Bab 71: Membuat Keributan Tanpa Alasan
Kondisi Liu Jie membaik pesat dalam beberapa hari terakhir, pemulihannya sangat baik. Setelah Yang Lin dan Zeng Xueyan berpamitan dengan Direktur Zhang dan rekan-rekan lainnya, mereka pun kembali.
Direktur Zhang sebenarnya masih berat hati melepas Yang Lin, tapi apa boleh buat! Lagipula, Yang Lin bukan bawahannya.
“Kalau memang berat melepasnya, kenapa tidak menawarinya gaji tinggi agar mau pindah ke sini?” kata Dokter Wang yang tahu betul betapa enggannya Direktur Zhang melepas Yang Lin.
“Tidak ada gunanya, kamu sendiri tahu seperti apa orangnya, dia tidak suka hal seperti itu,” jawab Direktur Zhang.
Dokter Wang pun mengangguk setuju.
“Tidak apa-apa, Dokter Yang sudah bilang, kalau nanti ada masalah bisa langsung menghubunginya.”
Mereka semua melihat pasangan itu masuk ke pemeriksaan keamanan, barulah mereka kembali ke rumah sakit dengan berat hati.
Setelah kembali ke Rumah Sakit Pengobatan Gabungan Timur dan Barat, Yang Lin kembali mengobati berbagai penyakit sulit seperti sebelumnya. Kini namanya semakin harum, banyak orang yang dengan senang hati datang untuk berobat padanya.
Mungkin ini efek dari mulut ke mulut yang semakin meluas! Setiap kali Yang Lin praktik, selalu saja ada kerumunan orang mengantre di luar.
“Sekarang Dokter Yang benar-benar makin populer, benar-benar jadi kebanggaan rumah sakit kita,” kata seorang perawat muda dengan wajah penuh semangat, ekspresinya pun terlihat begitu mengagumi.
“Sudah, simpan saja tampang mengidolakannya itu. Ingat, Dokter Yang sudah beristri,” timpal seorang perawat lain yang berteman dekat dengannya, sambil menepuk pipinya sebagai peringatan.
“Ih, kamu ini kenapa sih? Aku kan cuma nge-fans, Dokter Yang sekarang idolaku!” katanya sambil memasang wajah memuja, membuat yang lain tertawa geli.
“Eh, kalian dengar nggak? Katanya Dokter Yang itu tabib legendaris masa kini, bener nggak ya? Tangan aku ini tiap hari hujan atau angin pasti sakit, mungkin dulu hidupku terlalu susah jadi kena rematik,” gumam seorang wanita paruh baya yang ikut antre, menyenggol wanita di depannya dengan sikunya.
Wanita yang disapa menoleh dengan senyum ramah.
“Aku juga cuma dengar-dengar, makanya ke sini karena dengar reputasinya. Lihat saja, yang antre sebanyak ini pasti semua mau berobat sama dia. Entah kapan giliran kita berdua ya,” katanya sambil memandang panjangnya antrean dengan sedikit putus asa.
“Tak apa, asal penyakit lamaku ini bisa sembuh, antre panjang pun aku rela!”
Keduanya cepat akrab, ngobrol seru tentang berbagai kabar yang mereka tahu. Sambil bercakap, mereka bertukar nomor WhatsApp dan berencana jalan-jalan bersama lain waktu.
Yang Lin sendiri tak menyangka pasiennya bakal sebanyak ini. Ia bahkan tak sadar dirinya kini sudah begitu terkenal.
“Masih banyak orang di luar?”
Setelah mengantar satu pasien lagi, Yang Lin menoleh pada perawat muda yang sedang sibuk, sambil memijat bahunya yang pegal.
“Sudah lama sekali tidak menerima pasien sebanyak ini, benar-benar sibuk, sampai lenganku pegal,” gumamnya.
Perawat muda itu mengintip ke luar, melihat antrean panjang, lalu tampak iba pada Dokter Yang.
