Bab Empat: Amukan
Larut malam.
Di sebuah kamar sempit di basement yang hening, suara detik jam weker di atas meja terdengar jelas, bersamaan dengan dengungan samar dari kipas ventilasi.
Tiba-tiba, dari bawah ranjang terdengar bunyi gedebuk yang teredam.
Chen Dao, yang kembali terbangun dari mimpi buruk, sekali lagi membenturkan dahinya. Sambil memegangi kepala, ia merangkak keluar dari bawah ranjang.
Sejak pindah ke basement ini, setiap kali ia terlelap, selalu saja mimpi buruk datang menghantui.
Setiap kali tidur, ia pasti terbangun karena mimpi buruk, dan dahinya selalu saja membentur papan ranjang di atasnya.
Karena itulah, ia sengaja memasang bantalan di bawah papan ranjang, supaya ketika ia terpental bangun, benturannya tidak terlalu keras.
Sekarang, ia bahkan seperti sudah membentuk reflek, sehingga setiap kali terbangun dari mimpi buruk, ia secara otomatis menahan diri, sehingga tidak pernah lagi benjol besar di dahinya.
Lalu kenapa tidak tidur di luar kolong ranjang?
Untuk sementara waktu, ia belum menemukan tempat lain yang bisa membuatnya lebih rileks dan mudah tertidur selain di bawah ranjang.
Lingkungan yang sempit, pengap, dingin, dan gelap ini memang sama sekali tidak nyaman, tapi justru di sanalah ia merasa aman.
Setidaknya sekarang ia sudah meletakkan kasur dan selimut di bawah ranjang, tidak lagi tidur langsung di lantai yang dingin.
Setelah keluar dari bawah ranjang, Chen Dao mengambil ponsel dan melihat waktu.
Sudah lewat jam satu pagi lagi.
Ia menghela napas dengan pasrah, berganti pakaian olahraga, dan keluar untuk berlari.
Sudah sebulan berlalu sejak ia kembali dari dunia lain. Sebulan penuh ia fokus berlatih, meski latihan itu tidak memberinya kekuatan luar biasa seperti di dunia lain, namun pengalaman dan naluri bertarung selama tiga puluh tahun yang terpatri dalam kesadarannya, membuatnya bisa menemukan cara latihan dan teknik yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Sekarang, reaksi, kekuatan, dan daya tahannya sudah meningkat sedikit. Sebulan berlatih, hasilnya sangat efisien.
Namun, ada kemampuan tertentu yang meningkat bukan hanya karena latihan singkat, melainkan seperti tubuhnya secara otomatis menyesuaikan diri mengikuti kesadaran yang telah kembali dari “tiga puluh tahun di dunia lain”, agar fisiknya lebih cocok dengan jiwanya.
Pendengarannya, penglihatan dinamis, dan daya ingatnya meningkat. Mungkin karena kesadarannya pernah merasakan “kemampuan super” yang sesungguhnya, jadi ia tahu bagaimana mengoptimalkan tubuhnya yang “minim spesifikasi” ini hingga batas maksimal.
Saat berlari malam, Chen Dao memandang para pejalan kaki yang kadang melintas. Entah mengapa, ia malah berharap ada penjahat yang menghadangnya, mencari gara-gara, atau bahkan memukulinya.
Dengan begitu, ia akan punya alasan yang jelas dan sah untuk melawan balik.
Soal menang atau kalah, atau luka yang akan ia terima, ia tak peduli.
Pikiran yang agak liar ini jelas bertentangan dengan rencananya sekarang: “menikmati hidup damai dengan tenang dan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang aman ini”.
Tiba-tiba, Chen Dao berhenti berlari, lalu tanpa suara menghajar pohon pinggir jalan bertubi-tubi. Tak lama, kulit pohon itu tak tergores sedikit pun, tapi buku-buku jarinya sudah berlumuran darah.
Tiga pria mabuk yang kebetulan lewat, awalnya saling berangkulan dan tertawa keras. Tapi begitu melihat pemandangan itu, mereka langsung terdiam, lalu berhenti menonton di pinggir jalan.
“Gila, orang ini sudah sinting.”
“Mungkin habis putus cinta?”
“Atau cuma orang bodoh…”
Ucapan mereka baru setengah, Chen Dao sudah berhenti memukul pohon, berbalik menatap mereka.
Ia tidak memasang ekspresi garang, juga tidak berkata kasar, hanya menatap mereka dengan tenang dan datar.
Tiga pria itu seperti mendadak ditekan tombol bisu, terdiam sejenak, lalu salah satu dari mereka buru-buru berkata, “Maaf, ya.”
Dua lainnya langsung mengangguk-angguk meminta maaf, lalu kompak menggeser langkah dan pergi dengan cepat.
