Bab Enam Belas: Saling Muak Saat Saling Memandang
Alis Liu Baobao terangkat. Mengapa Li Hongye pulang begitu cepat? Sepertinya telah terjadi sesuatu yang penting.
Liu Baobao keluar dari gudang dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, sembari menampilkan senyum lebar.
“Apa yang kaulakukan di gudang?”
Begitu melihat Liu Baobao, Li Hongye mengernyitkan dahi.
Mengapa perempuan ini baru hari pertama sudah menyelinap ke gudang?
Ia hendak bertanya, tetapi teringat bahwa ada para prajurit di sana, sehingga menahan emosinya. Namun, siapa pun dapat melihat bahwa Li Hongye benar-benar sedang tidak senang.
Pemimpin rombongan prajurit hanya meliriknya dengan dingin.
“Jenderal Li, panggil keluargamu untuk menerima titah kekaisaran!”
Begitu ucapan itu selesai, Li Hongye dan Liu Baobao segera berlutut dengan patuh.
“Dengan mandat Langit dan titah Kaisar, diumumkan bahwa Sheng Jincu, putri Guru Negara, memiliki hati yang penuh kasih, luhur, anggun, dan berbudi. Ia telah menyumbangkan mas kawinnya untuk menggalang dana militer, menyediakan pakaian dan makanan bagi para prajurit Kerajaan Dayou. Kebajikan semacam ini patut menjadi teladan bagi seluruh perempuan Dayou. Hati kami sangat terharu. Dengan ini, Kementerian Militer diperkenankan menerima mas kawin Sheng Jincu sebagai milik negara dan segera mengirimkannya ke perbatasan. Demikian titah ini disampaikan.”
Setelah membacakan titah tersebut, pemimpin rombongan mengibaskan tangannya. Para prajurit Pengawal Kekaisaran pun berbondong-bondong memasuki gudang. Berbekal daftar mas kawin yang diberikan Sheng Mingyi saat sidang pagi, mereka mulai mengangkut seluruh barang keluar.
“Apakah Sheng Jincu sudah gila?”
Liu Baobao tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Sheng Jincu begitu saja menyumbangkan uang sebanyak itu?
Lalu, bagaimana nasib Kediaman Jenderal kelak? Bagaimana dengan uang miliknya sendiri?
Li Hongye buru-buru membekap mulut Liu Baobao.
Ia sendiri juga merasa sangat tidak senang, tetapi jika ucapan itu sampai terdengar oleh Kaisar, kariernya akan hancur.
Lebih baik ia menahan diri untuk sementara. Setelah itu, ia akan menjemput Sheng Jincu yang bodoh dan gemuk itu, lalu memaksanya mencari cara untuk mengembalikan seluruh uang tersebut!
Keributan besar di luar membangunkan Nyonya Li yang tengah meringkuk di ruang Buddha.
Entah mengapa, semalam ia terus mengalami mimpi buruk dan baru dapat memejamkan mata ketika fajar menyingsing.
Baru saja tertidur, ia kembali dibangunkan oleh keributan.
Begitu mendengar bahwa gudang sedang mengalami masalah, ia segera berlari ke sana. Dari kejauhan, ia melihat Liu Baobao memegang dua perhiasan kepala bertatahkan batu giok. Seketika wajahnya berubah pucat kebiruan.
“Dasar perempuan tak tahu malu! Baru datang sudah mengincar isi gudang!”
Begitu selesai berteriak, ia melihat para prajurit menggotong peti-peti berisi emas keluar satu demi satu.
Saat hendak mencegah mereka, Li Hongye maju dan menjelaskan semuanya.
Nyonya Li langsung terduduk di tanah sambil meraung-raung, “Sungguh kemalangan bagi keluarga ini! Mengapa kami menikahi perempuan pembawa sial seperti itu? Harta yang begitu banyak tidak disimpan baik-baik, malah disumbangkan kepada orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan kita!”
Begitu ucapan itu terlontar, sebilah pisau tajam yang berkilau langsung menempel di leher Nyonya Li.
Ucapannya jelas merupakan penghinaan besar: pertama, penghinaan terhadap Kaisar; kedua, penghinaan terhadap pemerintahan; ketiga, penghinaan terhadap para prajurit yang menjaga perbatasan.
Karena itu, para prajurit menahannya. Jika ia berani mengucapkan sepatah kata penolakan lagi, ia akan langsung dihukum menurut hukum militer.
Nyonya Li terkejut dan pingsan.
