Bab 6 Pemeriksaan Kesehatan
Pukul delapan malam, tepat pada waktu yang telah disepakati, mobil tua Ford milik He Chi berhenti di depan sebuah vila kecil, yang merupakan sebuah klinik pribadi di kota ini.
Sebenarnya, dengan kemampuan finansial He Chi saat ini, mustahil baginya untuk berobat di klinik pribadi seperti ini. Namun kebetulan, pemilik tempat ini, Tuan Konstantin Duwei, adalah dokter tim sepak bola kampusnya dulu. Hubungan mereka cukup akrab, sehingga He Chi bisa menikmati potongan harga khusus.
Dering bel terdengar. Tak lama kemudian, monitor di sebelah kiri He Chi bergerak, lalu suara seorang pria terdengar dari interkom.
“He, aku di ruang bawah tanah. Turun saja ke bawah, kau tahu jalannya.”
Pintu gerbang terbuka perlahan dengan bantuan mesin. He Chi masuk ke dalam vila, lalu dengan langkah pasti membuka sebuah pintu tersembunyi di sudut dan menuruni tangga.
Terdengar rentetan suara tembakan. He Chi sudah terbiasa dengan hal seperti itu, ia menuruni anak tangga sekitar sepuluh meter dan sampai di sebuah ruangan luas.
Itu adalah lapangan tembak kecil. Seorang pria kulit putih berambut perak, berusia sekitar enam puluh tahun, memegang pistol Colt dan menembak ke arah sasaran bergerak tanpa henti. Satu magasin peluru habis, lalu dalam dua detik, pria itu mengganti magasin dengan satu tangan dan kembali menembak.
Selongsong peluru emas berjatuhan ke lantai, bergulir hingga ke kaki He Chi. Pria berambut perak itu menurunkan pistol, melepas pelindung telinga, lalu berjalan mendekat dan langsung bertanya, “He, ada sesuatu terjadi padamu akhir-akhir ini?”
“Mengapa tanya seperti itu?” jawab He Chi.
“Kau tidak sadar? Biasanya, setiap kali kau datang ke sini dan aku sedang menembak, kau selalu berdiri minimal sepuluh meter jauhnya. Baru kali ini kau langsung mendekat,” kata pria itu sambil melepas jaket menembaknya.
“Memang ada beberapa hal yang terjadi, mungkin sikapku juga berubah,” jawab He Chi sambil menerima jaket itu.
“Oh?” Tuan Konstantin mengangkat alisnya. “Jika itu bukan masalah pribadi, aku ingin mendengar ceritamu.”
Keduanya naik lift kecil ke lantai atas. Dalam perjalanan, He Chi secara singkat menceritakan pengalamannya: terjatuh dari tebing saat mendaki gunung namun selamat secara ajaib, dan kini merasa tubuhnya agak aneh.
Perihal mata uang waktu dan dunia salinan sama sekali tidak ia sebutkan.
“Begitu rupanya, pantas saja,” gumam Konstantin. “Aku pernah belajar psikologi. Seseorang yang mengalami peristiwa antara hidup dan mati, biasanya mengalami perubahan besar secara mental. Dalam agama, ada istilah serupa, apa ya... dun... dun apa gitu?” Konstantin yang berambut perak mengetuk-ngetuk kepalanya, seperti lansia yang berusaha mengingat sesuatu.
“Pencerahan, Pak,” He Chi membantu mengingatkan.
“Benar, itu maksudku!” jawab Konstantin dengan gembira, lalu keluar dari lift dan masuk ke ruang kerjanya, mengambil sebuah buku catatan dari rak.
“Banyak pakar medis, termasuk aku, percaya bahwa esensi kesadaran manusia adalah sinyal listrik. Ketika sinyal itu menghadapi ancaman kematian, akan terjadi fluktuasi hebat yang bisa membawa perubahan tak terduga bagi kehidupan.”
Setelah itu, ia menekan interkom di sampingnya. “Lisa, tolong bawakan satu set pakaian dan alat pengambilan darah ke atas.”
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Seorang gadis tinggi berambut pirang keemasan, tampak membawa baki, masuk ke ruangan.
Usianya sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Saat melihat He Chi, matanya yang berwarna amber langsung bersinar cerah.
“Kakek, kenapa tidak kasih tahu aku lebih dulu kalau He datang? Aku kan bisa ganti sepatu dulu,” kata gadis itu dengan nada sedikit mengeluh.
