanapun ia menenangkan diri, tetap saja hati Ji Ran terasa tidak tenang. Bukan hanya karena si kuning kecil dan Peppa Pink, tapi juga banyak detail lain... Hal-hal yang seharusnya Lin Zhiqiao tidak tahu, ternyata ia tahu.

Contohnya saja kebiasaan Yuan Yu yang sangat menjaga kebersihan. Cairan disinfektan dan tisu alkohol yang selalu tersedia di asrama dan cepat habis, seprai dan selimut di tempat tidur Yuan Yu yang hampir tiap hari diganti...

Hati Ji Ran terasa tersiksa. Saat sadar, ia mendapati dirinya sudah mengetik nama akun kecil itu di kolom pencarian.

Dengan ragu, ia klik masuk.

‘Sial! Jijik banget! Semoga tak ada lagi homoseksual tolol di dunia ini!!!’

Waktu postingan itu sekitar pukul satu siang tadi. Ji Ran mengingat-ingat, saat itu ia baru saja menjemput Lin Zhiqiao dan sedang dalam perjalanan menuju asrama baru mereka. Sempat mampir ke asrama lamanya mengambil barang, dan kebetulan mengobrol sebentar dengan Yuan Yu.

Ji Ran mengatupkan bibir, lalu menggulir ke bawah.

Seperti yang dikatakan Lin Zhiqiao, isi akun kecil itu penuh dengan luapan emosi yang menjijikkan, aura kebencian dan permusuhan yang menyesakkan hati Ji Ran.

‘Banci, makan di pinggir jalan, kencan berdua, neraka tingkat sembilan :)’

Sepuluh hari lalu. Ji Ran langsung teringat—hari itu, setelah latihan selesai, ia dan Yuan Yu memang menyamar dan keluar kencan, makan di warung pinggir jalan.

Ji Ran terdiam lama sebelum berani melanjutkan membaca.

‘Kenapa harus pakai baju couple, menjijikkan sekali... siapa yang mau tolong aku...’
‘Pesan makanan dibentuk di piring, dia percaya aku masakin buat dia, siapa sih yang mau masak buat homo mati! Goblok banget hahaha’

‘Kampungan ya kampungan, barang KW aja nggak tahu bedanya.’

‘Laki-laki kok nangis, jijik banget! Air matanya jangan-jangan ada virusnya... sial, baju baru habis lagi nggak bisa dipakai.’

Ji Ran menjatuhkan ponselnya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal. Tanpa melihat waktu postingan, ia tahu pasti ini ditulis setengah tahun lalu—saat keluarganya mendapat musibah, ia sedang terpuruk, Yuan Yu yang melihatnya murung datang menghibur, dan untuk pertama kalinya Ji Ran menangis sejadi-jadinya di depan Yuan Yu sampai bahunya basah. Waktu itu Yuan Yu begitu lembut, bahkan bercanda kalau bekas air matanya seperti bentuk ‘QAQ’.

Sekarang, Ji Ran nyaris ingin menangis lagi, hidungnya terasa perih.

Sekali kebetulan, dua kali juga. Tapi tiga, empat, bahkan lebih—tidak mungkin dunia ini dipenuhi kebetulan seperti itu.

Secara logika, Ji Ran tahu akun kecil itu kemungkinan besar milik Yuan Yu, tapi perasaannya menolak untuk menerima. Betapapun buktinya saling beririsan, tak ada satu pun yang benar-benar menguatkan bahwa itu akun Yuan Yu.

Ji Ran gelisah di atas ranjang, lalu tiba-tiba teringat sesuatu—

Saat musim panas baru saja ditayangkan dan CP Shuanghuo sedang sangat populer, ia sempat menerima sebuah pesan pribadi yang agak aneh. Pesan itu memperingatkannya agar tidak terlibat CP dengan Yuan Yu, dan kalau sudah terlanjur, sebaiknya segera mencari cara untuk lepas.

Saat itu, Ji Ran sedang berada dalam masa-masa manis dengan Yuan Yu, jadi ia mengira pengirim pesan itu hanya haters dan fanatik, sehingga tak dihiraukannya. Ia juga sempat membuka profil si pengirim, postingan terbaru orang itu adalah foto kartu pegawai, dengan caption seperti ‘Akhirnya lolos CPNS, keluar dari neraka.’

Waktu itu Ji Ran tidak terlalu memikirkan, tapi sekarang...

Lolos CPNS, keluar dari penderitaan, dan nada nasihat seperti orang yang sudah mengalami sebelumnya... sangat mirip dengan yang diceritakan Lin Zhiqiao, tentang aktor pria yang dulu pernah dibuat CP dengan Yuan Yu lalu kini menjadi pegawai negeri.

Ji Ran langsung duduk, mengumpat pelan, “Sial.”

Daripada terus menerka-nerka, lebih baik langsung menemui Yuan Yu dan tanyakan sendiri. Ia memang bukan tipe orang yang suka berlarut-larut dalam kebimbangan.

Ia segera mengenakan jaket, menahan amarah, dan keluar dari asrama.

*

Lin Zhiqiao belum tidur.

Suara pintu terbuka menarik perhatiannya, langkah kaki itu seperti milik Ji Ran. Malam-malam begini, Ji Ran mau ke mana...

Lin Zhiqiao menyeringai. Oh. Tak perlu ditebak, pasti ke kamar Yuan Yu.

