Bab Sembilan Puluh Sembilan: Menyaksikanmu Tumbuh Dewasa
Huabin menatap lekat-lekat ke permukaan laut, cahaya bulan mengalir bagaikan air, menciptakan pemandangan yang tampak begitu damai.
Tiba-tiba, permukaan laut yang tenang bergelora. Aixin meloncat keluar dari air, rambut panjang menutupi wajahnya, kedua tangan menggapai-gapai, jelas sekali ia sedang tenggelam.
Huabin segera berlari mendekat, namun ia tidak langsung terjun ke air, melainkan berteriak kepada Aixin, “Bertahanlah! Kau pasti bisa mengalahkan ketakutan dalam hatimu, jangan biarkan ia menguasaimu!”
Belum sempat ucapannya selesai, Aixin sudah tenggelam ke dalam air, dan tak lama kemudian ia muncul lagi dengan susah payah, kedua tangan masih mengibas-ngibas tak tentu arah, berjuang keras, terlihat ia hampir kehabisan tenaga.
Rintangan ini harus ia lewati sendiri. Jika Huabin menyelamatkannya sekarang, seumur hidup Aixin akan selalu bergantung pada orang lain.
Huabin berseru keras, “Tenangkan dirimu, jangan biarkan pikiranmu kacau, pegang satu keyakinan, pikirkan masa terindah dalam hidupmu, gunakan kebahagiaan untuk menekan ketakutan! Ayo, nona, kau pasti bisa!”
Huabin terus meneriakkan semangat untuknya, sementara Aixin masih berjuang di permukaan laut, tepat di atas palung yang dalam dan gelap, seolah hendak menelannya, dan ia sedang melawan untuk terakhir kalinya.
Gelombang demi gelombang menenggelamkan Aixin, di tempat ia barusan berjuang masih tersisa gelembung-gelembung udara, rambut panjangnya mengambang di permukaan bagaikan rumput laut, melayang tenang.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, seakan satu abad telah berlalu, nyawa Aixin pun terancam, bahkan Huabin mulai gelisah dan tanpa sadar melangkah ke dalam air.
Tiba-tiba terdengar suara cipratan, Aixin muncul ke permukaan, mengapung dengan stabil di atas laut, terengah-engah, tanpa lagi berjuang, tanpa kepanikan, ia benar-benar telah mengalahkan ketakutan dalam hatinya.
“Aku menang, aku mengalahkannya!” Aixin berseru girang, berenang ke arahnya bagaikan putri duyung. Di bawah sinar bulan, tubuhnya yang indah dihiasi butiran air bak permata, namun ia sudah tak peduli lagi, langsung melompat ke pelukan Huabin karena terlalu gembira.
Huabin menepuk punggungnya dengan puas, berkata, “Aku sudah tahu kau pasti bisa. Hipnotis, sugesti—semua itu hanyalah trik kecil, tak ada orang atau cara yang benar-benar bisa mengendalikan hati seseorang. Dalam hati manusia, kenangan indah selalu lebih banyak dari kenangan menakutkan. Harapan selalu lebih besar dari masa lalu!”
“Benar sekali,” jawab Aixin, “Barusan aku merasa seperti dijerat banyak rumput air, hampir saja tenggelam. Saat itu aku mendengar suaramu yang menyuruhku mengingat masa-masa bahagia, dan tiba-tiba saja air di sekelilingku terasa ramah, seolah-olah mengangkatku ke permukaan.”
Huabin penasaran bertanya, “Jadi, kenangan indah apa yang kau pikirkan tadi?”
Wajah Aixin langsung memerah, baru sadar bahwa dirinya tidak mengenakan pakaian. Ia menjerit, buru-buru menyelam lagi, hanya menampakkan kepala di permukaan, lalu berkata, “Aku tidak mau memberitahumu!”
Keduanya, satu di air, satu di darat. Huabin tertawa, “Keadaan kita sekarang mirip kisah putri duyung yang jatuh cinta pada pria tampan, tapi akhirnya tetap tak bisa bersama.”
Aixin mengedipkan mata nakal, bertanya, “Kalau aku benar-benar putri duyung, kau lebih suka bagian atas manusia dan ekor ikan, atau kepala ikan dan tubuh manusia?”