Para prajurit bekerja dengan cepat. Tak lama kemudian, mereka selesai menghitung seluruh mas kawin. Selain uang yang menurut keterangan Sheng Jincu telah dibelanjakan sendiri, ternyata masih banyak perhiasan dan barang hias yang hilang. Mereka pun memerintahkan Li Hongye untuk segera menggantinya.
Li Hongye mengertakkan gigi. Perhiasan dan barang-barang hias itu, paling tidak, bernilai puluhan ribu tahil. Belum lagi emas yang diam-diam telah dipindahkannya. Untuk menutup kekurangan tersebut saja, ia harus mengeluarkan dua puluh ribu tahil.
Namun, karena titah Kaisar telah turun, Li Hongye tidak berani menunda. Ia hanya dapat memohon kepada pemimpin rombongan prajurit agar diberi kelonggaran waktu.
Prajurit itu hanya menjawab, “Jika ada yang hendak kausampaikan, sampaikan langsung kepada Kaisar!”
Setelah para prajurit pergi, Li Hongye tak mampu lagi menahan amarahnya.
Uang yang begitu banyak lenyap begitu saja!
Bagaimana mereka akan menjalani hari-hari berikutnya?
Sebagai seorang jenderal, berapa banyak uang yang ia peroleh setiap bulan?
Selama ini, kemewahan Kediaman Jenderal sepenuhnya bergantung pada mas kawin Sheng Jincu.
Perempuan bodoh itu telah menyumbangkan mas kawinnya. Lalu, dengan apa Kediaman Jenderal akan makan dan minum kelak?
Apakah mereka harus hidup dari angin utara?
Hatinya dipenuhi kebencian!
Karena tidak memiliki tempat untuk melampiaskan amarah, ia pun membentak Liu Baobao dengan keras, “Uang yang dahulu kuhabiskan untukmu, sekarang harus kaukembalikan!”
Kediaman Jenderal pun kembali dilanda keributan.
Setelah sadar, Nyonya Li dibujuk dan diberi penjelasan panjang lebar oleh Li Hongye. Ia diberi tahu dengan tegas bahwa jika uang yang harus dikembalikan tidak cukup, Li Hongye akan kehilangan kepalanya.
Nyonya Li terpaksa mengembalikan barang-barang berharga yang diperolehnya dari Sheng Jincu, lalu menambahkan sejumlah besar uang dari hartanya sendiri.
Perhiasan dan simpanan pribadi Liu Baobao pun turut dikeluarkan, tetapi masih belum mencukupi.
Saat itu, Liu Baobao benar-benar menyesal setengah mati!
Siapa sangka Kediaman Jenderal yang tampak begitu megah ternyata sepenuhnya bertahan hidup dari mas kawin Sheng Jincu?
Kini, setelah uang Sheng Jincu lenyap, Kediaman Jenderal ternyata dapat jatuh miskin separah ini.
Tampaknya, ia harus segera memikirkan masa depannya sendiri!
Ketika Li Hongye sedang kebingungan dan kewalahan, rombongan lain datang. Mereka mengaku berasal dari Balai Amal. Kemarin, mereka mendengar sang jenderal berkata di jalan bahwa ia hendak menyumbangkan uang untuk membagikan bubur, sehingga mereka datang untuk mengambil dana tersebut.
Liu Baobao langsung meledak.
“Li Hongye, uang kemarin itu kausendiri yang bersikeras hendak berikan! Saat itu aku menggendong Ruyan di tengah kerumunan, tetapi kau bahkan tidak melirikku!”
Setelah berkata demikian, Liu Baobao menangis tersedu-sedu.
Li Hongye merasa semakin jengkel dan tidak ingin meladeninya.
Tak lama kemudian, seorang pengurus dari Kementerian Militer datang. Ia mengatakan bahwa kemarin Li Hongye telah menyampaikan hal tersebut di jalan dan banyak rakyat mendengarnya. Li Hongye disebut hendak menyumbangkan tiga ribu tahil perak untuk pembangunan wilayah tandus di barat laut, sehingga pengurus itu datang untuk mengambil uangnya.
Tangisan Liu Baobao semakin keras!
Tubuh Li Hongye bergetar hebat. Beberapa hari sebelumnya, hidupnya masih begitu nyaman. Bagaimana mungkin hanya dalam semalam ia tiba-tiba menanggung utang sebanyak ini?
Ditambah lagi suara tangisan Liu Baobao, Li Hongye merasa semakin kesal.
Dua orang yang dahulu saling mencintai dan saling mempercayai itu, hanya dalam waktu dua hari, telah muak satu sama lain.
Li Hongye berdiri.
“Aku akan menjemput Sheng Jincu kembali. Kediaman Jenderal kita masih membutuhkan dia untuk mengurus semuanya!”