Bab 51 Malam Penuh Ketegangan
Orang-orang yang dikirim Jiya untuk menyelidiki segera mendapatkan kesimpulan: lokasi kecelakaan mobil sama sekali tidak bermasalah, justru masalahnya terjadi di dalam rumah sakit. Saat mereka hendak memeriksa rekaman kamera pengawas rumah sakit, mereka mendapati ada satu periode waktu di mana rekaman tersebut sengaja dimatikan. Setelah menghabiskan waktu lama, akhirnya mereka memperoleh rekaman dari sebuah pusat perbelanjaan di dekat rumah sakit, memperlihatkan seorang pria menggendong seseorang yang penuh luka ke dalam mobil, lalu langsung pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah diselidiki, pria itu ternyata dokter rumah sakit tersebut, bernama Yang Lin!
“Bukankah itu dokter yang datang saat kita berdua pergi mengidentifikasi jenazah hari itu?” Jiya mengenali Yang Lin saat melihat berkasnya! Tentu saja Li Qi juga langsung mengenalinya.
“Hmph, entah hubungan apa yang mereka berdua miliki, pria itu sampai repot-repot membantu dia seperti ini!”
“Zhang Yue, sekarang juga cari tahu di mana pria itu tinggal!”
Segera setelah itu, mereka berhasil menemukan informasi tersebut. Kebetulan kedua orang itu sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, jadi mereka pun mengikuti. Namun, yang membuat mereka bingung adalah dari berkas yang ada, Zeng Xueyan tercatat sebagai istri sang dokter, tapi siapa sebenarnya wanita yang bersamanya itu?
“Sayang, coba kau lihat, siapa sih wanita ini sebenarnya? Rasanya seperti pernah lihat, tapi aku yakin belum pernah bertemu,” tanya Jiya sambil menatap foto yang dikirimkan ke ponselnya, penuh rasa ingin tahu. Li Qi mengambil ponselnya dan sekilas berkata,
“Itu kan Qin Qin?”
Begitu kata-kata itu keluar, keduanya langsung terkejut. Li Qi tak percaya, buru-buru merebut kembali ponselnya untuk memastikan. Jiya pun tiba-tiba sadar, pantas saja tadi merasa familiar.
“Bagaimana mungkin dia? Dari rekaman kamera pengawas itu terlihat jelas, wanita itu meski tak mati pasti setidaknya cacat, kenapa sekarang bisa jadi secantik ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” Jiya sulit mempercayai apa yang dilihatnya, hingga kata-katanya pun mulai gugup. Li Qi juga tak percaya sama sekali. Namun, setelah sekian banyak perbuatan buruk, mereka dengan cepat menenangkan diri.
“Tidak bisa, kalau wanita itu benar-benar dia, berarti setiap saat kita berdua terancam masuk penjara, kita harus segera menyingkirkannya.”
Selama ini Li Qi selalu mengincar harta keluarga Qin, menahan diri bertahun-tahun. Setelah kepala keluarga Qin meninggal dan Qin Qin dijebak, ia pikir harta itu akan jatuh ke tangannya. Tak disangka, ternyata Qin Qin masih hidup!
Jiya pun paham betul betapa seriusnya situasi ini.
“Kalau begitu sekalian saja, kita...”
Jiya mengisyaratkan gerakan di lehernya, keduanya saling mengerti.
Malam itu, Yang Lin tiba-tiba mendapat kabar harus berjaga malam. Ia menelepon dua orang di rumah, meminta mereka berhati-hati karena ia tak bisa pulang, dan kalau terjadi apa-apa segera hubungi dirinya.
Zeng Xueyan mengiyakan. Malam itu, Yang Lin tak banyak pasien. Duduk di kantor membuatnya bosan, jadi ia keluar berjalan-jalan dan kebetulan melewati meja perawat.
“Kalian pikir rumah sakit kita benar-benar angker ya? Kenapa rekaman kamera pengawas bisa hilang begitu saja?”
“Bukan hilang, tapi ada yang sengaja mematikan kamera pengawasnya, entah siapa yang tega.”
