Bab 10 Masalah yang Tak Terduga
“Hebat... sungguh hebat.” Zeng Xueyan menelan ludah, memiringkan kepala dan bertanya, “Lalu sekarang kau berada di tingkat apa?”
“Kondensasi Nadi.” Setelah Yan Lin menjawab, ia memegang kedua pundaknya, menatapnya tanpa berkedip.
“Ada beberapa hal yang harus aku jelaskan lebih dulu. Jalan menuju kekuatan itu tidak mudah, membangun dasar sangatlah melelahkan, tapi aku harap kau bisa bertahan. Jika kau mampu bertahan, suatu saat nanti kau pasti akan melampaui diriku, mengerti?”
“Tenanglah, aku pasti akan bertahan.” Zeng Xueyan mengepalkan tinjunya dengan semangat, menunjukkan tekadnya.
“Yang penting kau bisa bertahan.” Yan Lin mengangguk sambil tersenyum. “Ayo, kita makan.”
“Baik, ayo!” ujar Zeng Xueyan dengan gembira. Ia menggandeng Yan Lin dan berjalan ke depan penuh semangat.
Satu jam kemudian, melihat tumpukan cangkang kepiting dan udang yang menggunung di depan Yan Lin, Zeng Xueyan tertegun. Untunglah mereka makan di restoran prasmanan. Kalau makan di tempat lain, sekali makan saja pasti sudah bangkrut.
“Slurp.”
Setelah suapan terakhir kerang masuk ke mulut, Yan Lin akhirnya bersendawa puas, santai mengambil segelas jus.
Namun sebelum sempat meminumnya, suara nyaring terdengar dari belakang, “Wah, dari mana datangnya orang kampung ini? Tidak pernah makan di prasmanan mewah atau memang sudah berhari-hari tidak makan? Cangkang kepiting dan udang sampai menumpuk di meja, tidak malu apa?”
Mengikuti arah suara, tampak seorang gadis berdandan menor dengan bedak tebal di wajahnya mendekat, ada nada mengejek pada rautnya.
“Zeng Xueyan, setelah menolak Hu Yan Jinlei, kau malah cari suami seperti ini, tidak takut kehilangan harga diri? Lihat saja restoran ini, meja mana yang cangkang kepiting dan udangnya bisa setinggi gunung? Apa selama ratusan tahun tidak pernah makan makanan laut?”
“Kita tidak punya masalah, kan?” tanya Yan Lin sambil minum jus, lalu meletakkan gelas itu dan memandangnya dengan jijik. Hal yang paling ia benci adalah orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain.
Tanpa menunggu gadis itu bicara, ia berdiri dan memandang sekeliling restoran. “Anjing siapa yang lepas dari pemiliknya? Tidak tahu aturan memelihara anjing, harusnya dikalungi rantai.”
“Pffft.” Seorang anak kecil di meja sebelah langsung tertawa.
“Kau bilang aku anjing?” Gadis itu menunjuk Yan Lin, dadanya naik turun karena emosi.
“Tidak, tidak, aku tidak memanggilmu anjing, itu malah menghina anjing.” Yan Lin menatapnya dingin. “Apa masalahnya kalau aku menumpuk cangkang kepiting dan udang? Kalau aku orang kampung, kenapa? Kalau aku tidak pernah makan makanan laut, kenapa? Apa aku makan punyamu atau minum punyamu? Saran untukmu, jangan jadikan kebodohan sebagai kebanggaan. Tidak semua orang di dunia ini adalah ayahmu, aku tidak berkewajiban memanjakanmu.”
Karena ini restoran prasmanan mewah, para pengunjungnya juga orang-orang elite, setidaknya punya sopan santun yang baik. Mendengar Yan Lin berkata demikian, mereka terkejut, namun dari kata-katanya jelas gadis itu sendiri yang mempermalukan dirinya.
Bahkan Zeng Xueyan yang tadinya mau menengahi sampai terkesima. Dalam ingatannya, Yan Lin selalu tampil elegan, bagaikan pemuda yang turun dari kayangan. Tak pernah ia bayangkan, Yan Lin bisa setajam itu saat memarahi orang.
Merasa semua mata tertuju padanya, gadis itu hampir menangis.