Ia berguling gelisah, bingung ingin mengingatkan Ji Ran atau tidak.

Yuan Yu itu benar-benar brengsek. Tak pantas untuk diperjuangkan!

Sayang, energi kotaknya sudah habis, dan informasi yang didapat sebelumnya pun belum cukup untuk menyingkirkan Yuan Yu.

Saat itu, 888 tiba-tiba bersuara: [Menerima poin ketertarikan 30 dari Song Fengshi, silakan cek!]

Lin Zhiqiao terkejut: [Siapa? Song Fengshi? Pak Song?]

888: [Benar.]

Kenapa mendadak dapat poin ketertarikan malam-malam begini? Masa Pak Song tiba-tiba...

Notifikasi pesan masuk; itu dari Fang Xinnan.

‘Song Fengshi minta aku sampaikan terima kasih padamu. Nanti kalau sempat, dia ingin mentraktir makan.’

Lin Zhiqiao: [Oh, sepertinya dia sudah cek kesehatan dan tahu dirinya sakit.]

Di sisi lain, Song Fengshi baru saja menerima hasil pemeriksaan kesehatan.

Kali ini ia menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk bagian-bagian yang biasanya tidak dicek.

Begitu hasil keluar, dokternya langsung datang ke rumah Song malam-malam.

“Untung ditemukan lebih awal, sekarang operasi saja sudah bisa mengendalikan, nanti tinggal pelan-pelan dirawat. Kalau telat setahun-dua tahun... untunglah sekarang masih sempat.” Kata dokter.

Jari Song Fengshi yang bertumpu di meja sedikit mengepal.

Dokter menghela napas, “Semakin cepat operasi, semakin baik. Kapan mau dilakukan?”

Song Fengshi menjawab, “Tunggu aku selesai mengurus beberapa hal.”

Beberapa urusan keluarga Song, dan... Lin Zhiqiao.

Informasi dari keluarga Song sangat cepat; Song Fengshi sudah tahu identitas Lin Zhiqiao serta masa lalunya dengan keluarga Lin.

Ia menunduk berpikir, lalu segera mengambil keputusan.

*

Poin ketertarikan dari Song Fengshi benar-benar seperti rezeki nomplok.

Bagus, besok saat latihan, ada lagi bahan gosip baru untuk dinikmati.

Lin Zhiqiao puas, menutup mata bersiap tidur, tapi suara pintu di luar kembali terdengar.

Ji Ran sudah pulang.

Kenapa cepat sekali? Pacaran saja tidak lama-lama?

Dalam hati, Lin Zhiqiao langsung membuka kotak kejutan lagi—

[Eh? Yuan Yu malam ini pertemuan rahasia, tidak di asrama? Kencan dengan siapa? Ji Ran?]

[Tidak mungkin, Ji Ran baru keluar lalu pulang, masa kencan tiga detik?]

[Sial! Ternyata bukan dengan Ji Ran! Di hutan kecil! Arah tenggara, dekat sudut pangkalan di bawah pohon tua! Lawannya adalah trainee girl group dari Pangkalan Mingguang—]

Tiba-tiba, suara keras terdengar, memotong suara hati Lin Zhiqiao.

Ia terkejut, membuka pintu dan mengintip keluar, hanya melihat pintu kamar Ji Ran yang tertutup rapat, dan kepala-kepala lain yang bermunculan dari balik empat pintu lainnya.

Oh, ditambah kepala kameramen yang mengintip dari luar asrama.

Enam orang saling tatap. Lin Zhiqiao bertanya pelan, “Belum tidur semua?”

Yang lain: “...”

Jiang Qianqian berdeham, bermakna, “Tadi berisik sekali, memang susah tidur.”

Lin Zhiqiao mengangguk, menutup pintu.

[Malam-malam begini Ji Ran mau ke mana? Anak itu nggak tidur-tidur... Eh? Kok arahnya ke hutan kecil?!]

888 segera mengingatkan: [Tuan rumah, bonus makan gosip di tempat langsung dobel, lho!]

Lin Zhiqiao: ...

Apakah ia tipe orang yang menghalalkan segala cara demi uang?

Memang.

Pintu terbuka.

Lin Zhiqiao dan lima pasang mata di luar saling pandang.

Setelah beberapa saat, Lin Zhiqiao berkata, “Eh, kebetulan ya kita ketemu.”

Kameramen: “Sepertinya Ji Ran dan Yuan Yu bertengkar.”

Lin Zhiqiao, yang sedang mencari alasan untuk ikut ke luar: “Bertengkar? Wah, bertengkar nggak baik, aku ikut menengahi!”

Langsung ia melesat keluar.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Saat menoleh, Lin Zhiqiao terkejut, “Kalian kok ikut juga?”

Kameramen mengekor di belakang, masih mengangkat kamera: “Aku mau rekam bukti!”

Lalu Tang Zhou: “Kalau sampai berantem gimana? Yuan Yu badannya gede... aku takut Ji Ran kalah, aku ikut bantu!”

Kemudian Wen Li: “Aku bisa pertolongan pertama, siapa tahu butuh.”

Jiang Qianqian berpikir keras: “Aku... aku buat finishing!”

Pei Ning tenang saja, tapi langkahnya cepat: “Harus ada yang ngurus mayat, kan?”

Mereka beramai-ramai masuk ke hutan kecil yang temaram malam itu.

Dalam hati Lin Zhiqiao membatin: [Memang dunia ini masih banyak orang baik!]