“Hah?” Huabin tertegun. Ini mungkin lebih sulit daripada memilih antara menolong istri atau ibu yang sama-sama tercebur ke air.
Tubuh manusia dan ekor ikan, indah dipandang, sosok yang menawan, adalah gambaran putri duyung yang disukai banyak orang, namun hanya sebatas bisa dinikmati secara visual.
Sedangkan kepala ikan dan tubuh manusia, sungguh berbeda, lebih praktis, asalkan lampu dimatikan dan wajah tidak terlihat, rasanya sama saja!
Namun Huabin tetap sulit memilih. Di saat itulah, Aixin menceplokkan segenggam air ke arahnya dan bertanya, “Sudah dipikirkan, kamu pilih yang mana?”
Huabin tersenyum getir, “Tidak ada pilihan lain? Yang satu cinta tanpa hasrat, yang satu hasrat tanpa cinta, keduanya bertentangan dengan hukum alam, harus seimbang antara yin dan yang, baru sempurna.”
Aixin tidak membahas lagi, setelah berhasil menaklukkan ketakutannya, ia benar-benar seperti putri duyung yang bebas berenang di lautan, dalam gelap hanya terlihat bayangan putih yang melesat lincah.
Huabin tak kuasa bertanya lagi, “Jujur saja, tadi sebenarnya kenangan indah apa yang membantumu mengalahkan ketakutan itu?”
Aixin tetap menjawab, “Aku tidak mau memberitahumu!”
Huabin mengejar, “Apa dalam kenangan indah itu ada aku?”
Aixin terdiam, langsung menyelam, mencoba kabur. Huabin yang berdiri di tepi pantai berteriak, “Kau kira bisa lolos dariku?!”
Aixin sangat mengenal Huabin, dia memang tak tahu malu dan tak punya batasan, segala cara pasti ia lakukan. Aixin buru-buru menampakkan kepala.
Dan benar saja, dugaan Aixin tepat, Huabin malah membawa pakaian dan pakaian dalamnya, sambil tersenyum puas berteriak, “Ayo, katakan, kenangan indah apa itu? Kalau tidak, semua pakaianmu akan aku bawa pergi. Pilih, mau terbang telanjang seperti tujuh bidadari, atau nurut sama abang gembala sapi?”
“Dasar bandit, cepat kembalikan pakaianku!” teriak Aixin.
Huabin sambil memegang pakaiannya, bertanya penasaran, “Siapa suruh kau berenang telanjang?”
Benar juga, Aixin jadi bingung. Barusan ia terlalu fokus mengatasi ketakutannya, sampai tak sadar telah menanggalkan semua pakaiannya, dan langsung di depan Huabin pula. Untung sekelilingnya gelap gulita, kalau tidak, jangankan bisa mengalahkan ketakutan, malah bisa-bisa ia dipermalukan oleh Huabin.
Saat itu, dari kejauhan terlihat beberapa mobil melintas di jalan. Aixin ketakutan, buru-buru menyelam lebih dalam. Mata Huabin langsung berbinar, ia mengeluarkan ponsel, menyalakan mode malam, “Katanya sekarang foto-foto selebriti telanjang di laut laku mahal, kira-kira berapa ya harga foto bintang cantik berenang tanpa busana?”
“Brengsek, dasar mesum, berani-beraninya kau!” Aixin langsung memaki, seluruh tubuhnya bersembunyi di dalam air. Sejak kecil Huabin memang nakal, seolah tidak ada hal yang tak berani ia lakukan.
“Kalau begitu, cepat katakan, kenangan indah apa yang kau ingat tadi?” Huabin tetap memaksa. Baginya, metode mengalahkan ketakutan dan hipnotis hanyalah konsep umum. Karena Aixin sudah berhasil, sebagai seorang dokter, ia harus menggali hingga tuntas, anggap saja sebagai penelitian ilmiah.
Aixin, dengan wajah merah padam menahan malu, akhirnya menyerah, “Baik, aku akan ceritakan!”
Wajah Huabin langsung memperlihatkan senyum licik, ia melipat rapi pakaian Aixin, menaruhnya di atas pasir, lalu menutupi dengan tudung, tampak seperti gundukan kecil.
Aixin berkata pasrah, “Waktu mendengar suaramu yang menyuruhku rileks, kenangan paling indah tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku. Masih ingat sungai kecil di sebelah timur sekolah?”
