Bab Empat Puluh Enam: Hidup sebagai Makhluk Gaib
Rena Kujou berdiri terpaku di tempatnya. Dari ujung jarinya, ia merasakan sentuhan lembut dan halus bak sutra. Itu semakin menegaskan bahwa ekor besar berbulu lebat berwarna merah kecokelatan yang kini berada di telapak tangannya bukan sekadar ilusi.
Meski rasanya sangat nyaman, bahkan membuatnya ingin terus membelai... Namun, bukan itu intinya! Mengapa dirinya tiba-tiba memiliki ekor?
Rena Kujou menggigit bibirnya, lalu mencengkeram ekor itu erat-erat. Ia menariknya dengan kuat.
Aduh!
Hampir saja air mata menetes dari matanya. Sakit sekali...
"Pak Shiraishi, apa yang sebenarnya terjadi..." Rena Kujou memegang ekornya, menatap Takashi Shiraishi dengan tatapan penuh kebingungan.
Hm?
Melihat ekor panjang yang bergoyang di tangan Rena Kujou, Takashi Shiraishi juga tertegun. Tadi ia terlalu sibuk memikirkan perubahan Yuko Ishigami, hingga perhatiannya terpecah. Ia benar-benar tak menyadari apa yang terjadi.
Ada sebuah gelombang yang sangat lemah, berbeda dari milik manusia, memancar dari tubuh Rena Kujou.
Ini...
Energi siluman?
Tanpa ragu, Takashi Shiraishi segera berkata, "Kujou-san, jangan bergerak, biarkan aku memeriksa dulu."
"Eh? Baik!"
Meski masih kebingungan, Rena Kujou secara refleks menuruti ucapan Takashi Shiraishi. Ia baru saja menyaksikan sendiri bagaimana monster serangga mengerikan itu dengan mudah dihempaskan oleh satu telapak tangan Takashi Shiraishi. Ucapannya jelas sangat meyakinkan baginya.
Ia merapatkan kedua kakinya yang jenjang, tetap berdiri sambil menahan handuk mandi.
Menunggu Takashi Shiraishi...
Ta-tapi! Bagaimana ia akan memeriksa dalam kondisi seperti ini? Kalau ia bergerak sedikit saja, bukankah semuanya akan terlihat?
Rena Kujou merasa wajahnya memerah hebat, hampir tak bisa bernapas karena malu. Ia akhirnya memberanikan diri untuk berbisik, "Pak Shiraishi, bisakah saya ganti baju dulu..."
"Tidak perlu, sudah cukup," jawab Takashi Shiraishi dengan senyum ringan. "Aku sudah mengerti sebagian besar kondisimu, Kujou-san."
Hah?
Rena Kujou terpaku sesaat, lalu menghela napas lega. Sudah selesai? Meski ia tak tahu apa yang terjadi, rasanya situasinya sangat serius.
Melihat ekspresi Takashi Shiraishi, ia tak dapat menahan diri untuk segera bertanya, "Pak Shiraishi, Anda tahu sesuatu?"
Takashi Shiraishi menatap mata Rena Kujou yang tampak cemas. Ia berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada selembut mungkin, "Kujou-san, pernahkah kau berpikir untuk hidup dengan identitas yang berbeda?"
"Hidup dengan identitas yang berbeda?" Hati Rena Kujou bergetar.
"Misalnya, hidup sebagai siluman?"
Si-si-si... siluman?
Rena Kujou membeku di tempat, seperti batu.
Sepertinya tidak berhasil, pikir Takashi Shiraishi sambil menghela napas. Ia baru saja mengaktifkan pandangan tembus pandangnya, mengikuti aliran energi siluman dalam tubuh Rena Kujou.
Akhirnya, ia melihat ke bagian jantung. Dengan pandangan tembus pandang itu, Takashi Shiraishi dapat melihat di dalam bilik jantung sebuah butiran kristal kecil berwarna merah terang sudah hampir terbentuk sempurna, memancarkan gelombang energi siluman tanpa henti.
Butiran kecil itu tidak asing baginya. Saat membantu Kotaro mengatasi masalah Onikumo, ia tahu bahwa itu adalah inti siluman, yang hanya dimiliki makhluk seperti mereka.
Tak diragukan lagi, tubuh Rena Kujou kini mengalami perubahan karena suatu sebab yang tidak diketahui. Proses itu berjalan secara alami.
Karena perubahan itu, aura Rena Kujou perlahan-lahan berubah menyerupai siluman.
Dengan kata lain, Rena Kujou sedang berubah menjadi siluman.
Namun, berbeda dengan siluman yang pernah ia bersihkan sebelumnya. Energi siluman dalam tubuh siluman di Distrik Meguro penuh dengan dendam dan kebuasan. Sedangkan energi siluman dalam tubuh Rena Kujou sama sekali berbeda. Tak ada efek negatif pada tubuhnya, justru memancarkan kehangatan.
Perasaan ini...
Mungkin, ia akan menjadi siluman yang baik?
Newton pernah berkata, di setiap bidang pasti ada ahlinya. Sepertinya, Kujou-san memang berbakat menjadi siluman.
Tentunya, semua harus berdasarkan keinginannya sendiri. Inilah sebabnya ia menanyakan hal tadi. Jika ia tidak mau menjadi siluman, semuanya sia-sia saja.
Takashi Shiraishi merenung sejenak, lalu berkata, "Kujou-san, sebentar lagi akan ada orang yang datang ke sini. Sebaiknya kau jangan menampakkan diri dulu, dan untuk sementara tinggal di tempat lain."
