Bab 104: Usulan

Grup Obrolan Para Dewa Pengobatan Lu Wenxing 2308kata 2026-03-31 22:27:12

Gong Weijia tampaknya memang sedang menunggu kalimat itu. Begitu mendengarnya, ia langsung mengutarakan usulannya.

"Karena Zhang Yue merasa penangananmu lebih baik, bagaimana jika kita berdua sama-sama mengobatinya? Kita bertaruh siapa yang bisa menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu. Jika kau yang menyembuhkannya lebih dulu, kau boleh mengajukan syarat apa pun. Sebaliknya, jika aku yang berhasil menyembuhkannya, aku juga boleh mengajukan syarat apa pun."

Gong Weijia menatap Yang Lin dengan penuh percaya diri, seolah-olah ia sudah tahu siapa di antara mereka yang akan menang. Zhang Yue tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini, bahwa dirinya sendiri bisa memicu begitu banyak masalah. Ia menatap kedua dokter itu dengan agak canggung.

"Dokter Yang, terima kasih sudah datang menjengukku. Sekarang aku sudah tidak apa-apa, sebaiknya Anda pulang saja dulu. Mengenai apa yang terjadi padaku tadi, mungkin aku hanya sedang kumat saja. Sungguh merepotkan Anda."

Zhang Yue sebenarnya memiliki niat tersendiri. Ia sama sekali tidak ingin melibatkan Yang Lin dalam masalah ini. Sebelum ia mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sebaiknya mereka tidak gegabah dan memicu kecurigaan pihak lain.

Yang Lin juga memahami apa yang dikhawatirkan oleh Zhang Yue. Ia melirik wajah Gong Weijia yang penuh rasa percaya diri.

"Baik, aku menerima usulanmu. Namun, sebelum metode pengobatan yang pasti ditemukan, tidak ada yang boleh menyentuhnya. Siapa yang tahu apakah obat yang kita kembangkan masing-masing akan saling bertolak belakang?"

Suasana hati Yang Lin kini sedikit lebih baik dari sebelumnya. Bersikap terang-terangan jauh lebih baik daripada menusuk dari belakang. Karena orang ini ingin bermain secara terbuka dengannya, maka ia akan melayaninya.

Gong Weijia tentu saja merasa sangat bersemangat, lalu segera menyetujui permintaan tersebut.

"Baik, aku pasti akan mematuhi kesepakatan ini. Kuharap kau juga bisa menepati janjimu. Jika nanti aku menang, aku boleh mengajukan permintaan apa pun dan kau tidak boleh menolaknya."

Perkataannya yang penuh makna itu membuat orang sulit menebak apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Yang Lin kini benar-benar semakin penasaran dengan orang ini, meskipun rasa penasarannya itu hanya sebatas ingin mengetahui apa tujuan sebenarnya.

Gagal menghentikan Yang Lin, Zhang Yue hanya bisa berdiri diam di samping tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Jika tidak ada hal lain, aku pergi dulu. Apakah aku boleh datang menjenguk Zhang Yue kapan saja?" Yang Lin merasa ia harus memperjelas hal ini terlebih dahulu, agar orang ini tidak ingkar janji di kemudian hari.

"Tentu saja, sekarang kita berdua adalah dokternya. Kau boleh datang menjenguknya kapan pun kau mau." Senyum ramah masih menghiasi wajah Gong Weijia.

Yang Lin tersenyum dan mengangguk, lalu bersiap untuk pergi. Baru saat itulah ia menyadari ada seseorang yang sejak tadi terabaikan oleh mereka, yaitu Direktur Tang.

"Direktur Tang!"

sapa Yang Lin saat berjalan melewati Direktur Tang sebelum pergi. Direktur Tang merasa bersalah kepadanya, sehingga ia hanya mengangguk pelan.

Yang Lin tidak terlalu memikirkannya dan langsung berbalik menuruni tangga. Orang-orang lainnya juga berangsur-angsur kembali. Zhang Yue sendiri masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa ia tiba-tiba berada di atap gedung tanpa alasan yang jelas?

"Kalian pasti sudah melihat semua kejadian hari ini, kan? Katakan saja apa pendapat kalian."

Begitu tiba di rumah, Yang Lin bersembunyi di dalam kamar mandi dan mulai menghubungi grup obrolan para tabib legendaris tersebut. Di tengah malam buta seperti ini, ia tidak tahu apakah mereka sudah beristirahat atau belum.