“Tentu saja ingat,” jawab Huabin, “Sejak kelas satu itu adalah markas rahasiaku. Setiap pulang sekolah aku pasti ke sana, musim panas mandi di sungai, musim dingin main kereta es. Itu seluruh masa kecilku. Tapi, apa hubungannya denganmu?”
Sejak kecil ia memang seperti anak yang dibiarkan bebas, ayahnya sibuk menangani pasien, sepulang sekolah ia sering sendirian, lalu menemukan tempat terpencil di tengah ladang itu sebagai dunianya sendiri.
Wajah Aixin semakin merah, bahkan air laut yang dingin pun tak mampu mendinginkannya. Ia sendiri tak menyangka, kenangan yang sulit diungkap, ternyata adalah momen paling indah dan membahagiakan dalam hidupnya, sampai memikirkannya saja membuatnya malu.
Didesak oleh Huabin, ia berbisik, “Sebenarnya, setiap hari pulang sekolah aku diam-diam mengikutimu, melihatmu bermain di tepi sungai. Meskipun hanya sendirian, kau tampak sangat bahagia, seakan-akan seluruh dunia itu milikmu. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan seperti itu.
Jadi, setiap kali kau pergi, aku akan meniru semua yang kau lakukan di sana, berguling-guling, melempar batu, berenang di sungai...”
“Berhenti!” potong Huabin tiba-tiba, “Kau bisa-bisanya menceritakan soal menguntit dan mengintip dengan nada sebersih itu! Dan lagi...”
Huabin tiba-tiba memegang celana, “Waktu musim panas aku selalu berenang dan mandi di sungai itu. Kalau kau penguntit sejati, bukankah semua sudah kau lihat?!”
Wajah Aixin panas seperti terbakar, ingin rasanya tenggelam saja, tapi ia tetap berkata keras, “Siapa juga yang mau melihat barangmu itu!”
“Jangan mengelak,” Huabin terus mendesak, “Sebenarnya berapa lama kau mengintip aku?”
Aixin tidak sanggup menahan tatapan Huabin yang begitu tajam, ia berbisik, “Sampai kelas dua SMA.”
“Kelas dua SMA?!” Huabin terkejut, “Berarti dari umur tujuh sampai tujuh belas, sepuluh tahun penuh kau mengintip aku mandi? Jadi... adik kecilku itu tumbuh besar di bawah pengawasanmu?!”
“Dasar!” Aixin meludah kesal. Ia sudah tahu Huabin bermulut usil, tapi tak menyangka ia akan langsung membahas hal cabul. Bintang besar sepertinya pun jadi malu, langsung menyelam lebih dalam.
Aixin sendiri tak menyangka, kenangan paling indah itu justru momen-momen mengintip Huabin sepanjang masa kecilnya. Saat hampir ditelan laut tadi, ia tiba-tiba teringat sungai kecil itu, dan seolah dirinya kembali ke sana, airnya jernih dan mengalir lembut, mengangkatnya ke permukaan.
Rahasia yang dipendam selama belasan tahun itu akhirnya terungkap. Memang benar, ia menyaksikan Huabin ‘tumbuh’, dari burung kecil menjadi burung besar yang berani terbang ke mana saja.
Sepuluh tahun, waktu yang sangat panjang. Bagaimana mungkin Huabin tak menyadari ada gadis kecil berambut kuncir dua yang selalu bersembunyi di balik pohon besar itu? Melihatnya berlari-lari polos di ladang, bermain air di sungai bagai dewi, itu juga kenangan terindah dalam hidupnya.
Sebenarnya, mereka berdua tumbuh bersama. Hanya saja, setelah dewasa dan tubuh mulai berubah, Aixin mulai mengenakan baju renang saat berenang di sungai—sangat tidak adil.
Kini, setelah dipikir-pikir, rasanya mereka telah melewatkan banyak hal, namun untunglah masih ada banyak waktu di masa depan.
Melihat Aixin yang berenang lincah bagai putri duyung, Huabin berteriak, “Kau mengintip aku sepuluh tahun, hari ini aku akan balas lunas semuanya sekaligus!”
Selesai berkata, ia langsung melepaskan pakaiannya, lalu meloncat ke air bagaikan harimau yang menerkam mangsanya…