Bab Sepuluh: Semuanya Baik-Baik Saja, Bukan?
Dua orang itu pun asyik mengobrol, tanpa terasa giliran mereka untuk makan pun tiba. Baru setelah dibawa pelayan ke meja, memesan makanan dan menunggu kuah panas disajikan, Liang Yun menyadari perutnya sudah keroncongan, sampai-sampai rasanya matanya pun ikut hijau karena lapar.
Namun ia tetap lebih dulu berkata pada Chen Dao, “Maaf ya, aku benar-benar lupa di sini sering harus antre. Aku lupa buat pesan tempat dulu.”
“Tak apa, kalau urusan numpang makan-minum, daya tahanku tinggi. Lapar sejam lagi pun aku tak masalah,” sahut Chen Dao santai.
Liang Yun sampai tak tahu harus tertawa atau menangis. Sebelum mengenal Chen Dao, ia mengira orang ini pasti tipe yang serius dan kaku. Namun kini setelah akrab, ia baru sadar, meski gaya bicara dan ekspresinya tampak sangat serius, jiwa di dalamnya ternyata penuh humor, bahkan jadi sosok pelawak bermuka datar yang andal.
Tak lama, kuah panas dan bahan makanan diantarkan. Chen Dao pun tanpa sungkan langsung menyantap dengan lahap.
Harus diakui, restoran hotpot pilihan Liang Yun memang istimewa. Semua bahan segar, ada beberapa menu khas, dan rasa kuahnya sungguh luar biasa.
Namun, bagi Chen Dao, makan hotpot kali ini punya makna tambahan—ini adalah kali pertamanya “selama tiga puluh tahun lebih” menikmati hidangan itu.
Saat di dunia lain, “Xiao Qi” pernah bercerita tentang kelezatan hotpot di sini, bahkan pernah berjanji, jika mereka bisa kembali ke dunia asal, ia akan mengajak Chen Dao makan sampai puas.
Waktu itu, baik yang berjanji maupun yang mendengar, tak ada yang betul-betul percaya. Mereka hampir putus harapan bisa kembali ke dunia asal.
Tak disangka, janji “Xiao Qi” akhirnya terwujud dengan cara lain.
Melihat Chen Dao begitu serius menyantap makanan, ekspresi menikmati dan larut dalam hidangan itu, Liang Yun yang juga sudah sangat lapar pun jadi semangat dan makan lebih banyak dari biasanya.
Yang mengejutkan, ternyata pola makan dan cara Chen Dao merebus makanan sangat cocok dengan ritme Liang Yun. Mulai dari bahan apa yang lebih dulu dimasukkan, berapa lama merebus tiap jenis bahan, kapan minta tambah kuah—semuanya kompak, tanpa perlu diatur atau dijelaskan.
Sampai-sampai Liang Yun sempat merasa aneh, seolah orang yang duduk di seberang itu adalah dirinya sendiri.
Tentu saja ia tidak tahu, di dunia lain, setiap kali bicara tentang hotpot, ia selalu menjelaskan secara rinci seluruh proses makannya pada Chen Dao, seolah benar-benar makan bersama di depannya.
Awalnya, di perjalanan ke sini, Liang Yun mengira mereka akan makan sambil banyak mengobrol, dan makanannya bakal lama.
Tak disangka, saat antre memang obrolan mereka ramai, tapi begitu mulai makan, dua-duanya justru sangat fokus pada makanan, total bicara tak sampai lima kalimat, itupun semuanya soal makanan.
Alhasil, makan malam itu selesai jauh lebih cepat dari dugaan. Liang Yun tak tahan, menutup mulut dan bersendawa, lalu meneguk teh dingin. Ia menatap Chen Dao yang juga sudah kenyang, sembari berkomentar,
“Kamu benar-benar tukang makan sejati.”
Meski terdengar seperti bercanda, nada suaranya justru penuh pujian.
“Tapi kayaknya malam ini kita agak lewat dari batas anggaran yang kita sepakati. Kita bayar masing-masing saja ya, lain kali kamu yang traktir,” kata Chen Dao sambil mengambil struk. Meski Liang Yun bilang harga di sini terjangkau, nyatanya mereka tambah banyak daging dalam porsi besar, Chen Dao menebak pasti biayanya lumayan.
“Hehe,” Liang Yun justru dengan bangga menunjukkan ponselnya, “Masih di dalam batas anggaran kok, aku sudah bayar lunas!”
Chen Dao melihat, ternyata total makan malam mereka hanya 376, belum melewati batas 200 per orang seperti yang disepakati. Ditambah lagi, akun Liang Yun punya kupon diskon isi ulang dan sisa voucher dari pembelian sebelumnya, total diskon 120, sehingga yang dibayar hanya 256.
Ia tak tahan mengacungkan jempol, “Keren.”
Keluar dari restoran hotpot, mencium aroma kuah panas yang sedap, mendengar riuh percakapan para pelanggan, dan menatap punggung tinggi semampai di depannya—kuncir kuda yang bergoyang pelan mengikuti langkah tubuh—hati Chen Dao tiba-tiba diliputi rasa getir yang tak jelas.
Setelah kenyang, keduanya memutuskan berjalan-jalan untuk membantu pencernaan.
Tanpa sadar, mereka pun sampai di Taman Kemuliaan, tempat dulu Chen Dao dengan tangan kosong “menantang” senjata tajam demi menyelamatkan Ye Xiaojie.