Shennong: "Kami sudah menelitinya sekian lama tanpa menemukan titik terang. Ternyata setelah semua usaha ini, dia hanya dihipnotis oleh seseorang."

Ge Hong: "Tidak disangka ada orang yang sehebat itu di dunia ini."

Li Shizhen: "Setelah berhari-hari, tiba-tiba kami menyadari bahwa semua usaha kami sia-sia. Kasus ini sama sekali tidak berkaitan dengan bidang yang kami teliti, melainkan murni karena hipnosis."

Song Ci: "Aku benar-benar penasaran, orang seperti apa yang mampu melakukan hal sehebat itu."

Seketika itu juga, grup obrolan menjadi heboh. Semua orang mengirim pesan karena ingin tahu siapa sosok hebat tersebut. Yang Lin merasa dirinya benar-benar dicampakkan. Jika mereka berhasil menemukan orang itu, mereka pasti akan langsung mengajaknya mengobrol panjang lebar, tanpa memikirkan apakah orang itu bisa memahami mereka.

Tentu saja, Yang Lin hanya berani mengeluh dalam hati dan sama sekali tidak berani membantah mereka.

Keputusan akhirnya adalah mereka harus meneliti ulang metode apa yang digunakan oleh orang tersebut untuk mengendalikan Zhang Yue.

Selama beberapa hari terakhir, Yang Lin terus bolak-balik antara rumah sakit dan rumah, sampai-sampai ia merasa kepalanya hampir botak.

"Sayang, tolong lihat bagian atas kepalaku sebentar. Beberapa hari ini rambutku rontok terus, apakah garis rambutku sudah sangat mundur?"

Suara Yang Lin terdengar penuh kepasrahan sembari membungkuk agar Zeng Xueyan bisa memeriksanya dengan jelas. Zeng Xueyan meletakkan barang di tangannya, lalu menarik kepala Yang Lin untuk bersandar di pangkuannya. Dengan kedua tangannya, ia memijat lembut rambut suaminya.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sepanjang hari. Rambutmu masih sangat lebat, mana mungkin botak di tengah seperti itu?"

Zeng Xueyan dibuat gemas sekaligus heran. Beberapa hari ini ia memang menyadari suaminya bertingkah agak aneh, mungkin karena terlalu stres.

"Apakah beberapa hari ini tekanan pekerjaanmu terlalu berat?" tanya Zeng Xueyan cemas.

"Tidak juga, mana ada aku stres? Hanya saja melelahkan harus bolak-balik antara rumah sakit dan rumah setiap hari," sahut Yang Lin lemas.

Ia memang benar-benar hanya merasa lelah karena harus bolak-balik. Sama sekali tidak ada beban pikiran baginya, karena beban terbesar sudah ia limpahkan kepada rombongan tabib di grup obrolannya.

Setengah tidak percaya, Zeng Xueyan terus memijat kepala suaminya.

Keesokan harinya, Yang Lin menerima telepon yang memintanya segera datang ke rumah sakit. Jantungnya seketika berdegup kencang, merasa ada firasat buruk yang akan terjadi.

"Kenapa pagi-pagi sekali sudah harus ke rumah sakit?" tanya Zeng Xueyan dengan suara serak sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.

Sebagai pria normal, melihat penampilan istrinya yang begitu menggemaskan di pagi hari membuat Yang Lin agak salah tingkah. Ia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Entahlah ada urusan apa. Mengganggu tidur orang di pagi buta begini, tidak takut kena kualat apa," gumam Yang Lin, berusaha menjaga agar suaranya terdengar biasa saja.

"Kalau begitu cepatlah pergi, siapa tahu ada urusan yang sangat mendesak," ucap Zeng Xueyan sambil menguap.

Melihat istrinya yang masih sangat mengantuk, Yang Lin tidak tega mengganggunya lebih lama lagi. Ia pun keluar dari kamar seorang diri.

Yang Lin memiliki firasat tertentu. Dipanggil sepagi ini, mungkinkah pihak rumah sakit ingin membahas masalah Zhang Yue?

Namun, setibanya di rumah sakit, ia mendapati bahwa dugaannya salah besar. Masalah ini ternyata berkaitan dengan Yang Yiyi.

"Apa katamu?"

Yang Lin tidak mempercayai pendengarannya sendiri.