Bab 86 Pertemuan Alumni
Beberapa hari ini, Yang Lin terus mengamati kondisi para pasien dengan saksama. Setelah menggunakan obat yang sesuai, penyakit mereka memang perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Dua orang pasien itu memandangnya dengan rasa syukur yang dalam, seolah-olah melihat orang tua kedua yang telah memberi mereka kehidupan baru.
Setiap kali Yang Lin masuk ke ruang perawatan, mereka sangat sopan hingga membuatnya merasa sungkan, seakan dirinya telah dijadikan sosok yang luar biasa.
“Dokter Yang, Anda benar-benar hebat. Sejak kejadian tempo hari, saya perhatikan banyak pasien di rumah sakit ini sangat kagum dan menyukai Anda,” ujar seorang perawat dengan tulus setelah melihat semua itu.
Yang Lin hanya tersenyum.
“Aku telah membantu mereka lepas dari penyakit, tentu saja mereka akan menyukai aku,” jawab Yang Lin dengan penuh percaya diri.
“Haha, Dokter Yang, saya lihat Anda sama sekali tidak rendah hati. Tidakkah Anda tahu bahwa kesombongan bisa membuat seseorang mundur? Cobalah untuk lebih rendah hati, itu akan membuat Anda semakin hebat. Baik untuk rumah sakit maupun untuk Anda sendiri,” kata perawat muda itu dengan nada bangga.
“Baiklah, aku akan terus berusaha,” balas Yang Lin.
Setelah itu, Yang Lin kembali mengunjungi beberapa ruang perawatan lainnya, memastikan semua pasien dalam keadaan baik sebelum akhirnya kembali ke kantornya. Tanpa diduga, ia menerima telepon dari seorang teman kuliah.
Orang di seberang telepon itu adalah Li Fan, teman kuliah yang kini bekerja sebagai peneliti obat-obatan. Sebenarnya, Yang Lin sempat ragu untuk datang, mengingat keluarganya baru saja mengalami musibah besar—ia yakin kabar itu pasti sudah sampai ke telinga rekan-rekannya, dan siapa tahu mereka akan menyindir atau mempermalukannya. Namun setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk menerima undangan itu.
“Serius Yang Lin benar-benar mau datang? Aku agak tak percaya. Keluarganya sudah seperti itu, kok dia masih punya nyali untuk nongkrong bareng kita?” Suara di telepon terdengar sinis.
“Siapa yang tahu? Biar saja, toh dia datang atau tidak, tak ada pengaruhnya,” sahut yang lain.
“Benar, paling cuma nambah seorang pengemis.”
“Hahaha… ucapanmu itu benar sekali. Dulu waktu kuliah keluarganya begitu terpandang, sekarang sudah tak sebanding lagi dengan kita.”
“Aku dengar sekarang dia cuma jadi dokter biasa, numpang hidup pula. Dulu dikira bakal jadi apa, ternyata begini saja.”
Baru saja tiba di depan ruang makan, Yang Lin sudah mendengar ejekan teman-teman lamanya itu. Ia menunggu sampai mereka selesai bicara, lalu mengetuk pintu dengan sopan.
“Mungkin makanannya akan segera dihidangkan.”
“Cepat sekali, padahal semua belum datang.”
Saat dua orang itu berbalik, mereka terkejut melihat Yang Lin yang berdiri di hadapan mereka dengan setelan jas rapi, tetap dengan pesona seperti dulu.
Orang-orang yang tadi membicarakannya langsung berubah ramah dan tersenyum lebar menyambutnya.
“Wah, teman lama kita tetap saja tampan seperti dulu! Kelihatannya hidupmu baik-baik saja!”
Salah seorang dari mereka bahkan menepuk bahunya akrab, seolah mereka masih sahabat dekat. Tapi Yang Lin tahu, perubahan sikap mereka lebih cepat dari membalik telapak tangan. Kalau saja tadi ia tak mendengar ucapan mereka, mungkin ia akan percaya mereka benar-benar menganggapnya kawan.
