Bab Delapan Belas: Segala Harapan Sirna
Keesokan harinya, asisten Lei Canghao kembali datang ke vila. Saat ia melihat Zhou Ruiming di lorong, ia teringat bahwa pria ini adalah orang yang pernah melaporkan kabar tentang kakaknya kepada Lei Canghao di ruang kerja. Hatinya seketika kembali dicekam kegelisahan.
Ia menyaksikan Zhou Ruiming masuk ke ruang kerja Lei Canghao. Tiba-tiba, tumbuh rasa ingin tahu yang begitu kuat tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Ia merasa pasti Zhou Ruiming sedang menyelidiki keberadaan kakaknya.
Diam-diam, ia menempelkan telinga di samping pintu untuk menguping, namun suara di dalam sangat teredam, tak satu pun percakapan yang dapat ia tangkap. Kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari dalam ruangan. Dengan cepat ia menyingkir ke salah satu kamar di dekat situ, perlahan membuka celah pintu untuk mengintip.
"Ya, saya sudah bicara dengan pihak rumah sakit."
"Tidak menyangka dia pergi begitu tiba-tiba."
"Sore ini akan saya suruh orang mengangkut semua barang-barangnya."
"Baik, untuk saat ini cukup. Urus segala hal setelah kepergiannya."
"Mengerti, Tuan Lei."
Tubuhnya langsung gemetar, jantung seolah diremas kuat-kuat. Orang yang mereka bicarakan tak lain adalah kakaknya. Ternyata semua ini memang benar. Kakaknya telah tiada! Darah seperti mengalir deras dari kepalanya, tubuhnya kaku seketika. Ketika mimpi buruk itu benar-benar menjadi kenyataan, ia merasakan kepedihan perlahan-lahan merayap, meresap ke dalam setiap pembuluh darahnya. Kakak yang tumbuh bersamanya sejak kecil, kini benar-benar sudah tiada. Ia lebih rela percaya bahwa kakaknya jatuh cinta dengan pria lain lalu membatalkan pernikahan, daripada menerima kenyataan bahwa kakaknya telah meninggal.
Saat Zhou Ruiming keluar, ia mendapati dirinya berdiri kaku di tempat, wajahnya pucat pasi penuh duka. Namun Zhou Ruiming tak menghentikan langkah, ia langsung menuju ke bawah. Barulah ia seperti tersadar dari lamunan, bergegas turun dan menahan lengan Zhou Ruiming.
"Maaf, saya adalah istri Lei Canghao. Saya ingin bertanya, apakah Anda tahu tentang keberadaan kakak saya?"
"Kakak Anda?" tanya Zhou Ruiming dengan ragu, menatapnya.
"Kakak saya bernama Guan Moxiang, saya Guan Moxin. Setiap kali Anda datang, Anda selalu menyebut nama kakak saya. Apakah Anda punya kabar tentangnya?" Suaranya nyaris menangis, penuh kecemasan dan ketakutan yang sulit diungkapkan.
Zhou Ruiming menatap wajahnya yang pucat, seolah hendak menyembunyikan sesuatu. "Maaf, Nyonya Lei, saya tidak mengenal kakak Anda."
"Anda pasti tahu," bisiknya, nada suara ditekan, matanya gelisah melirik ke atas, takut Lei Canghao tiba-tiba muncul. "Kakak saya sekarang di Hong Kong, bukan? Dia belum meninggal, kan? Anda pasti tahu di mana dia."
"Nyonya Lei, maaf, saya benar-benar tidak tahu. Jika Anda ingin tahu di mana keberadaan kakak Anda, sebaiknya Anda langsung bertanya pada Tuan Lei," Zhou Ruiming menjawab, menatap lurus ke depan tanpa tergoyahkan. Dia adalah tangan kanan Lei Canghao, orang yang paling dipercaya. Tidak mungkin ia membocorkan hal-hal yang tidak ingin diketahui Lei Canghao oleh orang lain.
Mendengar itu, air mata berkaca di matanya. Dengan suara penuh permohonan dan keputusasaan ia berkata, "Maaf, saya tahu pertanyaan saya lancang. Tapi saya hanya punya satu kakak. Tolong, bisakah Anda memberitahu saya dia ada di mana?" Ia menggigit bibir dengan keras. "Atau, katakan saja, apakah dia masih hidup atau sudah tiada?"
Zhou Ruiming tampak tak mendengar permohonannya, langkahnya justru semakin cepat. Ia buru-buru mengejar hingga ke pintu utama.
"Anda juga pasti punya keluarga. Satu-satunya keluarga yang saya punya hanya kakak. Kenapa Anda tak bisa memberitahuku?" Ia memegang lengan Zhou Ruiming erat-erat, matanya digenangi kesedihan mendalam.
Zhou Ruiming menunjukkan ekspresi serba salah, tak mampu melepaskan diri dari genggamannya, pun tak tahu harus berkata apa.
"Nyonya Lei, sekeras apa pun Anda memaksa, saya memang benar-benar tidak tahu siapa kakak Anda. Jika Anda ingin tahu jawabannya, tanyakanlah langsung pada Tuan Lei. Saya harus pergi sekarang." Akhirnya ia berhasil melepaskan diri dan pergi tanpa menoleh lagi.
Air mata mengalir diam-diam di pipinya, dan ia merasa tenggelam dalam jurang keputusasaan tanpa dasar. Kakaknya sudah tiada, semua harapan dan upayanya runtuh seketika. Meski masih ada ayah kandung di dunia ini, namun sosok ayah itu pun bukan lagi seperti yang ia kenal. Satu-satunya yang menyayanginya, kakak perempuannya, sudah pergi. Segala kepedihan menyesak di dada, ia terisak tanpa henti, dan saat mendongak, ia melihatnya.
Lei Canghao berdiri tak jauh, menatapnya dengan dingin.