Bab 19
Entah karena mempertimbangkan sedang ada siaran langsung atau merasa bersalah, Jiang Cheng tidak melanjutkan mengetuk pintu. Latihan semua orang pun bisa berlanjut.
Waktu menuju pertunjukan perdana yang dijanjikan tinggal kurang dari dua hari, suasana tegang menyelimuti seluruh ruang kelas. Bahkan Lin Zhiqiao yang biasanya santai pun kini merasakan tekanan.
Seperti biasa, Cheng Xia mengambil peran sebagai 'pelatih', dengan serius memperbaiki setiap detail terakhir. Namun di sela-sela latihan, Lin Zhiqiao menyadari ada yang berbeda dengan keadaan Cheng Xia. Meski terlihat tetap fokus dan serius seperti dulu, cahaya yang pernah Lin Zhiqiao lihat pada diri Cheng Xia seolah meredup.
Lin Zhiqiao meliriknya sekali, lalu sekali lagi.
Gosip dalam hati Lin Zhiqiao pun muncul, “Anak baik ini tampaknya sedang tidak bahagia... Bagaimana ini, aku kan tidak pandai menghibur anak-anak!”
Cheng Xia tampak sedikit terkejut, kedua telinganya memerah dengan cepat. Ji Ran menatapnya, seolah ingin berkata sesuatu, namun Cheng Xia menghindari tatapannya dan hanya menggeleng pelan.
Setelah satu putaran latihan selesai, Lin Zhiqiao duduk di tepi dinding untuk beristirahat. Tiba-tiba, sebuah botol air mineral yang sudah dibuka disodorkan ke arahnya.
Ternyata Cheng Xia.
Lin Zhiqiao menerima dan meneguk dua kali, “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Cheng Xia juga memegang sebotol air, diam sejenak lalu bertanya, “Lin Zhiqiao, boleh aku tanya sesuatu?”
Lin Zhiqiao berkedip, “Tanya saja.”
Dalam hatinya, Lin Zhiqiao bergumam, “Anak baik ini... mau curhat sama ayahnya?”
Cheng Xia berusaha mengabaikan suara hati Lin Zhiqiao, “Kalau, ini hanya misal saja...”
Jari-jarinya menggenggam kuat, botol air mineral itu sampai berkeretak, “Kalau tidak menjadi aktor, kamu akan memilih jadi apa?”
“Tidak jadi aktor ya...” Lin Zhiqiao berpikir sejenak, “Kalau uangku sudah cukup, pensiun saja lebih awal! Pelihara seekor kucing dan seekor anjing, beli mobil kemping, lalu jalan-jalan bareng mereka, ke mana pun aku mau!”
Saat bicara tentang hidup yang diidamkan, mata muda itu tampak bersinar, seolah menampung cahaya terang.
“Akan lebih baik lagi kalau bisa makan buah segar yang renyah kapan saja!”
‘Siapa sih yang tidak ingin pensiun dini?’
‘Kalau saja bukan karena uang, siapa yang mau kerja di tempat busuk begini [dari hati seorang pekerja lelah]’
Cheng Xia mendengarkan dengan tenang, lalu berbisik, “Begitu ya... Kedengarannya bagus juga.”
Lin Zhiqiao meliriknya.
“Kenapa tiba-tiba tanya seperti ini... apa anak baik ini sudah tidak mau jadi idola lagi?”
Tiba-tiba terdengar bunyi “duk” dari dalam kelas, ternyata Ji Ran menjatuhkan botol air dari tangannya.
Cheng Xia menggigit bibir, tampak bingung, “Sekarang... aku jadi tidak tahu harus ngapain.”
“Dulu aku tidak punya pilihan lain, tapi sekarang sudah berbeda.” Ucapnya lirih.
Menjadi trainee idola bukanlah jalan yang Cheng Xia pilih sendiri. Benar, Cheng Xia sempat merasakan kebahagiaan dalam prosesnya, namun setelah dua tahun berlalu, gairah itu hampir habis. Bertahan di sini hanyalah salah satu pilihan, bukan satu-satunya jalan.
Hati Cheng Xia dipenuhi kebingungan, bahkan sedikit merasa kehilangan arah.
Setiap orang punya sesuatu yang ingin mereka kejar. Dulu Cheng Xia tidak punya waktu dan tenaga untuk memikirkan hal itu untuk dirinya sendiri. Sekarang, saat kesempatan itu datang, ia justru tak tahu harus melangkah ke mana.
‘Aku sampai bingung sendiri, jangan-jangan kak Xia benar-benar mau keluar dari dunia hiburan?!’
‘Jangan dong, aku sudah menunggu dua tahun, akhirnya Xia kembali bangkit, aku masih berharap dia bisa debut bareng grup nanti [menangis]’
‘Sebenarnya aku sangat paham perasaan Cheng Xia sekarang... Sudah pernah meraih puncak, juga pernah jatuh ke dasar, setelah dua tahun ini, pasti dia sudah melihat banyak hal dengan jelas.’
