Bab Sepuluh: Penghinaan
Guan Moxing sama sekali tidak menyangka bahwa kedatangannya ke keluarga Lei bukanlah untuk mati di tangan Lei Changhao, melainkan hampir kehilangan nyawa di tangan adiknya sendiri, Yuqing. Ketika ia merasa kesadarannya perlahan terlepas dari tubuhnya, di saat genting itu, perasaan tercekik tiba-tiba lenyap, dan kesadarannya kembali ke benaknya. Ia jatuh terduduk di lantai dengan lemas, dan pandangannya pun menjadi jelas. Ia melihat Lei Changhao sedang menyeret Lei Yuqing yang seperti orang gila menjauh darinya, hingga akhirnya menghilang di ambang pintu.
Ia berusaha bangkit dari lantai, masih diliputi ketakutan. Saat ia belum tahu harus berbuat apa, Lei Changhao kembali mendekat dengan tergesa-gesa. Begitu pintu dibanting dengan keras, pandangan mereka pun bertemu.
“Aku sudah bilang padamu, Yuqing hanyalah seorang pasien, kenapa kau masih mengusiknya?” Wajah Lei Changhao tampak bengis dalam remang cahaya, suaranya penuh amarah.
“Aku tidak mengusiknya, justru dia yang datang ke kamarku…”
“Aku hanya punya satu adik perempuan!” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kedua mata Lei Changhao yang membara itu menatap tajam ke arahnya. “Aku memperingatkanmu, jangan ganggu dia lagi. Aku baru saja menjemputnya dari rumah sakit, aku tidak ingin dia kembali ke sana! Mulai sekarang, jika kau bertemu dengannya, lebih baik kau menjauh! Dan, apakah tadi kau menyebut nama Xuanming di depannya?”
“Xuanming?” raut wajahnya berubah drastis.
“Benar, nama Tang Xuanming adalah hal terlarang di keluarga kami, lebih baik kau jangan pernah menyebutnya di depan Yuqing!” Wajah Lei Changhao tampak kelam. “Jika aku tahu lagi kau bicara hal-hal yang tidak pantas di depan adikku, aku tidak akan memaafkanmu! Dan juga soal kakakmu…”
Tubuhnya menegang, darah serasa mengalir keluar dari seluruh tubuhnya.
“Apa yang akan kau lakukan pada kakakku?”
“Aku sudah tahu keberadaan kakakmu…”
“Jangan pernah sakiti kakakku!” katanya dengan suara gemetar.
“Maka sebaiknya kau perlakukan Yuqing dengan baik. Kalau tidak, melihat keadaan kakakmu sekarang, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan kulakukan!” Lei Changhao mengangkat dagunya yang runcing, seberkas kilatan dingin melintas di matanya.
“Kalau begitu, bisakah kau memberitahuku, apakah kakakku benar-benar ada di Hong Kong?” tanyanya pelan.
“Aku bukan hanya tahu dia di Hong Kong, aku juga tahu di mana dia tinggal.” Tatapan Lei Changhao menelisik wajah itu. Ia benar-benar mirip sekali dengan Guan Moxiang, kadang-kadang ia sampai salah mengira keduanya.
“Aku… aku ingin mencari kakakku,” ujarnya lirih sambil berkedip, bulu matanya yang hitam dan lentik bergetar, sorot matanya jernih menatapnya tanpa berkedip. Sejak kakaknya menghilang, ia sudah beberapa malam berturut-turut dihantui mimpi buruk. Kini setelah mendengar kakaknya baik-baik saja, hatinya pun sedikit tenang.
Lei Changhao sempat tertegun. Memang benar ia tahu Guan Moxiang ada di Hong Kong, bahkan sudah mengutus orang untuk mencarinya, namun hingga kini belum juga menemukan di mana tepatnya ia tinggal. Guan Moxiang sudah dua minggu meninggalkan tempat itu menuju Hong Kong, dan dari data imigrasi pun, ia belum keluar dari sana.
Lei Changhao berjalan melewatinya, lalu duduk diam di tepi ranjang.
“Aku benar-benar ingin bertemu kakakku. Aku janji, begitu bertemu dengannya, aku akan segera kembali!” Suaranya lembut, mirip dengan suara Guan Moxiang, mengalun pelan ke telinga Lei Changhao.
Sudut bibir Lei Changhao sedikit terangkat, ia menyesuaikan posisi duduknya, lalu menatap ke luar jendela ke arah pohon bunga kenanga yang setengah tertutup tirai. “Jangan pernah lagi membicarakan orang itu di depanku!”
“Tapi…” Ia masih berusaha, “Aku benar-benar ingin bertemu dengannya.”
“Kau ingin menemuinya?” Tatkala Lei Changhao mengangkat wajahnya, ekspresinya sudah membeku. “Apa hebatnya dia sampai kau ingin menemuinya? Hanya karena dia kakakmu? Tidakkah kau membencinya sedikit pun? Dia telah melakukan ini padamu, pergi begitu saja, sementara kau, tanpa alasan, harus menikah denganku, dan aku juga tiba-tiba punya seorang istri lagi. Apakah kau tidak marah pada kakakmu?”
“Aku ingin menemuinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi!” Ia menggigit bibirnya pelan, kedua pipinya dengan sendirinya bersemu merah. “Jika kakak pergi, pasti ada alasannya. Kakak tidak pernah menyakitiku, selama ini dia selalu melindungiku, menyayangiku…”
“Cukup!” hardik Lei Changhao, wajahnya memerah, urat di keningnya menonjol, tinjunya mengepal tanpa sadar. “Berhenti menyebut-nyebut kakak! Apa bagusnya dia jadi kakakmu? Bukankah dia sudah cukup mempermainkanmu? Aku peringatkan, jangan pernah lagi menyebut nama kakakmu di depanku, Guan Moxiang itu perempuan tak tahu malu!”
Kata-katanya terasa menampar telinga, tubuhnya pun mulai bergetar halus. Kakaknya yang hanya dua tahun lebih tua darinya, sejak ia lahir, ibunya telah pergi, dan kakaknya yang selama ini menjaganya bak seorang ibu. Saat kecil, ia selalu membuntuti kakaknya ke mana pun. Dulu, pengasuh yang menjaga mereka sering memarahi mereka jika ayah tidak ada di rumah, dan kakaknya selalu memeluknya sambil menangis. Kakak sebaik itu, bagaimana mungkin bisa menjadi perempuan hina seperti yang dikatakan Lei Changhao?
“Besok aku akan kembali bersamamu, menyerahkan uang sepuluh juta itu langsung kepada ayahmu!” Suara Lei Changhao di belakangnya terdengar tegas dan dingin, menusuk ke dalam hatinya.