Bab 11: Misteri Lukisan Dewi

Kakak Gila Jejak Dewa yang Menghilang 3729kata 2026-02-08 18:19:08

“Li Mingsong?”

Tang Yuanshan tercengang, berpikir cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Tidak pernah dengar. Naik mobil, pulang.” Di keluarga Tang masih banyak masalah yang menunggu untuk diselesaikan: menenangkan keluarga korban yang meninggal, urusan keluarga Su Bei Lie dan keluarga Su. Mana sempat ia meladeni karyawan yang bahkan namanya saja belum pernah ia dengar?

Serombongan mobil pun melaju pergi dengan megahnya.

Li Mingsong berdiri termangu di tempat, tadinya ia ingin sedikit pamer di depan warga komplek, tapi ternyata Direktur Tang sama sekali tidak mempedulikannya. Seketika hatinya terasa hampa.

Orang-orang yang melihat kejadian itu pun tak tahan untuk menahan tawa.

“Pak Li, bagaimana ceritanya? Ditolak mentah-mentah ya?”

“Pak Li, sakit hati nggak tuh?”

Li Mingsong pura-pura sibuk menatap ponsel, menggeser layar seolah-olah tak mendengar. Mereka malah sengaja mengeraskan suara, “Pak Li, kenapa tuh, main HP kok tangannya gemetar?” “Pak Li, kenapa mukanya jadi merah padam?”

Li Mingsong terpaksa membelalakkan mata dan membalas, “Kalian tahu apa, bos itu justru sedang melindungi saya. Orang hebat negara besar mana bisa sembarangan tampil di depan umum?” Lalu ia pun bergumam sendiri, melontarkan kata-kata seperti ‘diam-diam menjenguk saya’, ‘tiga puluh juta’, ‘KPI’, ‘OKR’, ‘manajer wilayah’, membuat orang-orang sekitarnya merasa semakin kagum tanpa benar-benar paham.

Sesampainya di rumah, Li Mingsong langsung menjatuhkan diri ke sofa, tampak seperti orang yang baru saja kehilangan satu juta.

“Kamu kan mau ketemu bos besar, kok sudah pulang?” tanya Song Zhi heran melihat suaminya. “Ada apa? Atau bos besar menegur kamu?”

“Nggak juga. Malah saya berharap beliau menegur saya. Nyatanya, beliau sama sekali tidak melirik saya,” jawab Li Mingsong dengan perasaan campur aduk.

“Itu karena bos belum bisa melihat permata sejati. Suamiku sehebat ini, nanti pasti akan diperhatikan,” hibur Song Zhi. Kemudian ia melanjutkan, “Sudah, sudahlah, jangan terlalu kecewa. Kurasa Xiao Chen juga sebentar lagi sampai. Jangan cemberut terus, nanti dikira kita punya banyak utang yang belum lunas. Ibu tanya, Bingbing kapan pulang?”

“Sebentar lagi. Setahuku mereka seharusnya sudah selesai kerja. Mungkin sekarang sedang di jalan.” jawab Li Mingsong. “Tapi, istri, aku sarankan kamu jangan terlalu sering berhubungan dengan kakakmu itu. Kamu kan tahu sendiri keluarga mereka sekarang bagaimana? Kalau sampai menarik perhatian Su Bei Lie, jabatan manajerku bisa-bisa hilang. Nanti cicilan rumah, mobil...”

Nada Li Mingsong penuh kekhawatiran.

Baik Li Mingsong maupun Song Zhi memang tidak tahu urusan antara keluarga Tang dan keluarga Su. Song Fangling sengaja tidak memberi tahu mereka agar tidak membuat mereka khawatir. Mereka hanya tahu bahwa Su Bei Lie telah menggunakan tipu muslihat untuk menyingkirkan ayah Su dan merebut harta keluarga Su.

Sekarang Su Bei Lie punya kedudukan tinggi, caranya licik. Sedikit saja ia bermain, pekerjaan Li Mingsong bisa hilang seketika.

Selama bertahun-tahun, Li Mingsong memang selalu khawatir akan diincar oleh Su Bei Lie.

“Tenang saja, masih ada aku. Klinik pengobatan yang aku kelola juga rame. Kamu nggak kerja pun aku masih bisa menafkahi keluarga,” kata Song Zhi dengan senyum lembut. “Su Bei Lie sehebat apapun, rasanya tidak akan berdampak ke klinik kecilku, kan?”

Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ponsel Song Zhi berdering. Ia mengangkat telepon dan sedikit terkejut, “Xiao Chen, kamu di depan pintu? Baik, Ibu bukakan sekarang!”

Dengan wajah sumringah, Song Zhi segera beranjak ke pintu.

Li Mingsong tetap duduk di sofa, menyilangkan kaki sambil mengambil koran di sebelahnya dan mulai membacanya.

“Tante!”

Sebuah suara ceria terdengar. Su Beichen, dengan wajah yang begitu dikenalnya dalam ingatan, tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putih bersih.