"Selama masa ini, aku akan berusaha mencari cara untuk mengatasi masalahmu."
Karena Yuko Ishigami sudah berhasil dibersihkan, sudah saatnya ia menghubungi Inspektur Yamato untuk menangani urusan selanjutnya. Tapi kalau Inspektur Yamato tiba dan melihat kondisi Rena Kujou seperti ini, pasti ia akan melaporkannya pada atasan. Akhirnya, besar kemungkinan Rena Kujou akan ditangkap, dijadikan bahan percobaan, dan berakhir di meja bedah...
"Tapi Pak Shiraishi, aku tidak punya tempat lain untuk pergi..." suara Rena Kujou terdengar putus asa.
Dengan penampilan seperti ini, ia tak mungkin lagi muncul di hadapan orang lain.
Melihat itu, Takashi Shiraishi berpikir sejenak dan kemudian mengusulkan, "Bagaimana kalau kau tinggal di kuilku untuk sementara waktu?"
...
Awalnya ia mengira harus bersusah payah membujuk Rena Kujou, tapi ternyata ia hanya perlu menunggu sebentar sebelum gadis itu setuju.
Saat Rena Kujou kembali ke kamar untuk berganti baju, Takashi Shiraishi memeriksa kembali tempat kejadian setelah Yuko Ishigami dibersihkan.
Saat ia menggunakan Telapak Cahaya Suci, ia menyadari satu hal: meski sebagian besar tubuh monster serangga itu menghilang bersama roh Yuko Ishigami, masih ada sedikit bagian yang tertinggal di ruangan.
Tak butuh waktu lama, Takashi Shiraishi menemukan yang ia cari. Sebuah fragmen cangkang keras sebesar ibu jari, berkilau keunguan gelap, tergeletak di sana.
Ia mengambilnya, mengamati dengan saksama.
Serangan Telapak Cahaya Suci barusan hanya berefek pada roh. Ini berarti fragmen cangkang itu bukan produk roh, kemungkinan besar berasal dari tubuh siluman yang menjadi dalang di balik semua ini!
Memikirkan itu, Takashi Shiraishi merasa cukup beruntung. Untung saja ia memilih menggunakan Telapak Cahaya Suci. Kalau ia memakai Telapak Bulan Sabit, fragmen itu pasti sudah hancur lebur ditiup angin.
Ia segera mengaktifkan pandangan tembus pandangnya.
Jika ia bisa mendapatkan frekuensi energi siluman dari fragmen tersebut...
Takashi Shiraishi yakin, ia sanggup menguak keberadaan siluman itu dari seluruh Tokyo!
Namun, lawannya jelas sangat licik. Sepertinya, ia sudah memperkirakan hal ini. Di permukaan cangkang itu, sama sekali tak ada jejak energi siluman yang tertinggal. Upaya anti-pelacakan dilakukan dengan sangat rapi.
Takashi Shiraishi hanya bisa menghela napas dan menyimpan fragmen itu.
Lalu ia menelepon Inspektur Yamato, melaporkan kondisi di sana.
Tak lama setelah telepon ditutup, pintu kamar pun terbuka.
Rena Kujou keluar dengan pakaian kasual gadis remaja. Walau udara mulai dingin, karena ekornya ia hanya bisa memakai rok pendek, menampakkan betisnya yang putih mulus. Dipadukan dengan wajahnya yang malu-malu, ia terlihat sangat memesona.
Ekor itu bergoyang pelan.
Dengan sedikit gugup, ia berkata, "Pak Shiraishi, aku sudah siap. Kita bisa berangkat..."
...
Kuil Tenjitsu.
Sang Dewa berwajah serius. Tubuh mungilnya duduk bersila dengan rapi di aula utama.
Ragu-ragu, jemari rampingnya terulur ke layar ponsel, lalu ditarik kembali.
Ia berpikir hati-hati, berdiri, dan menghilang dari tempat itu.
Ia muncul di depan pintu aula utama.
Melihat Kotaro yang masih kebingungan, ia tersenyum manis.
"Nah, Kotaro, maukah kau meminjamkan kekuatanmu pada Dewa?"
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengangkatnya dalam pelukan.
Kembali ke aula utama, ia menggenggam erat cakarnya, mengarahkannya ke layar ponsel pada gacha di gim.
Cepat, harus segera gacha sebelum Shiraishi pulang...
Kalau sampai ia melihatnya, pasti ia akan bertanya lagi dengan heran, "Yang Mulia, bukankah sudah pernah dikatakan, gacha bisa dilakukan lewat doa saja? Kenapa tidak langsung satu kali dapat yang terbaik?"
Mengingat itu, sang Dewa mendadak kesal.
Dewa ini hanya ingin merasakan asyiknya bermain gim, bukan karena kekuatan doanya kurang!
Saat efek cahaya gacha muncul, layar ponsel memancarkan kilauan terang.
Sang Dewa menutup matanya penuh ketegangan, menenangkan hati dan merasakan dengan sungguh-sungguh.
Entah dari mana, hatinya tiba-tiba bergetar.
Akhirnya... saatnya tiba juga?
Rasanya sangat kuat! Ada kekuatan besar yang bergerak cepat ke arahnya!
Inilah keberuntungan Dewa! Sekali coba langsung dapat!
Sang Dewa membuka matanya dengan penuh semangat.
Wajah yang sangat dikenalnya tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Yang Mulia, aku sudah pulang."