Bab Dua Puluh: Demi Sekilas Lupa ini
Setelah Guan Moxin melepas kertas perkamen itu, ia sudah ketakutan sampai-sampai memejamkan mata erat-erat.
“Kenapa? Bukankah kau sangat ingin tahu apakah kakak perempuanmu benar-benar sudah mati? Mengapa sekarang kau tak punya keberanian untuk membukanya? Apa yang kau takutkan?” Suaranya serak dan berat saat ia berbicara padanya.
Jantungnya berdebar kencang, sama seperti ketika ia berlari. Dengan sangat hati-hati, ia membuka matanya dan memandang bingkai foto di tangannya, seketika ia tertegun.
Di dalam bingkai itu, terdapat foto seorang lelaki—lebih tepatnya, seorang pria tua. Ia menengadah, menatapnya dengan heran.
“Itu ayahku. Ayahku meninggal tadi malam karena serangan jantung.” Ia berbicara tanpa ekspresi, lalu mengambil bingkai foto duka itu dari tangannya.
“Kalau begitu, bagaimana dengan kakakku?” tanyanya dengan linglung, debar jantungnya pun tak lagi sedahsyat tadi.
Ia menatap dalam-dalam pada pria bermata tajam dan berhidung mancung dalam foto itu. Jari-jarinya yang panjang membelai wajah Lei Wenhao di foto, lelaki yang mirip ibunya. Namun, ibunya telah meninggal ketika ia berumur dua puluh enam tahun. Sejak saat itu, Lei Wenhao tidak pernah menikah lagi. Tapi semua itu tidak berarti ayahnya adalah pria yang setia. Ia membenci ayahnya.
“Aku adalah satu-satunya anak lelakinya.” Wajahnya menjadi suram, menundukkan mata, “Dia sudah tiada.”
Ia membelalakkan mata, baru menyadari bahwa lelaki itu tidak sedang mendengarkannya, melainkan tenggelam dalam dunianya sendiri. Orang dalam foto itu adalah ayahnya? Ia belum pernah melihat ayahnya, bahkan setelah menikah pun, ia belum pernah bertemu ayah Lei Changhao. Bagi Guan Moxin, Lei Changhao adalah sebuah misteri.
“Aku dengar kau meminta Zhou Ruiming untuk mengurus pemakaman ayahmu. Bukankah hal seperti itu seharusnya kau lakukan sendiri?” Ia menelan ludah, bertanya dengan hati-hati.
“Aku membencinya!” tiba-tiba ia membentak, matanya kelam, tangannya pun mengepal erat.
“Kenapa?” Ia tak bisa menahan diri untuk bertanya. Meski setelah ayahnya menikahi Du Congrong, sikap ayahnya pada mereka berdua sudah tak sebaik dulu, ia tak pernah membenci ayahnya—bahkan ketika ayahnya meminta ia menggantikan kakaknya menikah dengan Lei Changhao.
Ia memalingkan muka, tetap memegang erat bingkai foto itu. Dua bara hitam tampak membakar di matanya. “Mana mungkin dia pantas buat ibuku? Kalau bukan karenanya, ibuku takkan pergi secepat itu. Tahu tidak? Dulu dia membawa seorang anak pulang, bilang pada ibuku anak itu adalah anak temannya yang orang tuanya meninggal karena kecelakaan, kasihan, jadi dibawa pulang untuk diasuh. Tapi sebenarnya, anak itu bukan anak temannya, melainkan anak yang dia dapat dari perempuan lain di luar sana. Ibu membesarkan anak itu dengan susah payah, baru tahu setelah belasan tahun kalau itu ternyata anak suaminya sendiri hasil dari perselingkuhan. Ibuku tak kuat menerima kenyataan itu, akhirnya depresi dan meninggal. Aku pernah bersumpah, jika ayahku mati, aku takkan meneteskan air mata sedikit pun.”
Ia terkejut, mulutnya ternganga. “Jadi maksudmu, Yuqing bukan adik kandungmu?”
Ia menyadari dirinya telah bicara terlalu banyak. Semua ini belum pernah ia ceritakan pada siapa pun, kecuali Guan Moxiang—dulu ia mengira Guan Moxiang adalah orang yang paling mengerti dirinya. Namun kini, ia bahkan menceritakannya pada adik Guan Moxiang. Ia melemparkan bingkai foto itu ke samping, merasa pikirannya seolah disingkap orang lain. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluknya erat-erat, merasakan tubuhnya yang kurus kecil berjuang dalam pelukannya.
“Kakakmu sepertinya belum meninggal.” Bibirnya singgah sejenak di bulu mata lebatnya, lalu berbisik pelan. Ketika ia merasakan perlawanan gadis itu tak lagi sekuat tadi—mungkin karena duka kehilangan ayah, atau mungkin untuk menutupi perasaan yang tak sengaja terpampang barusan—ia mencium gadis itu dengan panas membara. Mungkin hanya dengan cara itu, ia bisa melupakan segalanya walau hanya sekejap...