“Xiao Chen!” Song Zhi pun girang bukan main. “Cepat, masuk, biar Tante lihat. Baru empat tahun, kamu sudah tambah tinggi, badan juga makin kekar…”

“Benarkah? Haha.” Su Beichen melangkah mengikuti Song Zhi masuk ke ruang tamu. Ia pun menyapa Li Mingsong yang duduk dengan setelan jas rapi dan kacamata bingkai hitam.

“Beichen, sini duduk.” Li Mingsong tidak berdiri, hanya sekilas melirik Su Beichen lalu kembali membaca koran.

Sebagai manajer menengah di Grup Dataran Agung, yang biasa ia temui meski bukan pejabat tinggi atau konglomerat, minimal para pemilik bisnis bernilai jutaan atau anak orang kaya. Ia sudah sering berjumpa anak-anak muda berbakat, jadi pandangannya pun tinggi. Baru melirik sekali, ia sudah memberi penilaian dalam hati—tidak ada apa-apanya!

Dari penampilan, sikap, dan latar belakang keluarga, ia menilai Su Beichen sangat jauh dibandingkan dengan orang-orang yang biasa ia temui. Bagaikan bulan dan kerikil.

Sikap Li Mingsong sangat berbeda dibanding dengan kehangatan Song Zhi, bahkan basa-basi pun hampir tidak ada.

Setelah Song Zhi masuk ke dapur, suasana jadi sepi. Akhirnya Li Mingsong bertanya, “Beichen, keluarga kamu dulu juga cukup baik, ibumu orangnya jujur, adikmu juga mahasiswa Universitas Jinling, masa depan masih panjang. Kamu sendiri, ada rencana apa setelah pulang?”

Tujuan utama Su Beichen tentu saja adalah meniti jalan keabadian. Kekayaan dan kekuasaan duniawi tidak ada artinya dibandingkan dengan jalan kultivasi. Tapi hal itu terlalu mustahil untuk dijelaskan, bahkan ibunya sendiri saja takkan percaya, apalagi orang lain.

Jadi ia hanya tersenyum, “Sementara ini belum ada rencana pasti.”

“Oh.” Minat Li Mingsong terhadap Su Beichen langsung berkurang lagi, hanya basa-basi. Namun ia lalu menasihati, “Ayahmu dulu pernah meniti jalan bela diri, bagaimana kalau kamu coba latihan di perguruan silat, siapa tahu punya bakat? Kalau bisa jadi pendekar, setidaknya bisa jadi pengawal orang kaya, setahun pun bisa dapat seratus juta. Selama ini ibumu sudah cukup berat, sendiri membiayai adikmu, masih harus keluar uang mencari kabar kamu dan ayahmu. Kalau bisa membantu, bantulah sedikit, paham?”

Su Beichen bisa merasakan nada meremehkan dari Li Mingsong, ia pun tidak ingin berbicara lebih jauh, hanya menjawab, “Tentu saja, saya akan berusaha membantu.”

Li Mingsong tersenyum dan tidak melanjutkan. Toh ia hanya basa-basi saja, menjadi pendekar itu bukan perkara mudah.

Ruang tamu pun kembali hening.

Su Beichen memanfaatkan kesempatan itu untuk memusatkan pikiran, memeriksa barang peninggalan gurunya, lalu kesadarannya masuk ke dalam ruang lingkup cincin Dimensi.

Di dalam cincin itu, selain pedang Ungu Hijau, ada setumpuk surat perjanjian pernikahan, serta dua belas jenis pil. Enam di antaranya adalah untuk kultivator—salah satunya yang ia berikan pada Tang Yuanshan—meski agak berlebihan, tapi baginya tidak masalah. Pil-pil itu sudah terlalu sering ia konsumsi selama tiga tahun, bagi orang lain itu adalah harta karun, baginya sudah tidak berharga.

Enam jenis lain, lima di antaranya adalah pil untuk menyembuhkan luka dan penyakit, satu lagi ialah Pil Umur Panjang—orang biasa bisa memperpanjang umur lima tahun sekali makan, penderita penyakit berat seperti kanker stadium akhir, bisa memaksa memperpanjang hidup dua tahun.

Selain itu, masih ada berbagai macam jimat, resep pil, dan teknik latihan.

Setelah itu, tidak ada lagi.

Ia lalu memindahkan kesadaran ke lautan pikirannya. Di sana, tergambar sebuah lukisan bidadari. Disebut begitu karena memang bergambar seorang wanita luar biasa cantik, bak peri langit, melayang di antara langit dan bumi, sangat hidup. Sekali melihatnya saja, Su Beichen hampir tenggelam dan sulit melepaskan diri.

“Benar-benar benda ajaib, tapi juga misterius. Bahkan guruku, Dewa Awan Ungu, pun tak tahu fungsinya apa.” Ia pun memutuskan untuk membiarkannya dulu, selain itu ada tiga jimat pelindung, tak ada yang perlu diteliti.

Sebenarnya ia ingin mencari sesuatu untuk menyembuhkan kanker ibunya, tapi setelah mencari-cari, ternyata tidak ada. Ia harus mencari cara lain.