“Entah kenapa, aku punya perasaan aneh,” ujar Liang Yun tiba-tiba, “Padahal hari ini baru pertama kali aku bicara denganmu, tapi rasanya kita sudah saling kenal begitu lama.”
Chen Dao diam-diam menghela napas. Memang, kita sudah saling mengenal sangat lama—dua puluh tahun lebih bersama, menghadapi hidup dan mati.
Tentu saja, ia tak mungkin mengatakannya. Ia hanya tertawa, “Biar aku saja yang bilang, aku kasih dua ratus perak, kamu tarik kata-katamu itu.”
“Aku serius, rasanya kamu sangat mengerti aku. Banyak pikiran, bahkan rahasia yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun, bahkan yang aku sendiri belum pernah susun dengan jelas, kamu bisa tahu… Seperti cacing di perutku saja,” gumam Liang Yun.
Chen Dao tiba-tiba berhenti melangkah, menunjuk sebuah pohon pendek di dekat lampu taman yang temaram, “Lihat itu.”
“Pohon itu? Kenapa?” tanya Liang Yun heran.
“Menurutmu mirip apa?”
“Ya pohon, memangnya bisa mirip apa?” Liang Yun makin bingung.
Chen Dao melangkah, berdiri di samping pohon pendek itu, tiba-tiba menegakkan pinggang, berpose aneh, “Pose Jojo!”
Liang Yun tertegun, dua detik kemudian tertawa terpingkal-pingkal.
Chen Dao benar-benar tahu persis titik kelemahan selera humornya yang aneh itu.
“Aduh, apa sih jalan pikiranmu… Aduh, sakit perutku ketawa, tapi memang mirip… Hahahaha…” Liang Yun tertawa sampai mukanya merah dan matanya berkaca-kaca, menepuk pundak Chen Dao sambil membungkuk tak bisa berdiri tegak.
Setelah berjalan cukup lama, mereka duduk berdampingan di rerumputan tepi danau buatan di taman.
Di sekitar mereka banyak pasangan yang duduk berdua, sehingga posisi mereka pun tak tampak aneh.
Obrolan pun berlanjut, bahkan sampai hal-hal yang biasanya tak pernah Liang Yun ceritakan pada sahabat terdekatnya—curahan hati, rahasia, semua perlahan mengalir keluar.
Semakin banyak berbicara dengan Chen Dao, semakin besar kepercayaan Liang Yun padanya.
Secara logika, mereka baru kenal sehari—bahkan kurang dari sehari—tak seharusnya ia begitu terbuka.
Namun naluri dan instingnya berkata, Chen Dao adalah seseorang yang bisa dipercaya, ia ingin dekat dengannya.
Setelah makan malam bersama, Liang Yun memutuskan mengikuti nalurinya.
Sebab cara Chen Dao menikmati makanan, fokus dan kebahagiaannya saat makan, seperti perantau yang akhirnya pulang kampung setelah lama merantau—emosi itu tak bisa dipalsukan.
Seorang pecinta makanan sejati, mustahil punya niat jahat.
Saat sedang menceritakan konflik kecil dengan teman sekamar di asrama dan masalah pergaulan lainnya, Liang Yun tiba-tiba merasa aneh.
Sebab, menurut ritme obrolan mereka sebelumnya, biasanya di saat seperti ini Chen Dao akan langsung menanggapi.
Tapi kini tiba-tiba sunyi, membuat Liang Yun merasa ada yang janggal.
Ia menoleh, dan terkejut mendapati Chen Dao sudah terbaring di rumput, menggunakan lengan kanan sebagai bantal, dan tertidur!
Awalnya ia curiga Chen Dao hanya pura-pura tidur, namun setelah mendekat dan memperhatikan, ia yakin Chen Dao benar-benar tidur.
Lucu rasanya, pikir Liang Yun, orang ini ternyata bisa tidur di mana saja, betapa lelahnya ia? Atau mungkin karena terlalu kenyang, jadi mengantuk?
Liang Yun ingin membangunkannya, tapi melihat tidur Chen Dao yang begitu nyenyak, ia jadi ragu.
Namun setelah menunggu sebentar, mengingat ini masih awal musim semi dan udara malam cukup dingin, ia khawatir Chen Dao kedinginan atau masuk angin, maka ia pun membangunkannya.
Baru disentuh sedikit pada lengannya, bahkan belum sempat digoyang, mata Chen Dao langsung terbuka lebar.
Begitu terbuka, sorot matanya tajam, seperti macan yang hendak memangsa dalam gelapnya malam, membuat Liang Yun terkejut.
Namun begitu Chen Dao melihat wajahnya, tatapan itu langsung melunak, lalu ia berkata,
“Semuanya baik-baik saja, kan?”
“Hah?” Liang Yun bingung.
Chen Dao pun sempat tertegun, lalu duduk dan melihat ke danau buatan di depan, menggaruk kepala, “Aku ketiduran ya?”
“Iya, kok bisa kamu tertidur di sini? Oh ya, ‘semuanya baik-baik saja’ itu maksudnya apa? Kamu barusan mimpi? Mimpi apa?” tanya Liang Yun penasaran.
Chen Dao tertawa, “Aku mimpi kita berdua menyeberang ke dunia lain.”
Liang Yun mendengus, mengira Chen Dao bercanda. Ia pun memutar bola matanya.
Karena Chen Dao sudah tertidur begitu saja, mereka pun tak meneruskan obrolan atau jalan-jalan. Satu orang kembali ke asrama, satu lagi naik bus malam terakhir pulang ke kamar sewaan di bawah tanah.