‘Kasihan Xia, apapun keputusan akhirnya, mau bertahan atau pergi, aku tetap dukung (meski sedih banget ya Tuhan [menangis parah])’
Cheng Xia tidak benar-benar mengharapkan jawaban dari Lin Zhiqiao, ia hanya ingin berbicara dengan seseorang, tapi tidak tahu harus ke siapa, maka terpikirkanlah Lin Zhiqiao. Seperti saat itu, tiba-tiba saja ingin bertemu Lin Zhiqiao.
Mungkin karena Lin Zhiqiao yang membantunya memecahkan ‘belenggu’ yang membatasi dirinya selama ini.
Cheng Xia menundukkan bulu matanya, namun tiba-tiba mendengar suara lembut dari sampingnya, “Kalau tidak tahu mau ngapain, ya jangan lakukan apa-apa dulu.”
Cheng Xia langsung menengadah, “Maksudmu... tidak melakukan apa-apa?”
“Iya.” Lin Zhiqiao mengangguk, “Kasih libur buat diri sendiri, nanti kalau sudah paham dan menemukan apa yang ingin dilakukan, baru mulai lagi, kan bisa?”
Ia menepuk bahu Cheng Xia dengan nada bijaksana, “Kamu masih muda, kapan pun mulai tidak akan pernah terlambat, yang penting bahagia!”
“Anak muda itu, kalau terlalu sering mengernyit bisa cepat tua, lho!”
“Lagi pula... keluarga Ji kan kaya sekali, meskipun kamu rebahan seumur hidup, tidak akan bikin keluarga Ji bangkrut!”
Ji Ran di sampingnya mengangguk-angguk semangat.
Benar sekali!
Cheng Xia termenung, lama kemudian baru berkata pelan, “Kamu benar.” Ia tersenyum tipis, “Terima kasih.”
Lin Zhiqiao merasa lega, “Sama-sama, yang penting sekarang sudah paham.”
‘Ini semua memang tugas ayah, ehehe!’
‘Kelihatan banget, Cheng Xia mulai terbiasa jadi anak baik, hahaha’
‘Xia, jangan takut, semua ayah dan ibu di sini sangat sayang sama kamu!’
*
Latihan selesai, semua orang berangkat kembali ke asrama.
Tak disangka, di depan pintu asrama, sudah ada tamu tak diundang yang menunggu.
Cheng Li menghadang Cheng Xia, “Kak Xia.”
Ia langsung menarik lengan baju Cheng Xia, “Kita bicara dulu.”
Cheng Xia mengernyit, “Aku lagi nggak ada waktu.”
“Aku tahu kak Xia sekarang sibuk.” Cheng Li memasang wajah memelas, “Jadi aku sudah pesan ruang 403 di ‘Qing Ye’ jam delapan malam. Cuma sekali ini, ayo kita bicara baik-baik, ya?”
Belum sempat Cheng Xia menjawab, Cheng Li sudah pergi sambil berkata, “Aku tahu kak Xia pasti akan datang.”
Cheng Xia tampak berpikir keras.
Lin Zhiqiao mengernyitkan hidung, bersembunyi di belakang teman-temannya.
Aroma teh terlalu kuat.
Sampai-sampai menusuk hidung.
“Jangan pergi, siapa tahu dia sudah siapkan jebakan buat kamu!” Ji Ran tampak sangat kesal, “Orangnya saja kelihatan tidak punya niat baik!”
‘Kayaknya keterlaluan deh? Cheng Li kan nggak ngomong apa-apa!’
‘Memang orang tua Cheng Qiang salah, tapi Cheng Li juga korban, kasihan juga, dapat orang tua kayak gitu, malah harus beresin semua masalah mereka...’
Dulu, Cheng Xia hanya punya pilihan untuk ‘pergi’.
Di sekitar Cheng Li ada semacam medan magnet aneh, kalau tidak mengikuti kemauannya, Cheng Xia selalu mengalami ‘bencana’ yang lebih sulit diperkirakan.
Itulah medan magnet aneh yang hanya dimiliki Cheng Li, juga belenggu yang mengikat Cheng Xia selama bertahun-tahun.
Kalimat ‘kak Xia pasti akan datang’ menyimpan ancaman yang hanya bisa dimengerti oleh Cheng Xia, membuat dadanya terasa berat, seolah darahnya berhenti mengalir.
Tapi sekarang...
Cheng Xia melirik Lin Zhiqiao.
Pemuda berambut cokelat itu tampak kosong, seperti sedang melamun.
Namun hanya dengan satu pandangan itu, Cheng Xia mendadak merasa tenang.
Ada kekuatan tak terlihat yang perlahan menghangatkan hatinya, mengusir rasa dingin yang membekap.
Ia punya Lin Zhiqiao.
Cheng Xia membatin.
Ia ingin mencoba, menuruti keinginannya sendiri.
Ia tidak mau pergi.
“Gila? Gila, gila, gila!”
Teriakan dalam hati Lin Zhiqiao yang tiba-tiba memecah lamunan semua orang.
“Apa-apaan ini? Tidak bisa memiliki, lalu mau dihancurkan? Cheng Li ternyata beneran pakai skenario psikopat!”
Lin Zhiqiao menarik napas dalam-dalam, “Lindungi anak baik kita! Orang aneh, minggir jauh-jauh!”