Begitu membuka mata, Su Beichen pun mengeluarkan tiga jimat pelindung dari cincin Dimensi.

Saat Song Zhi selesai di dapur dan keluar, ia pun memecah keheningan, “Tante, Paman, saya juga bingung mau bawa oleh-oleh apa, jadi khusus saya dapatkan tiga jimat pelindung untuk kalian.”

“Wah, terima kasih, Xiao Chen. Kamu baik sekali,” Song Zhi senang menerima jimat itu, “Pulang ke rumah sendiri, tak usah repot-repot bawa oleh-oleh.”

Sambil bicara, ia juga menyerahkan satu pada Li Mingsong yang dengan terpaksa menerima, dalam hati menggeleng. Oleh-oleh macam apa ini, diberi saja lebih baik tidak. Zaman sekarang, ahli fengshui atau peramal yang benar-benar hebat sangat sulit dicari, Su Beichen mana mungkin bisa mendapatkan sesuatu yang bagus? Oleh-oleh seadanya begini pun diberikan.

“Jimat pelindung ini bisa mengusir bala dan menolak bencana. Dipakai terus bisa mengurangi risiko masuk angin, flu, dan penyakit lain, juga bisa menambah semangat. Kalau bertemu makhluk jahat, bisa melindungi diri,” jelas Su Beichen.

“Ayah, Ibu, aku pulang!”

Tiba-tiba pintu terbuka.

Seorang wanita masuk, mengenakan seragam pramugari merah, menarik koper kecil, riasan tipis, tubuh tinggi semampai, setidaknya 175 cm.

Wajahnya adalah gabungan kelebihan Song Zhi dan Li Mingsong: mata besar, hidung mancung, bulu mata lentik, ada kesan eropa di parasnya, sangat cantik. Kekurangannya mungkin hanya bagian dada yang tidak terlalu besar, hanya B+, tapi itu pun tak mengurangi pesonanya.

Dia adalah putri Li Mingsong dan Song Zhi, Li Bingbing. Dari penampilannya, jelas pekerjaannya adalah pramugari.

Saat kecil, hubungannya dengan Su Beichen masih baik. Dengan kepergian Su Beichen empat tahun, berarti mereka sudah hampir lima tahun tidak bertemu. Li Bingbing lebih tua setahun, kini berusia dua puluh satu.

Melihat Su Beichen, Li Bingbing tidak terlalu terkejut. Hari itu memang ia dipanggil pulang oleh ibunya untuk melihat sepupunya yang menghilang selama empat tahun. Lima tahun tak jumpa, kini mereka sudah punya dunia dan teman masing-masing, tidak lagi sedekat dulu. Li Bingbing hanya tersenyum secara profesional, menyapa sekadarnya, lalu masuk ke kamar.

Tak lama, ia keluar dengan pakaian santai, rok panjang yang membuatnya tampak seperti selebriti.

“Ayah, Ibu, nanti aku mau pergi lagi. Hari ini kru pesawat ada acara makan bersama. Mereka ngotot aku harus datang. Beichen, maaf ya.”

“Tak apa, kerjaan memang penting. Lain kali kita pasti sempat bertemu lagi,” jawab Su Beichen.

Li Bingbing hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih lanjut. Ia tidak berpikir harus banyak berhubungan dengan Su Beichen. Lima tahun sudah berlalu, keluarga Su sudah jatuh, sedangkan keluarga Li justru berkembang pesat: ayahnya manajer di Grup Dataran Agung, ia sendiri kerja di maskapai penerbangan, ibunya punya klinik pengobatan yang laris.

Menurutnya, keluarga Li sedang naik daun, sedangkan keluarga Su? Paling-paling hanya Su Yan yang masih lumayan, Su Beichen sendiri tidak istimewa. Dunia mereka sudah berbeda.

Bukan ia bermaksud pilih-pilih, hanya saja pergaulan memang berbeda, buat apa dipaksakan?

“Bingbing, bukankah perusahaanmu sedang membuka lowongan? Bagaimana kalau Xiao Chen dicoba?” Song Zhi yang baru saja mendengar obrolan di antara Su Beichen dan Li Mingsong tadi, ingin membantu.

“Ibu, yang menentukan rekrutmen kan bukan aku. Aku cuma pramugari biasa, lagi pula persyaratannya juga ketat, harus sesuai latar belakang pendidikan dan keahlian.”

Li Bingbing tampak agak tak berdaya.

“Tak usah repot-repot, Bingbing,” sahut Su Beichen cepat, takut merepotkan. “Urusan kerja aku bisa atur sendiri. Kalian tahu Tang Yuanshan? Dia temanku, cukup berpengaruh juga. Cukup satu kata saja, urusan kerja bisa langsung selesai. Barusan pun dia yang mengantar aku kemari.”

Begitu ucapan itu keluar.

Seketika, Li Mingsong, Li Bingbing, dan Song Zhi serempak menoleh ke arahnya. Suasana pun langsung hening.