Bab 5: Tubuh Suci Pemahaman Alamiah
Dengan setengah hati, Wu Tianqi akhirnya memberikan nomor QQ Jiang Banxia kepada Li Yang, sekaligus nomor ponselnya. Soal Li Yang bilang sudah menghapus QQ Wang Manqi? Mati pun dia tidak percaya!
“Aku kasih tahu, ya. Kalau kau berani mendekati Jiang Banxia, Liu Dayou pasti tidak akan membiarkanmu begitu saja. Dengar nasihat kakak, si penyihir kecil itu sudah lumayan, kok.”
Ada satu hal yang tidak diucapkan Wu Tianqi.
Bagaimana kalau benar-benar berhasil menaklukkannya? Siapa yang tahu, mungkin saja Jiang Banxia akan suka pada tipe Li Yang yang urakan tapi menawan itu.
Kegagalan sahabat memang membuat simpati, tapi kalau sahabat benar-benar berhasil, rasanya bisa bikin iri sampai hilang akal.
“Aku cuma mau tanya soal pelajaran sama dia kok.”
Wu Tianqi melirik kesal, “Sudah kuduga, cowok-cowok cakep sepertimu memang lihai soal perempuan. Alasan konyol seperti itu pun masih bisa kau pikirkan.”
Mau belajar sungguh-sungguh sekarang? Itu sama saja dengan kakek-nenek umur delapan puluh sembilan puluh baru nikah; niat ada, tapi tenaganya sudah tak cukup.
Soal tegas, cuma kebagian satu suku kata, ‘gas’.
Lagi pula, pikirannya penuh Wang Manqi, bagaimana bisa belajar?
“Hehe, targetku adalah Qingbei.”
Wu Tianqi panik.
Dia sadar, dia telah meremehkan ketebalan muka Li Yang.
Demi mendekati Jiang Banxia, omongan soal lulus Qingbei pun bisa dia karang. Melihat ekspresi serius Li Yang, sepertinya dia sendiri pun percaya pada kebohongannya.
Menipu diri sendiri? Ini jelas bakat alami seorang playboy!
Dia punya firasat, tak lama lagi, Li Yang pasti bisa gandengan tangan dengan Jiang Banxia keliling taman kecil sekolah.
Dasar bajingan!
Saat itu, dia melihat Li Yang sudah menambahkan QQ Jiang Banxia, sayangnya Jiang Banxia sedang tidak melihat ponsel.
Namun Li Yang segera mengirim pesan.
“Jiang Banxia, aku Li Yang. Ada satu soal matematika yang aku kurang paham, boleh tanya kamu?”
Pesannya cukup jelas, mungkin Jiang Banxia mengaktifkan getar.
Wu Tianqi melirik ke arah Jiang Banxia, melihat dia mengeluarkan ponsel dan menoleh ke belakang.
Beberapa detik kemudian, balasan Jiang Banxia pun datang.
“Nanti guru matematika akan mengulas soal ujian, kamu bisa tanya ke guru saat itu.”
Wu Tianqi ikut mengintip dari samping, balasan seperti itu membuatnya puas.
Tetapi detik berikutnya, Li Yang sudah mengetik lagi:
“Kalau guru pun kesulitan, kan sering tanya ke kamu. Kalau nanti guru tidak bisa jawab, bukankah itu akan mengurangi waktu teman-teman lain untuk bertanya? Ujian masuk perguruan tinggi tinggal sebulan, setiap detik sangat berharga. Setiap detik guru terbuang karenaku, rasanya tidak adil untuk teman-teman lain.”
Wu Tianqi: “???”
Apa ada orang yang bisa ngomong seperti ini?
Jiang Banxia pasti tidak akan terpancing dengan kata-kata semu seperti itu, begitu menjijikkan!
Dia menatap ke arah Jiang Banxia. Dari samping, terlihat Jiang Banxia sedikit mengernyit.
Bagus, memang seharusnya begitu, kata-kata menjijikkan macam itu bisa bikin orang muntah. Blokir saja nomornya!
Ah... Tapi wajah Jiang Banxia dari samping memang cantik sekali...
Terdengar suara di samping, Wu Tianqi menoleh, lalu...
Dia melihat Jiang Banxia membalas, “Kalau begitu, tunggu saja sampai pulang sekolah, sebentar lagi pelajaran dimulai.”
Li Yang: “Tak perlu, terima saja permintaan QQ-ku, nanti aku kirim foto soal ke kamu. Soal ini sangat sulit, kurasa hanya kamu yang bisa jawab di kelas.”
Jiang Banxia: “Baik, oke.”
Wu Tianqi: “???”
Apa yang baru saja terjadi?
Ini masih masuk akal?
Tepat saat itu, bel masuk berbunyi, guru matematika datang membawa kertas ujian simulasi, Wu Tianqi buru-buru kembali ke tempat duduknya.