Namun Yan Lin tidak berhenti di situ. “Lupa kusebutkan, aku seorang dokter. Dari bau tubuhmu saja, aku tahu tadi malam kau tidur dengan setidaknya tiga orang. Orang seperti kendaraan umum, dari mana dapat keberanian merendahkan orang lain? Oh ya, satu hal lagi, kau kena penyakit kelamin.”
Pengunjung di meja sekitar langsung berdiri dan menjauh seolah melihat ancaman besar, takut penyakit itu menular kepada mereka.
“Kau ngawur!” Gadis itu menunjuk Yan Lin, tubuhnya bergetar karena marah. “Mana mungkin aku kena penyakit macam itu?”
“Apa yang tidak mungkin?” Yan Lin tersenyum. “Jawab, pagi tadi waktu bangun, kau batuk tiga kali kan? Tidak lebih, tidak kurang, tiga kali!”
“Tidak,” sanggah gadis itu, tapi ekspresi wajahnya membuktikan sebaliknya.
“Baiklah, anggap saja tidak.” Yan Lin menyipitkan mata menatapnya. “Lalu, saat ini, kau pasti merasa gatal di bagian itu, ingin sekali menggaruk, bukan?”
“Tidak,” gadis itu menggeleng dengan tubuh gemetar, menatap Yan Lin seolah melihat iblis. Ia tak habis pikir, gejala yang baru saja muncul itu bisa diketahui Yan Lin.
“Baik, anggap saja tidak.” Yan Lin mengangguk. “Tapi sebagai dokter, aku harus mengingatkan, kau tertular penyakit sifilis yang langka. Tidak sampai seminggu, tubuhmu akan membusuk, dan kau akan mengalami rambut rontok, gatal, demam, dan komplikasi lain. Nanti kau akan tahu sendiri kebenaran kata-kataku.”
Begitu Yan Lin selesai bicara, tiga pria mendekat, dari tatapan marah mereka jelas mereka satu kelompok dengan gadis itu.
“Berani-beraninya kau menghina Xiao Li seperti itu, sudah minta izin padaku?” Pria berambut kuning yang berdiri di tengah langsung mengayunkan tinjunya ke arah Yan Lin.
Namun, tangannya langsung seperti dijepit tang keras, tak bisa bergerak.
Yan Lin menggenggam tangannya, lalu menatap ketiga pria itu. “Wanita ini datang mencari masalah, kalian yang menyuruhnya, kan?”
Pria yang ditahan Yan Lin belum sempat bicara, Zeng Xueyan langsung menunjuknya. “Benar, dia yang menyuruh.”
Mendengar itu, Yan Lin langsung menampar wajah Hu Yan Jinlei dan meludah ke arahnya dengan muak. “Kalau mau cari gara-gara, hadapilah sendiri, menyuruh sampah itu bukan kehebatan. Tentu saja, kau juga sampah!”
“Kau berani memukul Lei-ge?”
“Kau berani bicara begitu ke Lei-ge, kau pasti mati!”
Kedua pria itu langsung mengeluarkan pisau, menatap Yan Lin dengan garang.
Melihat itu, Yan Lin tersenyum, menatap mereka dengan kagum. “Lumayan, dua anjing yang setia.”
Sambil berkata begitu, kedua tangannya bergerak, menghantam tubuh mereka dengan cepat. Kedua pria itu mundur beberapa langkah, lalu terjatuh ke lantai.
Yang membuat orang-orang di sekitar heran, kedua pria itu tidak bangun lagi, tetap dalam posisi hendak menikam, hanya wajah pucat dan sorot mata ketakutan yang menandakan bahwa mereka masih hidup.
Zeng Xueyan yang menyaksikan dari samping berubah dari cemas menjadi terperangah. Sebenarnya berapa banyak hal yang masih disembunyikan Yan Lin darinya?
Setelah mengurus kedua pria itu, Yan Lin menatap Hu Yan Jinlei dan gadis di sebelahnya. “Aku tahu, kalian tidak berniat mempermalukan aku, tapi Zeng Xueyan. Sayangnya, sekarang Zeng Xueyan adalah milikku. Kalau kalian masih berani mengganggunya lagi, tanggung sendiri akibatnya!”
Selesai berkata, ia melirik mereka sekilas, lalu menggandeng Zeng Xueyan keluar restoran.
Matahari membara, panasnya membakar bumi, hingga aspal pun terasa mendidih, gelombang panas menerpa, membuat orang sulit bernapas.