Bab Seratus Tiga Puluh Satu: Menjamin dengan Kehormatan Diri
Setiap malam selalu menyimpan banyak cerita; di tempat yang tak terjamah sinar matahari, iblis dan hantu cenderung berkeliaran.
Huahua duduk gemetar di kursi belakang, keberadaan Chen Dutian di sampingnya membuat sekujur tubuhnya merinding. Namun, saat menatap Lu Feng yang tampak baik hati di kaca spion, ia merasa iba. Ia tidak tahu siapa pemuda itu, tetapi berurusan dengan Paman Wang yang berada di kursi depan berarti ajal telah menanti. Ia pernah melihat sendiri bagaimana Paman Wang menguliti seorang praktisi bela diri; saat kulit itu disayat, si praktisi masih dalam keadaan hidup. Manusia berlumuran darah itu memekik ngeri, suaranya melengking seperti raungan iblis, sebelum akhirnya tewas entah karena rasa sakit yang tak tertahankan atau karena infeksi.
Huahua tak akan pernah melupakan pemandangan itu. Kini, rasa bersalah menyelimutinya. Pemuda ini pun kemungkinan besar tidak akan selamat melewati malam ini.
Chen Dutian membetulkan letak kacamatanya yang tebal, lalu mencengkeram tangan kanan Huahua. Jari-jarinya menyusuri kulit wanita itu, tepatnya mengikuti garis tipis berwarna merah darah yang menjalar dari pergelangan tangan, melewati bahu, hingga ke posisi jantung.
"Bagus, kau sudah terpelihara dengan baik. Tuan Muda akan datang besok. Jika kau bisa membuatnya puas, kau tentu akan mencapai pencerahan. Namun, jika ia tidak puas, kau tahu apa akibatnya."
Huahua merasakan bulu kuduknya berdiri seiring gerakan jemari pria itu, hingga akhirnya, jantungnya berdegup kencang. Ia berasal dari barat daya, tempat di mana Gunung Miao berada. Meski ia hanyalah orang awam, ia sering mendengar legenda tentang Tuan Muda dari sana. Penduduk barat daya menganggap Gunung Miao sebagai tanah suci, dan dulu ia pun berpikiran sama, sampai akhirnya ia menginjakkan kaki di Kota Shanghai dan pandangannya perlahan berubah.
Huahua tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi ia yakin itu bukanlah sesuatu yang baik. Hatinya terasa hampa, ia hanya tidak menyangka harus menyeret nyawa orang asing ke dalam malapetaka ini.
...
Di bawah cahaya lampu jalan yang berwarna kuning redup, segalanya tampak lembut. Lu Feng berdiri di bawah lampu tersebut, sosoknya terlihat tidak berbahaya. Wajahnya yang tampan dan tenang, ditambah ekspresi santai serta pembawaannya yang seperti mahasiswa, membuatnya tampak semakin polos.
"Dijadikan kulit manusia?"
Paman Wang mengeluarkan sebuah kait dari balik punggungnya, lalu berkata dengan sabar, "Bukan dijadikan kulit manusia, melainkan menguliti tubuhmu untuk dijadikan karya seni. Tenang saja, teknik menguliti saya sangat rapi, tidak akan ada sobekan yang sia-sia pada kulitmu."
"Menguliti, saya paham. Jadi Anda dokter spesialis sirkumsisi?" Lu Feng bertanya dengan wajah serius.
Otot wajah Paman Wang berkedut. Ia terdiam sejenak lalu berkata, "Lupakan saja, bicara denganmu tidak ada gunanya."
"Kalian berasal dari barat daya?" tanya Lu Feng tiba-tiba.
Paman Wang mengangguk secara refleks, namun ia segera tersadar dan merasa ekspresi pemuda ini ada yang tidak beres.
"Di tubuh Nona Huahua itu ada teknik yang kalian tanamkan. Saya bisa merasakan itu adalah ilmu yang sangat jahat."
Paman Wang memusatkan perhatian. Rantai kait di tangannya berdenting, ia mulai bersikap serius. "Saya tidak menyangka kau seorang praktisi. Chen Dutian berulang kali memperingatkan saya agar tidak membuat kekacauan di Shanghai. Ternyata kota ini memang banyak praktisi, bahkan ada yang semuda dirimu..."
"Namun, kau terlalu muda. Dan muda berarti kultivasimu rendah."
Lu Feng berpikir sejenak, "Sepertinya begitu, saya baru mulai berlatih dua bulan yang lalu."
"Dua bulan..." Paman Wang tertawa terbahak-bahak. Perutnya tampak menggembung seolah terisi udara, lalu ia mengembuskan napas panjang hingga perutnya kembali kempis. "Benar-benar praktisi yang masih hijau, anak sapi yang baru lahir tidak takut pada harimau."
"Muda itu berarti..."
"Bodoh!"
Tiba-tiba, tubuh Paman Wang melesat seperti helai daun musim gugur. Meskipun gemuk, gerakannya sangat ringan, membuat Lu Feng sempat curiga apakah tubuh pria itu hanya berisi gas, bukan daging dan darah. Paman Wang bergerak di sekitar Lu Feng secepat angin, meninggalkan bayangan di udara. Di bawah lampu jalan, bayangannya pun tampak berputar-putar.
"Bocah, jika kau tidak mengaku sebagai praktisi, mungkin kau bisa membunuhku saat aku lengah. Sayangnya, kau terlalu percaya diri dan terlalu cepat membongkar rahasiamu."
"Karena itulah saya bilang kau bodoh."
Kait itu diayunkan. Karena kecepatannya yang luar biasa, kait tersebut seolah menyerang dari segala arah. Angin menderu, seakan ingin merenggut cahaya lampu kuning itu. Detik berikutnya, Paman Wang melihat Lu Feng mengangkat tangan dan mencengkeram kaitnya, atau lebih tepatnya, kait itu seolah terbang sendiri ke tangan Lu Feng.
Saat ia tersadar, sebuah kepalan tangan sudah berada di depan matanya.
*Bugh!*
"Bagaimana mungkin?"
Ia terhempas ke tanah, membuat jalan beton retak. Guncangan hebat membuat organ dalamnya bergeser, pandangannya berkunang-kunang.
"Karena saya jauh lebih kuat darimu, jadi segala tindakanmu hanyalah kesia-siaan."
Paman Wang terbatuk hebat. Lu Feng menginjak dadanya, dan ia bisa mendengar tulang rusuknya mulai retak satu per satu.
"Mustahil, kau baru berlatih dua bulan, bagaimana mungkin sudah mencapai tingkat ketiga alam pembuka cahaya?"
Ia secara naluriah menganggap Lu Feng berada di tingkat ketiga alam pembuka cahaya karena mampu mengalahkannya. Lu Feng jelas tidak ingin terjebak dalam perdebatan itu, ia bertanya, "Sekarang katakan, untuk apa kalian menculik Huahua?"
Wajah Paman Wang memerah. Ada sedikit penyesalan, namun tidak ada rasa takut. "Saya sarankan kau lepaskan saya. Saya berasal dari Gunung Miao, barat daya."
Melihat ekspresi Lu Feng, ia segera menyadari bahwa praktisi muda ini mungkin belum pernah mendengarnya, maka ia buru-buru menambahkan, "Gunung Miao di barat daya adalah tanah suci bagi para praktisi dan orang awam! Kami memiliki ratusan praktisi, pengikut yang tak terhitung jumlahnya, bahkan Biro Penyelidik Khusus pun tidak berani macam-macam dengan kami."