Tetapi hatinya gelisah, seperti ada semut merayap di badan.
Dia mengeluarkan buku catatan kecil, menulis semua kalimat yang baru saja dikatakan Li Yang.
Begitulah, selama satu jam pelajaran, dia menganalisa semuanya.
Dibaca dari segala sudut, isi percakapan itu hanya mengandung satu makna: muka tebal.
Sejak awal, Li Yang sudah memuji Jiang Banxia dengan berkata, bahkan guru pun suka bertanya kepadanya.
Apa kehormatan tertinggi bagi seorang pelajar? Tentu saja, diterima di Qingbei.
Tapi dalam keseharian, kehormatan tertinggi adalah jika guru saja sampai harus bertanya soal padanya.
Lalu, demi membuat Jiang Banxia menambah QQ-nya, Li Yang dengan penuh kesadaran berkata, hanya Jiang Banxia di seluruh kelas yang bisa menyelesaikan soal itu.
Bagi seorang jenius, mana mungkin menolak tantangan yang datang?
Jika bisa menjawab, berarti hebat. Kalau tidak bisa, tidak masalah, toh dari awal sudah dibilang soalnya sangat sulit.
Semua jalan sudah disiapkan, siapa yang bisa menolak?
Cih! Menjijikkan sekali!
Dia diam-diam menulis semua pelajaran berharga selama satu jam itu di atas kertas.
Apa yang dijelaskan guru matematika? Satu pun tidak masuk ke telinganya.
Tapi menurutnya, pelajaran kali ini sangat berarti.
Dia merasa tercerahkan!
Saat bel pulang berbunyi, seluruh sekolah jadi ramai.
Siang hari memang libur, tapi malam tetap ada kelas tambahan untuk semua kelas, demi segera memberi tahu hasil ujian simulasi, supaya semua siswa tahu kekurangannya di bulan terakhir ini.
Wu Tianqi berniat mengingatkan Li Yang soal urusan mencuri bola basket, tapi belum sempat mendekat, dia melihat Li Yang sudah membawa buku, langsung duduk di sebelah Jiang Banxia.
Sebelumnya, teman sebangku Jiang Banxia, Liu Meng, sudah turun duluan ke kantor guru untuk mengamankan tempat duduk.
Wu Tianqi ikut mendekat, dan mendengar Jiang Banxia berkata, “Soal tadi sebenarnya tidak sulit, guru sudah sering membahasnya, hampir semua teman di kelas bisa.”
Wu Tianqi jadi tertarik, dia kira kali ini Li Yang bakal gagal. Jiang Banxia jelas-jelas hanya ingin membahas soal, tidak memberi kesempatan sedikit pun.
Li Yang terlihat agak kecewa, “Mungkin karena aku ketinggalan pelajaran terlalu banyak. Sebenarnya ingin belajar lagi, tapi banyak hal yang benar-benar tidak kumengerti.”
Wu Tianqi yang sudah hampir sampai pintu, mendengar ini lalu berhenti.
Menurutnya, Li Yang pasti sudah membaca maksud Jiang Banxia dan memutuskan menyerah.
Tapi kemudian Jiang Banxia melirik kertas coretan di tangan Li Yang, bertanya, “Ada soal lain yang mau ditanyakan?”
Li Yang mengangguk, “Ada, tapi sepertinya soalnya mudah, tidak mau mengganggu kamu ikut pelajaran tambahan. Aku coba pikir sendiri saja di rumah.”
Jiang Banxia sendiri tidak mengerti kenapa, tiba-tiba merasa bersalah.
Padahal dia tidak salah apa-apa.
Dia melihat penyesalan dan kegelisahan di wajah Li Yang.
Dia menyesal tidak belajar sungguh-sungguh sebelumnya? Menyesal waktunya sudah tidak banyak?
Tiba-tiba, dia sadar, kata-katanya tadi mungkin terlalu keras bagi Li Yang.
Sudah lebih dari dua tahun dia tidak belajar dengan benar; di kelas tidur atau bolos.
Soal-soal itu memang sulit baginya.
Mungkin seharusnya dia tidak berkata seperti itu.
“Li... Li Yang... Kalau ada soal yang tidak bisa, boleh tanya aku kapan saja.”
Li Yang menoleh dengan sedikit malu, “Bukankah kamu mau ke kantor guru? Wali kelas pasti tidak akan membiarkan murid sepertiku mengamankan tempat duduk.”
Jiang Banxia tersenyum, matanya hampir berbinar, “Tidak apa-apa, di sebelahku masih ada satu tempat kosong, asal kamu bawa kursi sendiri saja.”
Baru satu langkah keluar kelas, tubuh Wu Tianqi bergetar.
Dia... merasa tercerahkan lagi!