“Apa sih yang kalian bicarakan? Aku ini cuma dokter biasa, mana bisa dibandingkan dengan kalian yang kerja di perusahaan kereta cepat. Gaji kalian pasti puluhan juta per bulan, kan?”
Yang Lin menjawab dengan ramah, membuat semua orang jadi canggung dan saling melirik. Apakah Yang Lin tadi sempat mendengar obrolan mereka?
Yang Lin tak mau mempermasalahkan itu. Ia ingat betul, dulu saat kuliah ia sudah berbuat banyak untuk mereka, tapi kini semuanya berubah. Memang, manusia selalu bersikap realistis.
“Kita sudah lama tidak berkumpul. Malam ini kita harus puas-puasin minum dan bersenang-senang!”
Ketika semua sudah hadir, suasana jadi ramai. Yang Lin pun sekadar ikut mengangkat gelas, bersulang ala kadarnya.
Siapa sangka, baru sebentar minum, salah seorang dari mereka tiba-tiba pingsan di tempat. Semua langsung panik, tak tahu harus berbuat apa. Ironisnya, mereka semua adalah lulusan kedokteran.
Melihat kepanikan itu, Yang Lin hanya bisa berjalan perlahan mendekat untuk memeriksa kondisi orang tersebut. Begitu melihat, ia langsung tahu: keracunan alkohol.
“Sepertinya kalian benar-benar harus berhenti minum. Dia keracunan alkohol, cepat hubungi ambulans! Kalau terlambat, bisa fatal!”
Semua tertegun. Padahal orang itu dulu terkenal kuat minum, tak pernah mabuk. Tapi malam ini, baru segelas langsung keracunan.
Saat ambulans tiba, semua membantu dokter membawa temannya ke mobil. Yang Lin tak ingin berlama-lama bersama mereka, jadi ia mencari alasan untuk pergi lebih dulu.
Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kota masih ramai. Hati Yang Lin yang murung karena ucapan teman-temannya membuatnya ingin mencari tempat tenang.
Kebetulan di dekat situ ada taman baru yang belum selesai dibangun. Ia pikir pasti sepi, jadi ia memutuskan berjalan-jalan sebentar. Saat melangkah di jalan setapak, ia merasa ada yang aneh—seperti ada suara minta tolong di kejauhan.
Ia pun mengikuti suara lirih itu, dan di bawah cahaya lampu yang temaram, ia melihat seseorang tergeletak di tanah.
Setelah memastikan situasi aman, ia segera berlari mendekat.
“Tolong aku! Aku belum ingin mati,” suara orang itu bergetar, nyaring, seperti kekuatan terakhir sebelum menyerah.
Yang Lin segera berlutut memeriksa keadaannya. Nafasnya sangat lemah, tubuhnya penuh luka parah.
Tak jelas seberapa berat penderitaan yang sudah dialami, Yang Lin buru-buru mengeluarkan ponsel dan menelepon ambulans. Tak lama kemudian, ia ikut naik ke mobil bersama dokter.
Kebetulan, salah satu dokter di ambulans mengenal Yang Lin. Begitu memeriksa kondisi korban, Yang Lin hampir saja terkejut setengah mati. Sebagai dokter, ia sudah terbiasa melihat berbagai kasus, tapi pemandangan kali ini benar-benar di luar dugaan.
Ternyata korban itu telah dikuliti hidup-hidup. Tak jelas bagaimana ia masih bertahan sampai sekarang.
“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang tega berbuat kejam seperti ini pada seorang gadis?” Para perawat muda yang ikut dalam ambulans sudah mulai gemetar ketakutan. Di rumah sakit, mereka memang sering melihat pasien dengan kondisi parah, tapi malam ini benar-benar di luar nalar.
Sebagai pria dewasa saja Yang Lin merasa tak tega, apalagi mereka.
“Nadi masih normal, otak tampaknya masih sadar. Kemungkinan saat dikuliti ia dibius sebagian. Pelakunya sangat profesional, tidak tahu siapa yang setega itu.”