“Maaf ya, Dokter Yang, sepertinya masih ada seratusan orang lagi di luar,” ucap sang perawat, seolah kabar itu menampar hati Yang Lin. Tapi ia segera menenangkan diri—sebagai dokter, menyembuhkan orang adalah panggilannya. Ia melirik jam, waktu masih cukup.
Ia kembali menunduk mencatat riwayat penyakit pasien.
“Baik, panggilkan pasien berikutnya. Sudah antre lama, aku juga jadi tak enak,” katanya.
Perawat muda itu tahu betul kebaikan hati Dokter Yang, lalu dengan senang hati memanggil pasien berikutnya.
Yang Lin memang masih suka dengan cara pengobatan tradisional: mengamati, mendengar, menanyakan, dan memeriksa nadi. Begitu pasien duduk, ia langsung memperhatikan warna wajah dan kondisi lain dari pasien.
Kali ini yang duduk adalah seorang wanita dengan kulit kusam kekuningan, jelas terlihat kurang istirahat bertahun-tahun dan tubuhnya pun lemah.
Yang Lin mengambil senter kecil, meminta wanita itu membuka mulutnya, lalu memeriksa nadinya. Ia pun mengernyit.
“Apakah Anda sering lembur dan kurang istirahat? Lihat saja, kulit Anda pucat kekuningan dan lingkar mata Anda hitam pekat,” tanya Yang Lin sambil membereskan alat-alatnya.
“Saya memang kerja malam terus, tak ada pilihan, demi menghidupi keluarga,” jawab wanita itu.
“Kalau bisa, cobalah cari pekerjaan lain. Seorang wanita tak seharusnya membiarkan tubuhnya jadi seperti ini. Nanti saya resepkan beberapa ramuan obat, bawa pulang dan rawat tubuh Anda baik-baik. Jika tidak segera dirawat, bisa-bisa tubuh Anda benar-benar tumbang, lalu bagaimana menafkahi keluarga?”
Mendengar itu, wanita tersebut matanya berbinar, berdiri dan mengucapkan terima kasih dengan penuh semangat.
Tak lama, pasien berikutnya masuk, seorang wanita paruh baya dengan gaya rambut keriting kecil, penampilannya mencolok bagai orang kaya baru. Perawat belum sempat memanggil, ia sudah masuk sendiri.
Perawat ingin memintanya keluar dan menunggu sebentar, tapi Yang Lin langsung mencegah. Perawat pun hanya bisa diam melanjutkan pekerjaannya.
“Ibu, ada keluhan apa yang dirasakan?” tanya Yang Lin dengan nada biasa, memperlakukan semua pasien sama tanpa melihat status atau kekayaan mereka.
“Aduh, dokter, tahu tidak saya sudah lama sekali menunggu di luar hanya untuk konsultasi. Dipikir-pikir, saya jadi kesal! Kamu itu cuma dokter kecil, perlu ya sampai pasien seperti saya menunggu? Kamu tahu tidak, satu menit saja saya bisa dapat uang banyak, bisa buat kamu tak mampu beli!”
Yang Lin tak menyangka wanita itu langsung menyerocos seperti itu. Perawat di sampingnya pun terbelalak.
Ia memperhatikan wanita itu: mantel bulu di tengah musim panas, wajahnya sangat pucat entah berapa lapis bedak, jari dan lengannya penuh perhiasan emas dan permata, jelas-jelas ingin pamer kekayaan.
“Mohon maaf, terlalu banyak pasien hari ini, makanya antrian lama. Ke depannya kami akan atur jadwal agar pasien bisa datang bergiliran sesuai antrean, tidak seperti hari ini,” kata Yang Lin, tak ingin berdebat, hanya ingin segera memeriksa lalu mempersilakan wanita itu pergi.
“Sebaiknya kita periksa dulu kondisi kesehatan Anda,” imbuhnya.
Namun wanita itu malah berdiri dengan gerakan mendadak, hampir membuat kursi terjatuh.
“Kamu bilang apa! Mau memeriksa tubuhku? Huh, maksudmu apa? Dasar kurang ajar!”
Dengan jemari besarnya ia menuding muka Yang Lin. Sekalipun biasanya sabar, wajah Yang Lin pun berubah gelap karena marah.