Konstantin tersenyum, “Tak apa, sayang. Kau sudah sangat cantik sekarang.”
He Chi juga mengangguk ramah, menyapa gadis itu. “Hai, Lisa, apa kabar akhir-akhir ini?”
“Tidak baik, karena waktu itu aku sudah kasih nomorku, tapi kau tidak pernah meneleponku,” jawab gadis cantik itu sambil mengedipkan mata dengan manis.
Lisa, cucu Tuan Konstantin, berusia tujuh belas tahun, duduk di kelas empat SMA, berbakat sekali dalam bidang medis dan kini berperan sebagai perawat di rumah.
Sejak setahun lalu, karena suatu kejadian, Lisa mengenal He Chi dan gadis Amerika itu terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada He Chi.
Namun bagi He Chi, walaupun ia menikmati kebersamaan dengan Lisa, menurut tradisi Tionghoa, gadis itu masih anak-anak. Maka, hubungan mereka hanya sebatas saat berada di rumah ini.
Berbeda dengan pemeriksaan di rumah sakit, Tuan Konstantin yang ahli di bidang kedokteran olahraga menambahkan banyak tes fungsi tubuh dalam prosesnya.
“He, aku harus bilang, kau benar-benar membuatku penasaran,” ujar Konstantin sambil mendorong kacamatanya. “Dibandingkan sebulan lalu, semua indikator fungsi fisik tubuhmu meningkat 3 hingga 7 persen.”
“Mungkin karena akhir-akhir ini aku berlatih lebih giat,” jawab He Chi santai.
“Perhatikan, yang aku maksud semua indikator. Ini sangat jarang, bahkan hampir tidak mungkin terjadi pada atlet profesional, karena sebulan terlalu singkat untuk perubahan sebesar itu.”
Lisa pun menimpali, “Bagaimana kalau kau menginap di sini beberapa waktu? Dengan perubahan tubuh seperti ini, aku bisa menulis makalah ilmiah, lalu kakek bisa membuatkan surat rekomendasi ke universitas, pasti lebih berbobot!”
Tuan Konstantin tertawa senang, ia memang sangat menyukai He Chi dan mendukung sikap cucunya.
“Baiklah, sekarang masuk ke sesi pemeriksaan medis tradisional,” ujar Konstantin sambil membuka sebuah pintu kecil yang memperlihatkan berbagai alat.
Ada pusat pengambilan darah, laboratorium, meja operasi kecil, bahkan mesin CT bekas.
Saat pengambilan darah, Lisa duduk di depan He Chi.
“Lisa, kau yang lakukan? Bukankah kau...” tanya He Chi sedikit ragu.
Gadis berambut pirang itu tersenyum tipis. “Suatu saat aku harus bisa mengatasi ini. Lagipula, cita-citaku menjadi dokter bedah gawat darurat, dan andai pengambilan darah pertamaku dilakukan untukmu, aku akan senang sekali.”
“Tolong, kakekmu ada di sini, jangan bicara dengan cara yang bisa bikin salah paham...”
Setelah disterilkan, jarum pun menusuk lengan He Chi, dan darah merah gelap perlahan mengalir. Namun, semakin banyak darah yang masuk ke tabung, wajah Lisa semakin pucat, meski ia tetap berusaha menyelesaikan tugasnya.
Saat proses sudah dua pertiga jalan, tiba-tiba tubuh gadis itu melemas.
Tuan Konstantin yang sudah siaga segera menopang cucunya, lalu menaruh tabung darah dengan hati-hati dan menghela napas.
Cucunya yang sangat mencintai dunia medis ternyata menderita hemofobia yang cukup parah.
Melihat Lisa yang bangkit lagi dengan wajah kecewa, He Chi hanya bisa diam. Setiap orang memang punya tantangan yang harus dihadapi.
“Hm, selain kadar oksigen darah yang naik, indikator lain tak banyak berubah. Sekarang tinggal satu tes terakhir,” kata Konstantin sambil membuka pintu pelindung radiasi. “Aku akan lakukan CT scan seluruh tubuhmu.”
Suara mesin berdengung. Tak lama, hasil CT yang sangat jelas terpampang di depan mereka.
“Ya ampun!” Lisa menutup mulutnya dengan tangan, sementara dahi Tuan Konstantin langsung berkerut tajam.
Di kepala He Chi, tampak sebuah bayangan sebesar telur burung pada hasil CT.