Seolah dalam sekejap, mabuk mereka langsung hilang.
Ketika bayangan ketiganya makin menjauh, beberapa kali menoleh ke belakang, lalu makin cepat melangkah hingga akhirnya menghilang, di mata Chen Dao justru tampak sebersit kekecewaan.
Setelah pulang ke rumah, mandi dan berganti baju, ia duduk di depan meja, menatap laptop yang layarnya masih gelap. Chen Dao tahu, ia harus melakukan sesuatu.
Jika ia hanya mengikuti arus, ia bukan saja tidak akan pernah menemukan dirinya yang dulu, menemukan ritme hidup normal, tapi juga bisa saja menghancurkan seluruh hidupnya karena jiwanya yang sudah terdistorsi oleh “tiga puluh tahun di dunia lain”.
Ini bukan sekadar kekhawatiran kosong atau mencari-cari masalah. Berbagai naluri dan kebiasaan yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan dengan akal sehat, emosi liar atau agresif yang kadang muncul, semuanya menandakan bahwa ia tidak cocok lagi dengan dunia ini.
Tidak bisa begini. Ia sudah berjuang keras untuk bisa kembali, ia harus mencari cara keluar dari masalah ini.
Ia menyalakan komputer, membuka situs kampus, lalu masuk ke halaman pusat konseling dan layanan psikologis, mengisi formulir pendaftaran.
Jika sekarang ia masih di dunia lain, ia takkan pernah merasa dirinya punya “masalah psikologis”.
Tapi kini ia sudah kembali. Di dunia yang damai dan aman ini, kondisi mentalnya memang bisa disebut “bermasalah”.
Candaan dirinya sendiri tentang “PTSD dunia lain”, kini ternyata benar-benar terjadi.
Keesokan sore, Chen Dao yang sudah izin tidak masuk kuliah datang ke gedung pusat konseling. Ia disambut seorang kakak senior yang cantik dan lembut, lalu diminta mengisi beberapa formulir dan angket di ruang tunggu.
Walaupun ia berniat mencari bantuan psikologis, ia tetap kesulitan merumuskan dengan tepat masalah yang dialaminya. Semalaman ia memikirkan cara menjelaskan keadaannya.
Jika ia tidak bisa mengungkapkan kesulitan psikologis yang dialami, maka meminta bantuan pun menjadi sia-sia.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menjelaskan pengalamannya di dunia lain sebagai “mimpi yang sangat panjang”, berharap dokter bisa memahami kondisinya.
Kalau cara itu tidak berhasil, ia akan menyesuaikan penjelasan tergantung situasi konsultasi.
Di ruang tunggu, ia tidak sendirian. Ada juga seorang pembimbing kampus dan seorang mahasiswa senior.
Sambil mengisi formulir, Chen Dao mendengarkan percakapan pelan keduanya.
Biasanya, dengan jarak mereka, obrolan pelan itu tidak akan terdengar jelas olehnya. Tapi sejak kembali dari dunia lain, dan setelah sebulan berlatih dan menyesuaikan diri, ia jadi lebih peka terhadap suara.
Seperti meng-upgrade perangkat lunak dekoder, walau bentuk telinganya tak berubah, otaknya kini merespon informasi suara dengan cara yang lebih cepat dan tajam.
Isi percakapan mereka menarik perhatian Chen Dao.
Hari itu, mereka datang untuk menemani seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang menjalani konseling. Mahasiswi itu kini sedang di ruang konseling.
Dari obrolan pelan mereka, Chen Dao mengetahui identitas gadis itu dan alasan kedatangannya.
Musim panas lalu, gadis itu bersama tiga teman sekamarnya pergi berlibur ke daerah barat laut. Namun di perjalanan, terjadi kecelakaan lalu lintas besar. Hanya gadis itu yang selamat, sementara tiga temannya meninggal dunia.
Meski gadis itu hanya mengalami luka ringan dan segera pulih, namun menyaksikan langsung kematian tiga sahabatnya meninggalkan luka mendalam di hatinya yang tak kunjung sembuh.
Gadis itu merasa, ia bisa selamat karena terbiasa memasang sabuk pengaman, bahkan saat naik bus sekalipun.
Namun ia tidak mengingatkan tiga temannya untuk memasang sabuk pengaman. Karena itu, ia selalu merasa seandainya saja ia mengingatkan, mungkin ia bisa menyelamatkan mereka.
Selesai mengisi pertanyaan terakhir di angket, Chen Dao tiba-tiba melipat formulir itu, memasukkannya ke saku, dan berdiri. Ia berpamitan pada kakak senior yang mengantarnya ke ruang tunggu dan memberinya angket, berkata ada urusan penting mendadak, sehingga harus pergi terlebih dahulu.