“Andai saja tidak ada yang datang meminta rekaman hari ini, pasti tak ada yang tahu.”
“Sudah malam jangan bicara macam-macam, bikin aku merinding saja.”
Mendengar percakapan para perawat itu, Yang Lin langsung sadar ada yang tak beres.
“Apa maksud kalian rekaman kamera pengawas dimatikan?”
Para perawat yang memang sudah ketakutan, terkejut mendengar suara mendadak itu. Setelah sadar bahwa yang datang adalah Yang Lin, mereka baru tenang.
“Dokter Yang, kenapa jalan tanpa suara, bikin kami hampir mati takut.”
Yang Lin pun meminta maaf karena menyadari dirinya memang mengejutkan mereka.
“Dokter Yang, Anda belum tahu ya? Sore tadi, keluarga korban kecelakaan mobil yang terbakar parah itu minta melihat rekaman kamera pengawas, lalu baru ketahuan ada satu periode rekaman yang dimatikan.”
Seketika Yang Lin sadar situasinya sangat gawat.
“Kapan kejadiannya?”
“Tadi sore, Dok.”
Tak sempat mengganti jas dokter, Yang Lin buru-buru berlari keluar. Para perawat hanya bisa saling pandang, tak tahu apa yang terjadi.
Yang Lin mengemudikan mobil secepat kilat menuju rumah. Saat itu sudah pukul satu dini hari. Zeng Xueyan mendengar suara pintu rumah dibuka, ia tak berpikir macam-macam, mengira suaminya sudah pulang.
Namun, setelah beberapa saat tak terdengar suara apa-apa, ia merasa aneh, jangan-jangan ada pencuri. Ia mulai takut, diam-diam bangkit dan dengan bantuan cahaya lampu luar yang remang-remang mencoba melihat apa yang terjadi.
Lalu ia teringat, di rumah itu bukan hanya dirinya, jangan-jangan Qin Qin yang bangun.
“Qin Qin, kau di luar ya? Tengah malam begini cari apa?”
Zeng Xueyan bertanya pelan, tapi tak ada jawaban. Ia sadar ada yang tak beres! Dengan sigap ia mengambil sebatang kayu dan berjalan pelan ke luar.
Di ruang tamu tak ada siapa-siapa. Ia belum sempat melihat sekeliling, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar Qin Qin!
“Qin Qin, kau kenapa? Tidak apa-apa kan?” Zeng Xueyan berseru sambil berlari masuk, namun pemandangan yang ia lihat takkan pernah bisa ia lupakan seumur hidup. Seorang pria berbaju serba hitam, mengacungkan pisau berkilat hendak menusuk Qin Qin.
Qin Qin nampaknya sudah sadar, dan tengah berusaha melawan si pria itu dengan tangan kosong. Darah Zeng Xueyan seketika membeku, tak tahu harus berbuat apa.
“Xueyan, cepat lari! Orang ini diutus dua orang itu untuk membunuhku!”
Ucapan Qin Qin menyadarkannya. Meski ketakutan setengah mati, Zeng Xueyan nekat mengayunkan kayu di tangannya ke kepala si pria.
Pria itu mungkin kesakitan, langsung meninggalkan Qin Qin yang masih berjuang di atas ranjang, dan berbalik hendak menusuk Zeng Xueyan. Ia buru-buru berlari ke luar, tapi baru beberapa langkah sudah tertangkap. Pria itu mencekik leher Zeng Xueyan dengan tangan besarnya.
“Ugh...”
Zeng Xueyan merasa sulit bernapas, tak bisa bersuara. Qin Qin, yang terhuyung dari kamarnya, tanpa pikir panjang mengambil kayu yang tadi dipakai Zeng Xueyan untuk menolongnya.
Namun, sebelum ia sempat mendekat, pria itu langsung berbalik dan menendang Qin Qin keras-keras hingga terlempar ke sudut tembok.
Darah langsung mengalir dari sudut bibirnya, sementara Zeng Xueyan terus berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia. Dengan suara lemah, Qin Qin bertanya pada pria itu.
“Kau diutus oleh Li Qi dan Jiya, benar kan?”